Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Kaghati, Layang-layang Tradisional dari Sulawesi Tenggara

Kaghati dari Sulawesi Tenggara (https://lppks.org)

Sewaktu kita kecil mungkin pernah bermain dengan layang-layang baik di pekarangan rumah, di pematang sawah, dan lain sebagainya.

Layang-layang pertama di Indonesia itu bernama Kaghati, sebuah layang-layang khas suku Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Hal itu dibuktikan dengan adanya lukisan tangan manusia di dalam sebuah gua.

Kaghati di Gua Ceruk Sugi, Desa Liang Kobori

Lukisan tersebut berada di Gua Ceruk Sugi Patani, Desa Liang Kobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Propinsi Sulawesi Tenggara, lukisan itu menggambarkan seseorang yang sedang bermain layang-layang. Lukisan dalam gua itu terbuat dari oker. Itu merupakan campuran antara tanah liat dengan getah pohon.

Permainan layang-layang (Kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna.

Kaghati akan diterbangkan (https://fauzihisbullah.wordpress.com)

Bahan

Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran daun kolope (daun gadung) yang telah kering kemudian dipotong ujung-ujungnya. Satu per satu daun tersebut dijahit agar setiap helai daunnya bisa menyatu, sebagai rangka layangan terbuat dari lidi bambu, dan talinya dijalin dari serat nenas hutan. Untuk membuat satu buah Kaghati dibutuhkan banyak daun, yakni sekitar 100 lembar daun.

Lembaran daun kolope (daun gadung) telah dijahit (https://oldlook.indonesia.travel)

Sebaran

Permainan Layang-layang tradisional (Kaghati) ini sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara.

Noken, Tas Tradisional Papua

Noken (https://www.kompasiana.com)

Noken yaitu tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Papua biasanya menggunakannya untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar. Karena keunikannya yang dibawa dengan kepala, noken ini di daftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia dan pada 4 desember 2012 ini, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai Warisan Kebudayaan Tak Benda UNESCO. "Pengakuan UNESCO ini akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat."

Beragam Noken

Tas Noken ini sendiri asli buatan mama-mama di Papua, tas tradisional Noken ini sendiri memiliki simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi masyarakat di tanah Papua terutama kebanyakan di daerah Pegunungan Tengah Papua seperti suku Mee/Ekari, Damal, Suku Yali, Dani, Suku Lani dan Bauzi.

Simbul Kedewasaan

Yang menarik dari Noken ini adalah hanya orang Papua saja yang boleh membuat Noken. Membuat Noken sendiri dahulu bisa melambangkan kedewasaan si perempuan itu. Karena jika perempuan papua belum bisa membuat Noken dia tidak bisa dianggap dewasa dan itu merupakan syarat untuk menikah. Dahulu Noken dibuat karena suku Papua membutuhkan sesuatu yang dapat memindahkan barang ke tempat yang lain. Tapi sekarang para wanita di Papua sudah jarang yang bisa membuat Noken padahal itu adalah warisan budaya yang menarik.

Bahan

Noken terbuat dari bahan baku kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan. Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken yang berukuran besar dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak. Sedangkan yang berukuran kecil digunakan untuk membawa barang-barang pribadi. Keunikan Noken juga difungsikan sebagai hadiah kenang-kenangan untuk tamu dan dipakai dalam upacara.

Gadis cilik ini selain mengenakan noken seperti biasa, disangkutkan diatas kepala, juga memakai nokennya sebagai baju kelihatan indah sekali dipakainya (taken by Liza Monalisa) - https://www.kompasiana.com

Pembuatan

Membuat Noken cukup rumit karena tidak menggunakan mesin. Kayu tersebut diolah, dikeringkan dan kemudian dipintal menjadi benang. Variasi warna pada Noken dibuat dari pewarna alami. Proses pembuatannya bisa mencapai 1-2 minggu, untuk Noken dengan ukuran besar, bisa mencapai 3 minggu. Di daerah Sauwadarek, Papua, masih bisa kita temukan pembuatan Noken secara langsung. Harga Noken disana relatif murah, antara Rp.25.000-Rp.50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya.

Multiguna

Tas Noken ini sendiri memiliki ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang berukuran besar yang biasa dipakai oleh mama-mama yang bekerja sebagai petani dan mampu mengankat bahan hasil bumi yang cukup berat dengan menggunakan tas noken ini, dan uniknya lagi ini digunakan dengan memakai jidat atau bagian depan kepala mereka dengan mengalungkannya ke arah belakang punggung mereka, dan untuk tas noken yang berukuran kecil biasa dipergunakan oleh siswa-siswa pelajar asli putra-putri daerah Papua untuk dipergunakan sebagai tempat buku dan keperluan belajar di bangku sekolah maupun di kampus.

Fungsi Noken sangat beragam. Namun, Noken biasa dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, sampai barang-barang belanjaan. Noken yang kecil biasa dipakai untuk membawa kebutuhan pribadi. Tak hanya itu, Noken juga dipakai dalam upacara dan sebagai kenang-kenangan untuk tamu.

