Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Wisata Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Wayang Kulit Sasak dari Nusa Tenggara Barat

Wayang Kulit Sasak (https://warungwisata.com)

Wayang Kulit Sasak adalah Wayang kulit yang berkembang di Lombok yang pada dasarnya mengambil cerita Menak yang ceritanya bersumber dari Cerita Amir Hamsah yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Barat.

Disebut Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Penatah wayang Sasak sampai saat ini ialah Amak Rahimah. Dahulu wayang Sasak dipergunakan untuk berdakwah agama Islam di pulau Lombok. Sekarang dipertontonkan dan untuk upacara adat, misalnya di masyarakat Malang kecamatan Gerung, kabupaten Lombok Barat. Bentuk wayang Sasak mirip dengan wayang kulit Gedog. Koleksi wayang kulit Sasak yang ada di Museum Wayang dibuat tahun 1925. Cerita wayang Sasak mengisahkan Amir Hamzah (paman Nabi Muhammad SAW). Amir Hamzah dalam wayang kulit Sasak, namanya diganti sesuai dengan nama Indonesia (Jawa) yaitu Wong Agung Menak Jayengrana. Pedoman yang dipakai huruf bahasa Jawa, diambil dari serat Menak karangan Yosodipura.

Wayang adalah salah satu bentuk seni pertunjukan yang ada di Gumi Sasak sebagaimana daerah lain di Nusantara. Mengenai permulaan wayang di Lombok, tak seorang pun di zaman ini yang dapat mengetahui dengan pasti kapan tepat pertama kali ( hari, tanggal, bulan dan tahun) wayang masuk di Gumi Sasak. Kenyataannya bahwa tidak dijumpai leteratur tulisan yang mengungkapkan hal tersebut.

Sejarah

Menurut riwayat, menjelang kedatangan Islam di Lombok pernah terjadi musim pacakelik yang panjang yaitu selama tujuh tahun. Tanah menjadi kering dan rakyat menderita kelaparan. Hasil musyawarah para raja yang ada di Lombok memutuskan untuk mengutus Datu Perigi untuk pergi bertapa ke Gunung Rinjani memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam pertapaan itu Datu Perigi didatangi seorang berjubah putih yang bersedia membantu mencarikan jalan keluar mengatasi musim sulit yang dialami rakyat Gumi Sasak Datu Perigi disarankan mengadakan Gawe Mangajengan dan dalam gawe tersebut harus disertai dengan pagelaran wayang kulit.

Wayang kulit sasak (https://pkbmdaruttaklim.wordpress.com)

Kemerau panjang itu terjadi hingga akhir abad XIV, jadi gawe magajengan itu dilaksanakan pada abad XV. Petunjuk ini memberikan indikasi bahwa wayang di Lombok sudah ada saat itu. Hal ini sejalan dengan pendapat Lalu Satriah yang menggunakan Babad Lombok sebagai sumber informasi. Lalu Satriah mengatakan bahwa wayang di Lombok sudah ada sebelum Sunan Prapen datang ke Lombok. Sunan Prapen datang di lombok sekitar tahun 884 H. Atau 1464 Masehi.

Di lain pihak, Lalu Maas dalam sebuah risalahnya ”Selintas Kilas Pewayangan di Lombok Timur” mengatakan, bahwa yang pertama kali membawa wayang di Lombok adalah utusan Wali Songo dari Jawa yang datang untuk menyebarkan Islam. Wali Songo sering menggunakan wayang kulit sebagai media penyebaran Islam.

Mitos Wali Nyato’ diceritakan oleh Satriah bahwa ketika Wali Nyato’ masih muda, pada suatu malam beliau pergi menonton pertunjukan wayang ke tanah Jawa bersama-sama dengan teman akrab beliau dari Rembitan. Beliau berangkat menjelang waktu isya ke Jawa dan pulang esok harinya menjelang waktu subuh. Beliau menceritakan pengalamannya menonton wayang di tanah Jawa malam itu kepada teman- teman sepergaulan. Sejak saat itu tidak lama kemudian di Lombok ada pagelaran wayang kulit.

Mitos Pangeran Sangu Urip Pati, diceritakan oleh H. Lalu Ambawa bahwa wayang pertama kali dibawa oleh Pangeran Sangu Urip Pati utusan Wali Songo dari Tanah Jawa. Beliau menyebarkan Islam dengan penuh perjuangan dan tidak meminta upah dalam menyajikan pertunjukan wayang. Upahnya hanya mereka yang menonton wayang harus membaca dua kalimah syahadat. Melihat kenyataan ini berarti bahwa jelas wayang yang berkembang di Lombok adalah berasal dari Jawa.

Pentas wayang kulit sasak (https://www.sasak.org)

Tokoh Utama

Pewayangan yang berkembang lambat laun di Gumi Sasak dinamakan wayang Serat Menak Sasak. Lakon-lakonnya bertumpu pada kesusastraan wayang yang dikenal dengan Serat Menak. Serat Menak ini diubah dari hikayat Amir Hamzah, yang selaras dengan khasanah kesusastraan Melayu yang mengambil tema Persia, Syah Nameh, dan ditulis dengan bahasa Jawa.

Amir Hamzah adalah paman Nabi Muhammad SAW, yang memperjuangkan agama Islam waktu itu. Amir Hamzah dijadikan tokoh sentral dalam pewayangan Serat Menak Sasak. Nama lain dari Amir Hamzah dalam pewayangan adalah Wong Agung, Jayeng Rane, Wong Menak, Ambiyah, Sang Menak Jayeng Murti dan lain-lain. Satu hal yang perlu diketahui menurut penjelasan dalang Ki Lalu Jaye bahwa cerita pewayangan Serat Menak Sasak adalah cerita yang dirilis sebelum kelahiran baginda Rasulullah SAW hingga menjelang kelahirannya. Setelah itu tidak boleh lagi ada cerita yang dirilis, apa lagi menyangkut tentang Nabi. Jadi segala lakon yang dituturkan dalam wayang Serat Menak adalah lakon tokoh sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Tokoh Utama Lainnya

Wayang kulit sasak berkembang sejalan dengan perkembangan agama Islam di Lombok. Peran utama yang disebut wayang prabu (praratu) berjumlah 140 tokoh. Wayang itu dibagi menjadi wayang kiri dan wayang kanan.

Munigarim merupakan puteri bijaksana, sabar, punya pendirian teguh, dan memiliki kesaktian tinggi pula. Ia istri pertama Jayengrana, dan putri nomor dua dari prabu Nursiwan, yang berasal dari kerajaan Medayin. Perkawinan Munigarim dan Jayengrana, melahirkan Raden Kobat Sare’as.

Umar Maya sosok gemuk, pendek, perut buncit, hidung besar dan bulat. Ia intelektual, bijaksana dan cerdas. Selain itu, ia juga sangat setia. Umar Madi tokoh sangat emosional dan kuat makan. Tak heran, tubuhnya juga gemuk. Bersama Umar Maya, ia juga pendamping yang setia.

Selandir merupakan putra raja Sailan. Tetesan darah Nabi Idris bernama Basirin Binti Syekh Bakar Abu Miswan, mengalir di tubuh ibunya. Selandir sangat kuat, dengan postur tubuh tinggi besar. Ia mengandalkan kekuatan fisik dan sangat ditakuti dalam peperangan.

Karawitan wayang kulit sasak (https://www.sasak.org)

Saptanus dan Santanus merupakan tokoh kembar yang memberikan pertimbangan strategi yang dilakukan oleh Jayengrana. Selain itu, kembar ini juga merupakan faktor keseimbangan dalam karakternya.

Bahasa

Bahasa yang dipergunakan dalam Wayang Menak Sasak adalah bahasa Kawi. Bahasa Kawi ini merupakan bahasa yang bersumber dari Jawa. Dengan demikian apa bila kita melihat kenyataan-kenyataan tersebut berarti semakin jelas bahwa wayang, pewayangan, pedalangan Sasak adalah produk kebudayaan Jawa. Mengenai lakon-lakon yang biasa dipentaskan dalam wayang Serat Menak Sasak bersumber dari babon Serat Menak. Dari babon Serta Menak ini diturunkan cerita carangan seperti lakon Bangbari, Lahat, Liman Tarujinaka, Jubil, Kawitan Maktal, Kawitan Selandir, Kabar Sundari, Rengganis dan lain-lain.

Lakon yang dikenal

Pada pewayangan Serat Menak Sasak, banyak cerita yang dilakonkan. Cerita-cerita tersebut antara lain :

1. Kawitan Maktal
2. Kawitan Selandir
3. Kabar Sundari
4. Ajar wali
5. Rengganis

Selain cerita yang disebutkan di atas masih banyak lagi cerita yang dilakonkan oleh para dalang. Salah satu yang paling terkenal ditulis dalam takepan daun lontar. Cerita tersebut dinamakan kelampan bel. Bel ini terdiri atas beberapa penangkilan atau episode. Paling kurang ada 7 (tujuh) penangkilan dalam lelampan bel. Bel ini mengisahkan tentang perjalanan Amir Hamzah atau Wong Menak dan Umar Maya yang berjalan menelusuri gumi untuk menyebarkan kebaikan.