Sumber: Wikipedia

Ubrug, Teater Rakyat Banten

Ubrug mang Canthel  (https://mylentera.com)

Kesenian teater rakyat yang sepadan dengan menampilkan keaktoran yang penuh lawakan berkembang di daerah dan suku bangsa di seluruh Indonesia, seperti hanya di Betawi dengan Lenongnya, Jawa Barat dengan Longser-nya, Jawa Tengah dengan Ketoprak-nya, Jawa Timur dengan Ludruk-nya. Dari semua bentuk kesenian teater rakyat di daerah-daerah, terbentuknya kesenian tersebut merupakan hasil dari asimilasi kesenian keraton dan kesenian masyarakat yang berbaur lintas geografis, berkembang sesuai dengan karakter daerahnya.

Arti Istilah

Istilah ubrug diambil dari bahasa Sunda yaitu saubrug-ubrug yang artinya bercampur baur. Dalam pelaksanannya, kesenian ubrug ini kegiatannya memang bercampur yaitu antara pemain atau pelaku dengan nayaga yang berada dalam satu tempat atau arena. Namun ada pendapat bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug yang artinya apa yang ada atau seadanya dicampurkan, maksudnya yaitu antara nayaga dan pemain lainnya bercampur dalam satu lokasi atau tempat pertunjukan.

Dalam Kamus Bahasa Sunda, kata ubrug berarti sebagai bangunan darurat, tempat bekerja sementara untuk beberapa hari saja, misalnya untuk kepentingan hajatan atau pesta. Kemudian kata tersebut digunakan sebagai nama kesenian, mungkin karena pada masa lalu pemain Ubrug suka berpindah-pindah tempat dan membuat bangunan sementara manakala mereka mengadakan suatu pertunjukan. Orang-orang kemudian menyebutnya sebagai pemain Ubrug, pemain yang tinggal di tempat darurat.

Lain halnya dengan pendapat Mutia Kasim (dalam Walidat, 1997), yang menyebutkan bahwa ubrug diambil dari kata ngagebrug. Dalam pertunjukan Ubrug, semua pemain, baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, beserta para penonton sama-sama menempati satu tempat pertunjukan atau sagebrug (bahasa Sunda).

Kesenian ubrug sering diistilahkan dengan topeng. Ada dua pendapat tentang kesenian ubrug apabila dikaitkan dengan kesenian topeng. Pendapat pertama, kesenian ubrug tidak sama dengan kesenian topeng. Pendapat kedua, kesenian ubrug konon sama saja dengan topeng. Hanya saja, istilah ubrug digunakan di wilayah-wilayah yang menggunakan bahasa Jawa Banten, sedangkan istilah topeng digunakan di wilayah-wilayah budaya Sunda.

Buku tentang Ubrug (https://nimusinstitut.blogspot.co.id)

Sejarah

Untuk memberikan keterangan mengenai sejarah pertunjukan ubrug (topeng), perlu penggambaran periodesasi untuk mempermudah menulusuri sumber-sumber yang diperoleh dari zaman-ke zaman. Periode ini di mulai dari zaman kesultanan, zaman kekuasaan kolonial, dan zaman kemerdekaan. Periodisasi seni peran tradisional itu dilakukan untuk mempermudah interpretasi perkembangan pertunjukan kesenian ubrug.

1. Ubrug Zaman Kesultanan

Data tertulis tertua yang menerangkan tentang seni peran ada dalam naskah Sejarah Banten yang di ceritakan oleh Sandimaya dan ditulis oleh Sandisastra mengenai pertunjukan raket (seperti wayang orang) dan Calung, keterangan ini tertulis dalam Pupuh Sinom bait ke 21- 23. Hélène Bouvie dalam bukunya ‘Seni Musik Dan Pertunjukan Dalam Masyarakat Madura, menjelaskan bahwa Raket adalah sejenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan tarian dan nyanyian sewaktu sewaktu menumbuk padi. Kemudian dijadikan tarian keraton selewat-lewatnya pada abad ke 14. Menurut satu hipotesis lainnya asal-usulnya adalah topeng kecil.

Dari keterangan naskah tersebut di atas, menjelaskan mengenai pesta turun tanah Pangeran Anom atau Pangeran Surya (Sultan Ageng Titayasa) yang masih balita yang sangat dicintai oleh Kakeknya, Sultan Abul Mufakhir Abdul Kadir Kenari. Dalam pesta tersebut semua pemain berasal dari golongan keraton maupun dari orang asing, tampilannya sendiri berbentuk drama tari.