Sumber: Irzaarveda

Kaghati, Layang-layang Tradisional dari Sulawesi Tenggara

Kaghati dari Sulawesi Tenggara (https://lppks.org)

Sewaktu kita kecil mungkin pernah bermain dengan layang-layang baik di pekarangan rumah, di pematang sawah, dan lain sebagainya.

Layang-layang pertama di Indonesia itu bernama Kaghati, sebuah layang-layang khas suku Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Hal itu dibuktikan dengan adanya lukisan tangan manusia di dalam sebuah gua.

Kaghati di Gua Ceruk Sugi, Desa Liang Kobori

Lukisan tersebut berada di Gua Ceruk Sugi Patani, Desa Liang Kobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Propinsi Sulawesi Tenggara, lukisan itu menggambarkan seseorang yang sedang bermain layang-layang. Lukisan dalam gua itu terbuat dari oker. Itu merupakan campuran antara tanah liat dengan getah pohon.

Permainan layang-layang (Kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna.

Kaghati akan diterbangkan (https://fauzihisbullah.wordpress.com)

Bahan

Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran daun kolope (daun gadung) yang telah kering kemudian dipotong ujung-ujungnya. Satu per satu daun tersebut dijahit agar setiap helai daunnya bisa menyatu, sebagai rangka layangan terbuat dari lidi bambu, dan talinya dijalin dari serat nenas hutan. Untuk membuat satu buah Kaghati dibutuhkan banyak daun, yakni sekitar 100 lembar daun.

Lembaran daun kolope (daun gadung) telah dijahit (https://oldlook.indonesia.travel)

Sebaran

Permainan Layang-layang tradisional (Kaghati) ini sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara.

Noken, Tas Tradisional Papua

Noken (https://www.kompasiana.com)

Noken yaitu tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Papua biasanya menggunakannya untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar. Karena keunikannya yang dibawa dengan kepala, noken ini di daftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia dan pada 4 desember 2012 ini, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai Warisan Kebudayaan Tak Benda UNESCO. "Pengakuan UNESCO ini akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat."

Beragam Noken

Tas Noken ini sendiri asli buatan mama-mama di Papua, tas tradisional Noken ini sendiri memiliki simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi masyarakat di tanah Papua terutama kebanyakan di daerah Pegunungan Tengah Papua seperti suku Mee/Ekari, Damal, Suku Yali, Dani, Suku Lani dan Bauzi.

Simbul Kedewasaan

Yang menarik dari Noken ini adalah hanya orang Papua saja yang boleh membuat Noken. Membuat Noken sendiri dahulu bisa melambangkan kedewasaan si perempuan itu. Karena jika perempuan papua belum bisa membuat Noken dia tidak bisa dianggap dewasa dan itu merupakan syarat untuk menikah. Dahulu Noken dibuat karena suku Papua membutuhkan sesuatu yang dapat memindahkan barang ke tempat yang lain. Tapi sekarang para wanita di Papua sudah jarang yang bisa membuat Noken padahal itu adalah warisan budaya yang menarik.

Bahan

Noken terbuat dari bahan baku kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan. Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken yang berukuran besar dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak. Sedangkan yang berukuran kecil digunakan untuk membawa barang-barang pribadi. Keunikan Noken juga difungsikan sebagai hadiah kenang-kenangan untuk tamu dan dipakai dalam upacara.

Gadis cilik ini selain mengenakan noken seperti biasa, disangkutkan diatas kepala, juga memakai nokennya sebagai baju kelihatan indah sekali dipakainya (taken by Liza Monalisa) - https://www.kompasiana.com

Pembuatan

Membuat Noken cukup rumit karena tidak menggunakan mesin. Kayu tersebut diolah, dikeringkan dan kemudian dipintal menjadi benang. Variasi warna pada Noken dibuat dari pewarna alami. Proses pembuatannya bisa mencapai 1-2 minggu, untuk Noken dengan ukuran besar, bisa mencapai 3 minggu. Di daerah Sauwadarek, Papua, masih bisa kita temukan pembuatan Noken secara langsung. Harga Noken disana relatif murah, antara Rp.25.000-Rp.50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya.

Multiguna

Tas Noken ini sendiri memiliki ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang berukuran besar yang biasa dipakai oleh mama-mama yang bekerja sebagai petani dan mampu mengankat bahan hasil bumi yang cukup berat dengan menggunakan tas noken ini, dan uniknya lagi ini digunakan dengan memakai jidat atau bagian depan kepala mereka dengan mengalungkannya ke arah belakang punggung mereka, dan untuk tas noken yang berukuran kecil biasa dipergunakan oleh siswa-siswa pelajar asli putra-putri daerah Papua untuk dipergunakan sebagai tempat buku dan keperluan belajar di bangku sekolah maupun di kampus.