Pada pertunjukan raket, tiap-tiap adegannya dibagi secara runtut, sesuai dengan pakem pertunjukan. Susunan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Jejer sepisan: adegan kerajaan jawa / panji. pada adegan ini sebelum para penari berdialog, dalang mengucapkan janturan yang menggambarkan sifat keadilan raja yang memimpin negaranya dengan makmur dan adil. (gending angleng atau kalem)
b. Grebeg jawa: pengembaraan panji (gending angleng atau kalem)
c. Jejer kapindo: adegan di kerajaan sabrang (gending setro atau agak keras)
d. Grebeg sabrang: adegan pengelanaan raja klono bersama para patih untuk mencari putri yang akan dinikahi atau menaklukkan kerajaan lain. (gending gondo boyo atau keras)
e. Perang grebeg: pertemuan antar panji dengan kerajaan sabrang (gending gondo boyo atau keras)
f. Jejer katelu: adegan pertapaan / kerajaan lain. (gending angleng atau kalem)
g. Potrojoyo-gunung sari (gending pedhat atau biasa)
h. Adegan ulangan kerajaan pertama
i. Jejer kalima: perang besar antar kedua kerajaan (gending gondo boyo atau keras)

Pada zaman Sultan yang ke 4 kesultanan Banten, mulai digambarkan dalam sejarah mengenai bentuk kesenian Banten walaupun tidak serinci secara lengkap seperti data-data tertulis yang ada di daerah lain. Namun demikian keterangan yang singkat ini dapat memecahkan kebuntuan masa lalu kesenian di Banten. Di gambarkan dalam naskah tersebut bentuk kesenenian antara lain: Gamelan Sakati, dan goong. Digambarkan adanya keriuhan dari suara kendang yang saling bersahutan pada acara Sasapton. Upacara Sasapton ini merupakan ungkapan kegembiraan dari Sultan Abul Mufakhir Abdul Kadir atas kelahiran cucunya. Sehinga diadakan sebuah pesta besar-besaran setiap hari Sabtu di depan Keraton Surosowan, dan yang menjadi Nayaga dari kalangan para ponggawa. Hal ini dimungkinkan, karena di keraton Surosowan terdapat ruangan untuk alat-alat kesenian yang disebut Panayagan.

2. Ubrug Zaman Kolonial

Sementara itu sumber lain yang menggambarkan kesenian ubrug (topeng) digambarkan oleh Thomas Stamford Raffles dalam perjalanan dinasnya ke Nusantara dan mendokumentasikan kehidupan masyarakat di Pulau Jawa dari tahun 1776-1813 yang ditulis dalam bukunya The History of Java, menjelaskan tentang pertujukan kesenian topeng dan lawakan. Topeng merupakan kesenian masyarakat yang biasa di pentaskan untuk hiburan pesta panen dan acara perkawinan, dengan mengedepankan komedi atau lawakan oleh para pemainnya.

Diceritakan pula mengenai pertunjukan oleh Rafles, seorang aktor yang menjadi tokoh komedinya dengan mementaskan idiom-idiom kebodohan sang aktor, seperti orang idiot, lenggak-lenggok mengikiti irama yang mengalun selama pertunjukan berlangsung.

Banyak digambarakan bentuk pertunjukan kesenian yang biasa ditampilkan dimasyarakat maupun di masyarakat kota keraton, oleh pelancong Eropa yang singgah di Jawa khususnya Banten, antara lain: drama, topeng, lawakan, berbagai pertunjukan wayang dan lain-lain.

Bahkan digambarkan pula oleh Ahmad Djayadiningrat dalam catatan dinasnya selama menjadi pejabat pemerintahan sejak asisten kewedanaan (setingkat camat) hingga menjadi bupati. Bahwa masyarakat sekitar daerah yang dipimpinnya itu gemar mengadakan acara hiburan rakyat seperti topeng, jaipong, reog, jaran bilik dan lain-lain. Bentuk hiburan ini sering terjadi keributan oleh para penontonnya. Kendati demikian masyarakat tetap menyelenggarakan hiburan rakyat tersebut. Hal inilah sehingga ada perintah larangan beberapa jenis pertunjukan rakyat.

Sumber-sumber yang detail mengenai pertunjukan seni pertujukan tidak banyak diketemukan di Banten, sehingga penulis menulusuri jejak-jejak kelompok yang pernah terkenal pada zamannya. Akan tetapi tidak banyak pula informasi yang di dapat dari lapangan.

3. Ubrug Zaman Pra dan Pasca Kemerdekaan

Ubrug (www.youtube.com)

Sejarah secara tradisional dianggap sebagai cerita atau catatan yang obyektif mengenai masa lalu. Akan tetapi, kita mulai menyadari bahwa sejarah tidak lepas dari bias-bias. Kesadaran seperti itu ditangkap dalam New Historicism, sebuah teori sejarah dengan pandangan kultural. New Historicism menganggap bahwa sejarah itu subyektif, dan sejarah adalah interpretasi masa lalu, bukan masa lalu itu sendiri (lihat Basuki:2003). Dari berbagai tempat yang dikujungi tidak banyak informasi tentang sejarah ubrug itu sendiri, bahkan tahun didirikannya pun masih meraba-raba dengan menyebutkan kejadian yang pernah terjadi pada saat itu. Sehingga beberapa asumsi muncul untuk mengetahui tahun berdiri komunitas tersebut. Namun demikian dari data-data lisan yang didapat kiranya dapat memberikan gambaran mengenai asal-usul kesenian tradisional khususnya ubrug atau lebih dikenal oleh para pelaku dengan sebutan topeng.

Historis Ubrug pada zaman-zaman tersebut di atas, adalah periode yang paling gelap secara tertulis yang mendeskripsikan pementasan ubrug. Penelitpun diharuskan banyak terjun langsung ke grup-grup ubrug terkini untuk menelusuri mata rantai yang terputus, alhasil banyak informasi berserakan di tengah masyarakat. Informasi itu pun hampir seluruhnya lisan.

Kondisi ini pun ditemui ketika peneliti mengunjungi kelompok Cantel dan Tolay, hanya sedikit informasi yang didapat mengenai keberadaan Ubrug di masa lalu. Menurut Sarmani dari grup Cantel yang sudah malang-melintang di dunia Ubrug dan Jaipongan sejak tahun 60-an, sejarah munculnya grup Ubrug hanya bias dipindai mulai dari munculnya grup Ubrug Ican, Sani, Jambul, Ibo, sekitar tahun 1950-an.

Kelompok Ican, Sani, Jambul, dan Ibo ini diprediksikan aktif pada tahun 1900-1935. Sementara kelompok yang Sarmani ketahui pementasannya antara lain kelompok Ponah, Entus, Sendok, Kasmadi, Abe dan Awang. Dia juga memperkirakan bahwasanya Ubrug sudah ada sejak zaman kesultanan, tapi tidak mengetahui bentuknya secara rinci, yang beliau ingat hanya satu kelompok ubrug Ponah yang ada sekitar tahun sebelum kemerdekaan sampai tahun 50-an.

Dari kelompok Ponah inilah banyak banyak berlahiran kelompok ubrug yang ternama, sezaman dengan grup Ponah (Koper Balaraja Kabupaten Tangerang) adalah grup Ribut (Pengawinan Kecamatan Bandung Kabupaten Serang), grup Ranti (Puser Tirtayasa Kabupaten Serang), dan grup Sinar Muda, (Oyong Keresek Tangerang). Generasi berikutnya adalah groip Jari, Senaan, Termos dan lain-lain.

Lokasi Sebaran

Kesenian ubrug terdapat di Kecamatan Cikande bagian utara, Kragilan, Carenang, Pontang, Tirtayasa, Kasemen, Ciruas, Walantaka, Taktakan, Waringin Kurung, Kramat Watu, Bojonegara, Merak, Cilegon, Anyar, Mancak, Cinangka, Ciomas, Pabuaran, Padarineang, dan Pamarayan sebelah utara. Di daerah ini bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Banten, sedangkan yang berbahasa Sunda terdapat di Kecamatan Cikande sebelah selatan, Kopo, Cikeusal, Baros, Pamarayan Timur dan Selatan serta Petir. Di sini istilah ubrug diganti dengan istilah topeng, walaupun dalam pertunjukannya sama dengan ubrug dan tidak memakai topeng. Mungkin hal ini disebabkan karena Kabupaten Serang bagian tenggara berdekatan dengan Kabupaten Bogor tempat topeng Cisalak berada.

Selain menyebar di daerah Serang, kesenian ubrug ini pun berkembang dan tersebar hingga ke daerah Tangerang, Lebak, Pandeglang bahkan sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan. Pertunjukkan ubrug hampir mirip dengan sandiwara lainnya di Tatar Sunda. Juru nandung (wanita) berperan sebagai pembuka permainan dengan menyanyi Nandung atau disebut ronggeng. Bodor atau pelawak pria bermain dan berpasangan dengan juru nandung dan mengadakan tarian sambil melawak seperti permainan ketuk tilu atau jaipongan. Jika mandor atau ketua RT yang menjadi tuan rumah, biasanya ia selalu ikut di dalam permainan sehingga dengan adanya ketua RT ini, permainan semakin komunikatif dan ramai.

Peralatan

Waditra yang digunakan dalam ubrug yaitu kendang besar, kendang kecil, goong kecil, goong angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), bonang, rebab, kecrek dan ketuk. Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco karena alat pemikulnya bernama kanco yaitu tempat menggantungkan alat-alat tersebut.

Busana

Busana yang dipakai yaitu: juru nandung mengenakan pakain tari lengkap dengan kipas untuk digunakan pada waktu nandung. Pelawak atau bodor pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton. Bagi nayaga tidak ada ketentuan, hanya harus memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain disesuaikan dengan peran yang dibawakannya.

Tempat pentas

Ubrug dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda seadanya cukup dengan daun kelapa atau rumbia. Pada saat menyaksikan ubrug, penonton mengelilingi arena. Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala arah.

Perkembangan selanjutnya, Kesenian Ubrug berangsur-angsur digunakan untuk hiburan pada acara hajatan, yakni selamatan pernikahan, khitanan, peresmian gedung baru, dan sebagainya. Sebagai alat penerangnya pada masa lalu adalah obor atau lampu blancong, yang disimpan di tengah-tengah arena pentas dan para pemainnya berada di sekeliling obor atau blancong tersebut. Blancong adalah lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar, yang diletakkan di tengah arena. Lampu blencong ini sama dengan oncor dalam ketuk tilu, sama dengan gembrong atau lampu petromak.