Fungsi Noken sangat beragam. Namun, Noken biasa dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, sampai barang-barang belanjaan. Noken yang kecil biasa dipakai untuk membawa kebutuhan pribadi. Tak hanya itu, Noken juga dipakai dalam upacara dan sebagai kenang-kenangan untuk tamu.

Sumber: Wikipedia

Ubrug, Teater Rakyat Banten

Ubrug mang Canthel  (https://mylentera.com)

Kesenian teater rakyat yang sepadan dengan menampilkan keaktoran yang penuh lawakan berkembang di daerah dan suku bangsa di seluruh Indonesia, seperti hanya di Betawi dengan Lenongnya, Jawa Barat dengan Longser-nya, Jawa Tengah dengan Ketoprak-nya, Jawa Timur dengan Ludruk-nya. Dari semua bentuk kesenian teater rakyat di daerah-daerah, terbentuknya kesenian tersebut merupakan hasil dari asimilasi kesenian keraton dan kesenian masyarakat yang berbaur lintas geografis, berkembang sesuai dengan karakter daerahnya.

Arti Istilah

Istilah ubrug diambil dari bahasa Sunda yaitu saubrug-ubrug yang artinya bercampur baur. Dalam pelaksanannya, kesenian ubrug ini kegiatannya memang bercampur yaitu antara pemain atau pelaku dengan nayaga yang berada dalam satu tempat atau arena. Namun ada pendapat bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug yang artinya apa yang ada atau seadanya dicampurkan, maksudnya yaitu antara nayaga dan pemain lainnya bercampur dalam satu lokasi atau tempat pertunjukan.

Dalam Kamus Bahasa Sunda, kata ubrug berarti sebagai bangunan darurat, tempat bekerja sementara untuk beberapa hari saja, misalnya untuk kepentingan hajatan atau pesta. Kemudian kata tersebut digunakan sebagai nama kesenian, mungkin karena pada masa lalu pemain Ubrug suka berpindah-pindah tempat dan membuat bangunan sementara manakala mereka mengadakan suatu pertunjukan. Orang-orang kemudian menyebutnya sebagai pemain Ubrug, pemain yang tinggal di tempat darurat.

Lain halnya dengan pendapat Mutia Kasim (dalam Walidat, 1997), yang menyebutkan bahwa ubrug diambil dari kata ngagebrug. Dalam pertunjukan Ubrug, semua pemain, baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, beserta para penonton sama-sama menempati satu tempat pertunjukan atau sagebrug (bahasa Sunda).

Kesenian ubrug sering diistilahkan dengan topeng. Ada dua pendapat tentang kesenian ubrug apabila dikaitkan dengan kesenian topeng. Pendapat pertama, kesenian ubrug tidak sama dengan kesenian topeng. Pendapat kedua, kesenian ubrug konon sama saja dengan topeng. Hanya saja, istilah ubrug digunakan di wilayah-wilayah yang menggunakan bahasa Jawa Banten, sedangkan istilah topeng digunakan di wilayah-wilayah budaya Sunda.

Buku tentang Ubrug (https://nimusinstitut.blogspot.co.id)

Sejarah

Untuk memberikan keterangan mengenai sejarah pertunjukan ubrug (topeng), perlu penggambaran periodesasi untuk mempermudah menulusuri sumber-sumber yang diperoleh dari zaman-ke zaman. Periode ini di mulai dari zaman kesultanan, zaman kekuasaan kolonial, dan zaman kemerdekaan. Periodisasi seni peran tradisional itu dilakukan untuk mempermudah interpretasi perkembangan pertunjukan kesenian ubrug.

1. Ubrug Zaman Kesultanan

Data tertulis tertua yang menerangkan tentang seni peran ada dalam naskah Sejarah Banten yang di ceritakan oleh Sandimaya dan ditulis oleh Sandisastra mengenai pertunjukan raket (seperti wayang orang) dan Calung, keterangan ini tertulis dalam Pupuh Sinom bait ke 21- 23. Hélène Bouvie dalam bukunya ‘Seni Musik Dan Pertunjukan Dalam Masyarakat Madura, menjelaskan bahwa Raket adalah sejenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan tarian dan nyanyian sewaktu sewaktu menumbuk padi. Kemudian dijadikan tarian keraton selewat-lewatnya pada abad ke 14. Menurut satu hipotesis lainnya asal-usulnya adalah topeng kecil.

Dari keterangan naskah tersebut di atas, menjelaskan mengenai pesta turun tanah Pangeran Anom atau Pangeran Surya (Sultan Ageng Titayasa) yang masih balita yang sangat dicintai oleh Kakeknya, Sultan Abul Mufakhir Abdul Kadir Kenari. Dalam pesta tersebut semua pemain berasal dari golongan keraton maupun dari orang asing, tampilannya sendiri berbentuk drama tari.

Pada pertunjukan raket, tiap-tiap adegannya dibagi secara runtut, sesuai dengan pakem pertunjukan. Susunan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Jejer sepisan: adegan kerajaan jawa / panji. pada adegan ini sebelum para penari berdialog, dalang mengucapkan janturan yang menggambarkan sifat keadilan raja yang memimpin negaranya dengan makmur dan adil. (gending angleng atau kalem)
b. Grebeg jawa: pengembaraan panji (gending angleng atau kalem)
c. Jejer kapindo: adegan di kerajaan sabrang (gending setro atau agak keras)
d. Grebeg sabrang: adegan pengelanaan raja klono bersama para patih untuk mencari putri yang akan dinikahi atau menaklukkan kerajaan lain. (gending gondo boyo atau keras)
e. Perang grebeg: pertemuan antar panji dengan kerajaan sabrang (gending gondo boyo atau keras)
f. Jejer katelu: adegan pertapaan / kerajaan lain. (gending angleng atau kalem)
g. Potrojoyo-gunung sari (gending pedhat atau biasa)
h. Adegan ulangan kerajaan pertama
i. Jejer kalima: perang besar antar kedua kerajaan (gending gondo boyo atau keras)

Pada zaman Sultan yang ke 4 kesultanan Banten, mulai digambarkan dalam sejarah mengenai bentuk kesenian Banten walaupun tidak serinci secara lengkap seperti data-data tertulis yang ada di daerah lain. Namun demikian keterangan yang singkat ini dapat memecahkan kebuntuan masa lalu kesenian di Banten. Di gambarkan dalam naskah tersebut bentuk kesenenian antara lain: Gamelan Sakati, dan goong. Digambarkan adanya keriuhan dari suara kendang yang saling bersahutan pada acara Sasapton. Upacara Sasapton ini merupakan ungkapan kegembiraan dari Sultan Abul Mufakhir Abdul Kadir atas kelahiran cucunya. Sehinga diadakan sebuah pesta besar-besaran setiap hari Sabtu di depan Keraton Surosowan, dan yang menjadi Nayaga dari kalangan para ponggawa. Hal ini dimungkinkan, karena di keraton Surosowan terdapat ruangan untuk alat-alat kesenian yang disebut Panayagan.

2. Ubrug Zaman Kolonial

Sementara itu sumber lain yang menggambarkan kesenian ubrug (topeng) digambarkan oleh Thomas Stamford Raffles dalam perjalanan dinasnya ke Nusantara dan mendokumentasikan kehidupan masyarakat di Pulau Jawa dari tahun 1776-1813 yang ditulis dalam bukunya The History of Java, menjelaskan tentang pertujukan kesenian topeng dan lawakan. Topeng merupakan kesenian masyarakat yang biasa di pentaskan untuk hiburan pesta panen dan acara perkawinan, dengan mengedepankan komedi atau lawakan oleh para pemainnya.

Diceritakan pula mengenai pertunjukan oleh Rafles, seorang aktor yang menjadi tokoh komedinya dengan mementaskan idiom-idiom kebodohan sang aktor, seperti orang idiot, lenggak-lenggok mengikiti irama yang mengalun selama pertunjukan berlangsung.

Banyak digambarakan bentuk pertunjukan kesenian yang biasa ditampilkan dimasyarakat maupun di masyarakat kota keraton, oleh pelancong Eropa yang singgah di Jawa khususnya Banten, antara lain: drama, topeng, lawakan, berbagai pertunjukan wayang dan lain-lain.

Bahkan digambarkan pula oleh Ahmad Djayadiningrat dalam catatan dinasnya selama menjadi pejabat pemerintahan sejak asisten kewedanaan (setingkat camat) hingga menjadi bupati. Bahwa masyarakat sekitar daerah yang dipimpinnya itu gemar mengadakan acara hiburan rakyat seperti topeng, jaipong, reog, jaran bilik dan lain-lain. Bentuk hiburan ini sering terjadi keributan oleh para penontonnya. Kendati demikian masyarakat tetap menyelenggarakan hiburan rakyat tersebut. Hal inilah sehingga ada perintah larangan beberapa jenis pertunjukan rakyat.

Sumber-sumber yang detail mengenai pertunjukan seni pertujukan tidak banyak diketemukan di Banten, sehingga penulis menulusuri jejak-jejak kelompok yang pernah terkenal pada zamannya. Akan tetapi tidak banyak pula informasi yang di dapat dari lapangan.