Berbagai sumber dari Internet

Mengenal Tata Kota tentang Hakikat Manusia

Keraton Ngayogyakarta Hadiningratan (https://tourjogjamasjo.com)

“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Alasannya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:

“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..” -Willem von Hogendorp, 1828

Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan pejuang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.

Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancurleburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.

Geometris Keraton Ngayogyakarta Hadiningratan 

Sesudah itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.

Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.

Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita. Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:

1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi”
2. Prinsip Geometris, dijiwai oleh “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”

1. Prinsip Poros

Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluk. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.

“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)

Panggung Krapyak (https://www.selasar.com)

Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.

Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.

Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading (https://pariwisata.jogjakota.go.id)

Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.

Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.

Lima jalan di Alun-Alun Kidul (https://www.google.co.id)

Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.

Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.

Siti Hinggil Alun-Alun Selatan (https://www.explorekeratonyogyakarta.com)

Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.

Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).

Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.

Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).

Masjid Gede Kauman Yogyakarta

Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.

Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.

Jalan Margo Mulyo, dulunya Jalan Ahmad Yani (https://tembi.net)

Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.

Sebagai penyambung Marga Mulya; dulunya jalan Ahmad Yani, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:

Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa,

“Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Jalan Margo Utomo, dulu Jalan Pangeran Mangkubumi (https://tembi.net)

Di ujung Marga Utama, yang dulunya jalan Pangeran Mangkubumi, dahulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).

Tugu Golong Gilig atau Tugu Simbol Yogyakarta (https://mjeducation.com)

Inilah dari Panggung Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu ditelusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.

Prinsip Geometris

Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.

Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.

Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.

“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)

Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.

Gunung Merapi (https://www.google.co.id)

Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.

Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.

Tamansari (https://wisatatourkejogja.com)

Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.

Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan menghimpun kembali kekuatan bersama rakyat. Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.

Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”

Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Gamping di barat lautnya.

Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”

Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.

Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.

Prinsip Konfiguratif

Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.

Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.

Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.

Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut. Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.

Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”

Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23) Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”

Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).

Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)

Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.

Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).

Demikian uraian ringkas tentang Tata Kota Yogyakarta dengan prinsip poros, geometri, serta konfigurasi yang dijiwai oleh berbagai nilai tentang hakikat kemanusiaan dan kehambaan kita. Disusun untuk mangayubagya ulangtahun Kota Yogyakarta ke-259 pekan ini sekaligus bermuhasabah; “Berapa bagian dari prinsip dan nilai tata kota ini yang telah hilang atau kita hilangkan?”

Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.

FB: Salim A. Fillah
t: @salimafillah

Sumber: Salimafillah

Wisata Belanja di Surakarta


Kota Surakarta atau yang akrab disebut Kota Solo atau Sala ini adalah salah satu kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo. Dan disisi timur Kota Solo sendiri terdapat sungai yang namanya terabadikan dalam salah satu lagu keroncong ‘Bengawan Solo’.

Pasar Gede Hardjonegara

Pasar Gede Hardjonegoro (https://www.kompasiana.com)

Lebih dikenal dengan nama Pasar Gede, terletak di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan Urip Sumohardjo kota Solo. Dirancang oleh arsitek Belanda bernama Thomas Karsten, Pasar Gede mulai dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada 1930, yang juga merancang Pasar Johar di Semarang. Pasar ini pun menjadi pasar tertua di Solo.

Pasar Gede pernah mengalami 2 kali kebakaran besar, yakni di tahun 1948 dan pada tahun 2000. Kebakaran di tahun 2000 menghancurkan bangunan Pasar Gede yang terkenal sebagai salah satu bangunan paling cantik di Jawa Tengah itu. Setelah kebakaran, Pasar Gede dibangun kembali dan kini para pedagang telah kembali berjualan di sana.

Sayuran segar di Pasar Gede Hardjonegoro (https://www.kompasiana.com)

Pasar Gede adalah pasar kebutuhan pokok. Sayuran segar, aneka bumbu, daging hingga buah-buahan mengisi ruang tengah pasar yang berlantai dua ini. Sementara itu pedagang makanan khas Solo berada di sekeliling lapak sembako. Ada puluhan penjual yang menjajakan nasi liwet, pecel, aneka oseng-oseng, ayam goreng, dawet, kerupuk rambak, karak, intip hingga berbagai jenis jajanan pasar. Pasar seluas kurang lebih 4.000 m2 ini tak hanya menjadi tempat berbelanja kebutuhan warga Solo namun juga menjadi destinasi wisata kuliner para pelancong. Pasar Gede juga dilengkapi dengan jembatan penghubung menuju pasar ikan yang terletak di depannya.

Dari tempat ini pula kita bisa menaiki becak berkeliling kota Solo karena puluhan tukang becak selalu berbaris di depan Pasar Gede menunggu penumpang.