3. Ubrug Zaman Pra dan Pasca Kemerdekaan

Ubrug (www.youtube.com)

Sejarah secara tradisional dianggap sebagai cerita atau catatan yang obyektif mengenai masa lalu. Akan tetapi, kita mulai menyadari bahwa sejarah tidak lepas dari bias-bias. Kesadaran seperti itu ditangkap dalam New Historicism, sebuah teori sejarah dengan pandangan kultural. New Historicism menganggap bahwa sejarah itu subyektif, dan sejarah adalah interpretasi masa lalu, bukan masa lalu itu sendiri (lihat Basuki:2003). Dari berbagai tempat yang dikujungi tidak banyak informasi tentang sejarah ubrug itu sendiri, bahkan tahun didirikannya pun masih meraba-raba dengan menyebutkan kejadian yang pernah terjadi pada saat itu. Sehingga beberapa asumsi muncul untuk mengetahui tahun berdiri komunitas tersebut. Namun demikian dari data-data lisan yang didapat kiranya dapat memberikan gambaran mengenai asal-usul kesenian tradisional khususnya ubrug atau lebih dikenal oleh para pelaku dengan sebutan topeng.

Historis Ubrug pada zaman-zaman tersebut di atas, adalah periode yang paling gelap secara tertulis yang mendeskripsikan pementasan ubrug. Penelitpun diharuskan banyak terjun langsung ke grup-grup ubrug terkini untuk menelusuri mata rantai yang terputus, alhasil banyak informasi berserakan di tengah masyarakat. Informasi itu pun hampir seluruhnya lisan.

Kondisi ini pun ditemui ketika peneliti mengunjungi kelompok Cantel dan Tolay, hanya sedikit informasi yang didapat mengenai keberadaan Ubrug di masa lalu. Menurut Sarmani dari grup Cantel yang sudah malang-melintang di dunia Ubrug dan Jaipongan sejak tahun 60-an, sejarah munculnya grup Ubrug hanya bias dipindai mulai dari munculnya grup Ubrug Ican, Sani, Jambul, Ibo, sekitar tahun 1950-an.

Kelompok Ican, Sani, Jambul, dan Ibo ini diprediksikan aktif pada tahun 1900-1935. Sementara kelompok yang Sarmani ketahui pementasannya antara lain kelompok Ponah, Entus, Sendok, Kasmadi, Abe dan Awang. Dia juga memperkirakan bahwasanya Ubrug sudah ada sejak zaman kesultanan, tapi tidak mengetahui bentuknya secara rinci, yang beliau ingat hanya satu kelompok ubrug Ponah yang ada sekitar tahun sebelum kemerdekaan sampai tahun 50-an.

Dari kelompok Ponah inilah banyak banyak berlahiran kelompok ubrug yang ternama, sezaman dengan grup Ponah (Koper Balaraja Kabupaten Tangerang) adalah grup Ribut (Pengawinan Kecamatan Bandung Kabupaten Serang), grup Ranti (Puser Tirtayasa Kabupaten Serang), dan grup Sinar Muda, (Oyong Keresek Tangerang). Generasi berikutnya adalah groip Jari, Senaan, Termos dan lain-lain.

Lokasi Sebaran

Kesenian ubrug terdapat di Kecamatan Cikande bagian utara, Kragilan, Carenang, Pontang, Tirtayasa, Kasemen, Ciruas, Walantaka, Taktakan, Waringin Kurung, Kramat Watu, Bojonegara, Merak, Cilegon, Anyar, Mancak, Cinangka, Ciomas, Pabuaran, Padarineang, dan Pamarayan sebelah utara. Di daerah ini bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Banten, sedangkan yang berbahasa Sunda terdapat di Kecamatan Cikande sebelah selatan, Kopo, Cikeusal, Baros, Pamarayan Timur dan Selatan serta Petir. Di sini istilah ubrug diganti dengan istilah topeng, walaupun dalam pertunjukannya sama dengan ubrug dan tidak memakai topeng. Mungkin hal ini disebabkan karena Kabupaten Serang bagian tenggara berdekatan dengan Kabupaten Bogor tempat topeng Cisalak berada.

Selain menyebar di daerah Serang, kesenian ubrug ini pun berkembang dan tersebar hingga ke daerah Tangerang, Lebak, Pandeglang bahkan sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan. Pertunjukkan ubrug hampir mirip dengan sandiwara lainnya di Tatar Sunda. Juru nandung (wanita) berperan sebagai pembuka permainan dengan menyanyi Nandung atau disebut ronggeng. Bodor atau pelawak pria bermain dan berpasangan dengan juru nandung dan mengadakan tarian sambil melawak seperti permainan ketuk tilu atau jaipongan. Jika mandor atau ketua RT yang menjadi tuan rumah, biasanya ia selalu ikut di dalam permainan sehingga dengan adanya ketua RT ini, permainan semakin komunikatif dan ramai.

Peralatan

Waditra yang digunakan dalam ubrug yaitu kendang besar, kendang kecil, goong kecil, goong angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), bonang, rebab, kecrek dan ketuk. Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco karena alat pemikulnya bernama kanco yaitu tempat menggantungkan alat-alat tersebut.

Busana

Busana yang dipakai yaitu: juru nandung mengenakan pakain tari lengkap dengan kipas untuk digunakan pada waktu nandung. Pelawak atau bodor pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton. Bagi nayaga tidak ada ketentuan, hanya harus memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain disesuaikan dengan peran yang dibawakannya.

Tempat pentas

Ubrug dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda seadanya cukup dengan daun kelapa atau rumbia. Pada saat menyaksikan ubrug, penonton mengelilingi arena. Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala arah.

Perkembangan selanjutnya, Kesenian Ubrug berangsur-angsur digunakan untuk hiburan pada acara hajatan, yakni selamatan pernikahan, khitanan, peresmian gedung baru, dan sebagainya. Sebagai alat penerangnya pada masa lalu adalah obor atau lampu blancong, yang disimpan di tengah-tengah arena pentas dan para pemainnya berada di sekeliling obor atau blancong tersebut. Blancong adalah lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar, yang diletakkan di tengah arena. Lampu blencong ini sama dengan oncor dalam ketuk tilu, sama dengan gembrong atau lampu petromak.

Berbagai sumber dari Internet

Mengenal Tata Kota tentang Hakikat Manusia

Keraton Ngayogyakarta Hadiningratan (https://tourjogjamasjo.com)

“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Alasannya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:

“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..” -Willem von Hogendorp, 1828

Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan pejuang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.

Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancurleburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.

Geometris Keraton Ngayogyakarta Hadiningratan 

Sesudah itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.

Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.

Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita. Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:

1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi”
2. Prinsip Geometris, dijiwai oleh “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”

1. Prinsip Poros

Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluk. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.

“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)

Panggung Krapyak (https://www.selasar.com)

Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.

Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.

Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading (https://pariwisata.jogjakota.go.id)

Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.

Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.

Lima jalan di Alun-Alun Kidul (https://www.google.co.id)

Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.

Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.

Siti Hinggil Alun-Alun Selatan (https://www.explorekeratonyogyakarta.com)

Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.

Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).

Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.

Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).

Masjid Gede Kauman Yogyakarta

Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.

Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.

Jalan Margo Mulyo, dulunya Jalan Ahmad Yani (https://tembi.net)

Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.

Sebagai penyambung Marga Mulya; dulunya jalan Ahmad Yani, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:

Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa,

“Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Jalan Margo Utomo, dulu Jalan Pangeran Mangkubumi (https://tembi.net)

Di ujung Marga Utama, yang dulunya jalan Pangeran Mangkubumi, dahulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).

Tugu Golong Gilig atau Tugu Simbol Yogyakarta (https://mjeducation.com)

Inilah dari Panggung Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu ditelusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.

Prinsip Geometris

Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.

Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.

Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.

“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)

Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.

Gunung Merapi (https://www.google.co.id)

Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.

Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.

Tamansari (https://wisatatourkejogja.com)

Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.

Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan menghimpun kembali kekuatan bersama rakyat. Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.

Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”

Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Gamping di barat lautnya.

Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”

Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.

Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.

Prinsip Konfiguratif

Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.

Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.

Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.

Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut. Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.

Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”

Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23) Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”

Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).

Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)

Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.

Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).

Demikian uraian ringkas tentang Tata Kota Yogyakarta dengan prinsip poros, geometri, serta konfigurasi yang dijiwai oleh berbagai nilai tentang hakikat kemanusiaan dan kehambaan kita. Disusun untuk mangayubagya ulangtahun Kota Yogyakarta ke-259 pekan ini sekaligus bermuhasabah; “Berapa bagian dari prinsip dan nilai tata kota ini yang telah hilang atau kita hilangkan?”

Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.

FB: Salim A. Fillah
t: @salimafillah

Sumber: Salimafillah

Mengenal Tari Hudoq dari Kalimantan Timur


Hudoq adalah tarian tradisional suku Dayak Modang yang terdapat di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tari Hudoq merupakan tarian sakral yang erat kaitannya dengan prosesi ritual atau upacara adat. Saat menari, para penari Hudoq menggunakan topeng menyerupai binatang buas dan terbuat dari kayu. Tubuh mereka ditutupi dengan daun pisang, daun kelapa, atau daun pinang. Masing-masing penari itu memerankan karakter tokoh-tokoh hudoq (gambaran dewa yang memiliki kekuatan gaib). Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Kalimantan Timur.