Pasar Klewer

Pasar Klewer sebelum kebakaran (https://www.tripadvisor.co.id)

Pasar Klewer terletak di Jl. Dr. Radjiman, Solo, tepatnya sebelah alun-alun lor Solo ini merupakan bangunan yang sudah ada sejak tahun 1942 dan diresmikan pertama kali oleh Presiden Suharto. Bangunan pasar klewer terdiri atas dua lantai yang membuat para pengunjung dan pelaku pasar lebih nyaman untuk memilih dan berjalan-jalan menyusuri setiap sudut lorong pasar.

Pasar Klewer menyediakan berbagai macam pakaian dan tekstil yang bermotif batik, mulai dari kain, kemeja pria, rok hingga daster-daster nyaman yang cocok dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk ibu tercinta. Teknik pembuatan pun beragam, yakni cap dan tulis. Harga yang ditawarkan oleh para penjual di Pasar Klewer sangat beragam, mulai dari belasan ribu rupiah hingga ratusan ribu dan jutaan rupiah. Batik tulis, apalagi yang dibuat di alas kain sutera tentunya memiliki harga yang mahal, tergantung tingkat kesulitan saat pembuatan dan kualitas bahan yang dipergunakan.

Pasar Klewer sesudah kebakaran (https://www.tribunnews.com)

Pada tanggal 27 Desember 2014 malam, Pasar Klewer terbakar hebat hingga habis. Pada saat yang bersamaan di Alun-Alun Surakarta sedang berlangsung festival Sekaten, sehingga menimbulkan kepanikan.

Pasar Triwindu atau Pasar Windujenar

Pasar Triwindu atau Pasar Windujenar (https://websprogramming.com)

Pasar Triwindu merupakan pasar barang loak yang cukup lengkap dan nyaman. Pasar yang terletak di Jl. Slamet Riyadi ini memiliki kios-kios mungil yang menyediakan berbagai benda antik, mulai dari koin-koin hingga porselen Cina yang sudah berusia ratusan tahun dengan penataan yang bebas dan tidak kaku. Berbagai perhiasan, wayang dan topeng juga dapat Anda temukan di pasar yang dari depan tidak terlalu menarik perhatian ini.

Pasar Triwindu atau Pasar Windujenar (https://nationalgeographic.co.id)

Gerbang Pasar Triwindu ini memang sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok, hanya terlihat seperti jalan untuk memasuki sebuah gang kecil. Namun begitu tiba di dalam, mata dijamin akan langsung kegirangan karena begitu banyak benda-benda unik yang tersaji. Selain benda antik, tak jarang benda baru yang dikondisikan menjadi tuapun dapat ditemukan di Triwindu. Pembeli memang diharapkan memiliki pengetahuan tentang barang antik ketika berbelanja di pasar ini atau berbelanja bersama orang yang mengerti.

Pasar Triwindu atau Pasar Windujenar (https://nationalgeographic.co.id)

Tawar-menawar adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan di sini. Sekali lagi, perhatikan dan perkirakan usia benda yang ingin dibeli. Kalau memang benda tersebut memang antik, jangan memberikan penawaran yang terlalu rendah. Salah satu hal yang paling menyenangkan ketika berbelanja di Pasar Triwindu adalah Anda diberikan keleluasaan untuk melihat-lihat, berkeliling dan menjatuhkan pilihan, tanpa diburu-buru oleh si penjual.

Pasar Malam Ngarsopuro

Pasar Malam Ngarsopuro digelar di sepanjang city walk kawasan pasar Windujenar, Ngarsopuro di depan Pura Mangkunegaran. Tepatnya di jalan Diponegoro. Ketika matahari sudah condong ke barat, di kawasan Ngarsopuro ini sudah berjejer tenda-tenda yang siap dipakai untuk berjualan produk UKM dan suvenir khas kota Solo.

Beberapa produk dan oleh-oleh yang lazim dijumpai di sini antara lain berbagai baju, tas, sepatu yang bernuansa batik, pin dan sticker Solo, dan beraneka macam cendera mata yang unik dan menarik. Selain itu, di Night Market Ngarsopuro juga banyak terdapat makanan serta jajanan pasar yang siap memanjakan lidah seperti Nasi liwet, Cabuk Rambak, Wedang Ronde, Sosis Solo, Bakso Bakar, Sate Kere, dan lain sebagainya.

Kampung Batik Kauman

Kampung Batik Kauman

Kampung Batik Kauman terletak di Jl. Dr. Radjiman, beberapa meter sesudah Pasar Klewer, Solo. Cikal bakal industri batik kota Solo diyakini berada di tempat ini.

Kampung Batik Laweyan


Kampung Laweyan didesain dengan konsep terpadu, dengan memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 24 ha yang terdiri dari 3 blok. Di dalam kampung Batik tersebut, terdapat ratusan pengrajin Batik yang menjual berbagai motif, seperti Tirto Tejo dan Truntum dengan beragam variasi harga. Selain batik, Kampung Batik Laweyan juga menyimpan kekayaan arsitektur Jawa kuno.

Lumbung Batik

Lumbung Batik (www.worldtravelserver.com)

Lumbung Batik merupakan tempat belanja batik terbaru di Kota Solo yang terletak di dekat Kampung Batik Laweyan, tepatnya di Jl. Agus Salim 17 Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo. Di area ini terdapat 40-han gerai batik yang menjual beraneka ragam produk batik. Lumbung Batik ini didirikan pada tahun 2010 oleh Koperasi Pamong Pengusaha Batik Surakarta (PPBS), diresmikan oleh Joko Widodo yang saat itu masih menjabat Wali Kota Surakarta.

Pasar Depok

Pasar Depok (https://ronggolawe.info)

Pasar Depok merupakan pasar burung dan ikan hias terletak di Jl. Balekambang Lor, Banjarsari, Solo, pasar burung ini telah menjelma menjadi kawasan jual beli hewan-hewan peliharaan yang terbesar di Jawa Tengah. Pasar ini tak hanya menjadi tujuan pecinta burung dan ikan, namun juga menjadi tempat berburu bagi para pecinta unggas-unggas hias yang unik.

Wisata Belanja di Kalimantan Timur

Pasar Seni Budaya Citra Niaga

Kalimantan timur merupakan propinsi terluas di Kalimantan, luasnya kurang lebih satu setengah pulau Jawa dan Madura. Propinsi ini berbatasan langsung dengan Malaysia, yaitu negara bagian Sabah dan Serawak.Karena sangat luasnya hingga jarang penduduknya, dengan ibukotanya Samarinda.

Sungai Mahakam melintasi Propinsi Kalimantan Timur, dengan panjang sekitar 920 kilometer, melintasi Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Di sungai ini hidup mamalia ikan tawar yang terancam punah yaitu Pesut Mahakam.

Samarinda


Pasar Seni Citra Niaga

Pasar Seni Budaya Citra Niaga (https://www.exotickaltim.com)

Pasar seni budaya Citra Niaga sangat mudah dijangkau karena terletak tepat di jantung kota Samarinda tepatnya di Jalan Niaga Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, dengan luas lahan 2,7 hektar.

Berbagai souvenir khas Kalimantan (https://www.kutaikartanegara.com)

Berbagai oleh-oleh khas kalimantan dijajakan di sini, di antaranya sarung samarinda, manik-manik bermotif dayak, perisai, suvenir, pakaian bertemakan kalimantan dan pakaian adat, alat musik daerah, aksesori sampai barang-barang antik khas dayak banyak dijual di sini, mulai dari pedagang kaki lima, sampai toko-toko modern berbaur dengan rapi dalam satu kompleks perniagaan yang nyaman dan asri.

Disamping menjual oleh-oleh khas Kaltim, di sini juga banyak berdiri warung yang menyajikan masakan dan minuman khas kalimantan, jadi jangan khawatir, jika Anda sudah lelah berbelanja oleh-oleh di sini, bisa langsung istirahat sambil menikmati menu masakan khas kalimantan yang berjejer rapi di sepanjang pinggiran kompleks pasar seni modern Citra Niaga.

Kampung Baqa

Gang Pertenunan, Kampung Baqa (https://therymaumau.blogspot.co.id)

Kampung Baqa terletak di Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Kelurahan ini merupakan daerah tertua di Samarinda dan merupakan cikal bakal berdirinya kota Samarinda.

ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) - https://junahmad.blogdetik.com

Setelah tiba di tempat tersebut akan disambut dengan suara-suara khas alat tenun tradisional yang bersahut-sahutan karena mayoritas warga sekitar mengisi waktu luang dengan melakukan aktifitas menenun dan dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kain tenun dengan berbagai motif khas sebelum dijadikan sarung yang telah menjadi ciri khas kota Samarinda.

Setiap penenun dapat membuat satu sarung tenun Samarinda dalam waktu seminggu dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar sekitar 50 sentimeter, tetapi dengan motif yang sederhana dan kecil, yang dijual denganharga Rp. 150.000,- hingga Rp. 500.000,- per buah. Semakin banyak dan besar motifnya, maka semakin mahal harganya.

Kampung Masjid

Kampung Masjid (https://www.azwisata.com)

Kampung Masjid terletak di Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Kampung Masjid dan Kampung Baqa masih dalam satu kecamatan, adalah 2 kelurahan yang menghasilkan kerajinan kain sarung tenun ikat di Samarinda.

Kegiatan penduduknya membuat kerajinan tenun khas samarinda. Kerajinan tenun ini juga telah lama berdiri puluhan tahun yang turun temurun dari generasi ke generasi dan kerajinan tersebut dikampung masjid al- baqa terutama gang petenunan dan gang karya muharram.

Kerajinan tenun dikampung ini unik berada dirumah panggung tua yang bangunan dan atapnya terbuat kayu ulin pilihan kemudian alat petenunannya terbuat kayu pilihan yang dinamakan gedokan serta benang yang digunakan menenun terbuat dari benang sutera cina. Uniknya pewarnaan tenun sarung samarinda menggunakan warna alami yakni berasal dari kulit kayu ulin berkualitas dan bawang sehingga menghasilkan warna maupun motif yang unik menarik khas samarinda.

Kerajinan tenun sarung samarinda lambat laun terus maju pesat tidak hanya membuat tenun sarung saja, melainkan juga membuat tas jinjing, dompet, baju semi jas, rok dan kemeja dengan model yang beragam. Pengrajin tenun samarinda cukup kreatif terutama dalam pemasarannya mereka juga ikut pameran-pameran kerajinan yang diadakan pemerintah setempat sehingga produk kerajinan tenun ini dikenal dalam kawasan nusantara tetapi mancanegara.

Balikpapan


Pasar Inpres Kebun Sayur

Pasar Inpres Kebun Sayur (https://bocahpetualang.com)

Pasar inpres kebun sayur berada di bagian barat Kota Balikpapan. Pasar ini sejak puluhan tahun terkenal sebagai tempat belanja wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Balikpapan. Lapak yang terkonsentrasi dalam satu lokasi, membuat pasar inpres kebun sayur jarang sepi pengunjung. Meskipun tanpa pendingin ruangan, pasar inpres kebun sayur menjadi tempat tujuan wisata belanja dari semua strata.

Kerajinan tangan khas Kalimantan (https://www.klikbalikpapan.co)

Di pasar ini berbagai kerajinan tangan khas Kalimantan bisa didapatkan. Termasuk beragam jenis batu yang sedang tren sekarang ini. Untuk menjangkau pasar ini dari pusat kota, wisatawan dapat menggunakan Angkutan Kota dengan Nomor 5 berwarna kuning atau Nomor 6 berwarna biru.

Camilan khas Balikpapan Nusantara

Camilan khas Balikpapan di Kawasan Nusantara (https://www.klikbalikpapan.co)

Terletak di tengah Kota Balikpapan, warga Balikpapan menyebutnya kawasan Nusantara. Dulu berdiri gedung Bioskop Nusantara di kawasan ini. Secara administrasi kawasan ini masuk dalam Jalan Jenderal Ahmad Yani. Di kawasan ini lebih dominan menjajakan bahan makanan atau camilan khas Balikpapan. Kawasan ini tidak terkonsentrasi penuh seperti di pasar inpres kebun sayur. Sejumlah warung atau rumah toko (ruko) yang menjual makanan khas Balikpapan berjarak dengan warung lainnya. Untuk menjangkau kawasan ini, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan kota berwarna kuning dan abu-abu atau bernomor 3.

Camilan Khas Balikpapan Stal Kuda

Camilan khas Balikpapan di Kawasan Stal Kuda (https://www.klikbalikpapan.co)

Stal kuda juga sebutan untuk kawasan di Jalan Marsma Iswahyudi Kota Balikpapan. Kawasan makanan ringan stal kuda berada depan Balikpapan Super Block (BSB) sampai depan Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Balikpapan. Karakteritik makanan ringan khas Balikpapan di stal kuda kurang lebih sama dengan kawasan nusantara. Di sini berderet rumah toko atau warung yang menyediakan makanan dan camilan khas Balikpapan dan Kalimantan Timur seperti amplang dan aneka kue lainnya. Dalam kawasan ini juga terdapat UKM Center, toko yang hanya menjual aneka produk oleh-oleh khas Balikpapan. Angkutan kota yang melewati kawasan ini hanya ada satu dengan nomor 8 berwarna hijau tua. Angkutan kota ini juga hanya bisa dijangkau dari terminal Balikpapan Permai.

Beruang Madu

Produk Beruang Madu (https://www.klikbalikpapan.co)

Beruang Madu adalah tempat wisata belanja yang berada dalam satu rumah toko di Jl. Ruhui Rahayu Kota Balikpapan. Nama Beruang Madu diambil dari nama satwa langka dan dilindungi di Kota Balikpapan. Toko beruang madu lebih banyak menjual produk khas Balikpapan dari bahan tekstil, seperti baju kaos dan batik khas Balikpapan. Selain itu, sejumlah kerajinan tangan khas Kalimantan seperti patung dan lainnya bisa didapatkan di toko ini. Desain kaos dan batik di toko Beruang Madu sebagian besar adalah produk asli Kota Balikpapan. Untuk menjangkau toko beruang madu, wisatawan dapat menggunakan angkutan kota bernomor 2 warna hijau muda. Angkutan kota ini dapat diakses dari terminal Balikpapan Permai.

Rumah Kreatif Balikpapan

Lampu hias dari limbah (https://beritadaerah.co.id)

Rumah Kreatif Balikpapan (RKB) terletak di Jl. Wiluyo Puspoyudho No.1 Kelurahan Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota. Di daerah belakang Kantor Walikota Balikpapan. RKB yang merupakan binaan Chevron Indonesia dan SKK Migas Kalimantan Sulawesi itu menjual aneka produk kerajinan tangan dari pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan industri rumah tangga di Kota Balikpapan. Selain itu, RKB membantu memasarkan produk dari warga berkebutuhan khusus di Balikpapan. Kerajinan tangan yang khas dari RKB diantaranya tas, baju dan kain batik. Angkutan kota yang bisa melalui RKB bernomor 6 dan 3.