Tarian ini biasanya di tampilkan pada saat pembukaan lahan pertanian atau setelah menanam padi di ladang. Menurut kepercayaan masyarakat khususnya masyarakat Dayak, tarian ini merupakan ritual permohonan kepada Tuhan agar hasil pertanian mereka di berikan hasil yang melimpah ruah.

Arti


Nama Tari Hudoq di ambil dari kata hudoq yang berarti menjelma. Maka dalam tarian ini penari menggunakan topeng sebagai perwujudan dari hewan atau hama yang di anggap merusak tanaman seperti, tikus, gagak, monyet, babi dan lain lainya. Selain itu ada ada juga topeng yang melambangkan burung elang yang di anggap sebagai pelindung serta memelihara hasil panen masyarakat Dayak dan ada juga topeng manusia yang di lambangkan sebagai para leluhur atau nenek moyang mereka.

Dalam pertunjukannya penari tidak hanya menggunakan topeng saja. Penari juga menggunakan baju yang terbuat dari kulit pohon yang di hiasi rumbai berwarna hijau yang terbuat dari daun pisang atau atau daun kelapa. Baju ini menyimbolkan dedaunan yang di harapkan terus menghijau agar tanaman yang mereka tanam tumbuh subur seperti yang di harapkan. Topeng yang mereka gunakan adalah topeng yang terbuat dari kayu dengan ukiran dan bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan perwujudan yang ingin di tampilkan. Tidak ketinggalan, penutup kepala yang di hiasi dengan bulu burung enggang yang telah menjadi ciri khas dan memiliki arti khusus bagi masyarakat suku Dayak.

Gerakan

(https://www.beritadunesia.com)

Gerakan yang di tampilkan dalam tarian ini adalah perpaduan gerakan tangan dan kaki. Dengan badan tegak penari menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri di setiap langkahnya. Tangan di ayunkan ke atas dan kebawah sambil menepuk paha. Gerakan kaki berjalan dengan di angkat dan menghentak ke tanah sehingga menimbulkan suara hentakan. Gerakan pada kepala hanya mengangguk, bila bagian mulut pada topeng tersebut dapat di gerakan maka topeng tersebut terlihat seperti berbicara.

Dalam tarian ini penari bergerak dalam lingkaran barisan. Penari bergerak dari satu sudut kesudut lain sampai ke empat sudut tersentuh. Kemudian penari duduk bersila dengan berbaris memanjang sambil memanggil roh. Pada saat pemanggilan roh, roh tersebut mulai merasuki mereka seperti kesurupan. kemudian para penari kembali menari seperti semula dan setelah itu duduk kembali. Setelah itu, roh yang merasuki mereka tadi akan keluar dari tubuh mereka dan meninggalkannya.

Mistis

Dalam pertunjukan tari hodoq memang terlihat bernuansa mistis. Dalam pelaksanaan ritual tersebut pawang atau pemimpin upacara memulai dengan pembancaan mantra dengan sesaji yang sudah di persiapkan. Saat para penari duduk berbaris pawang pun menaburkan beras kuning di kepala para penari tersebut sebagai tanda di mulainya acara setelah itu para penari pun menari seperti gerakan tadi dengan iringan musik tradisional suku Dayak. Saat roh merasuki tubuh penari, pawang menyampaikan pesan kepada roh tersebut dengan mengucapkan mantra. Maksud dari mantra tersebut adalah untuk meminta agar roh tersebut menjaga tanaman mereka dan melindungi penduduk desa. Setelah pesan tersampaikan, pawang meminta roh tersebut kembali ke asal mereka. dalam pertunjukan ini bisa berlangsung selama satu jam bahkan sehari.

Tarian hudoq merupakan salah satu tradisi suku Dayak yang terlihat kental akan nuansa mistis. Namun pertunjukan Tari Hudoq ini bisa jadi sarana hiburan bagi masyarakat di saat perayaan menanam padi atau acara adat mereka. Seiring perkembangan, tarian ini tidak hanya di tampilkan dalam upacara adat saja. Namun juga di tampilkan dalam berbagai perayaan budaya masyarakat Kalimantan timur, sebagai hiburan dengan berbagai modifikasi dan kreativitas dalam pertunjukannya.

Sumber: Negeriku Indonesia

Karungut, Puisi Tradisional Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah

Karungut (https://banjarmasin.tribunnews.com)

Puisi tradisional suku Dayak Ngaju. Karungut berasal dari kata karunya yang diambil dari bahasa Sangiang dan bahasa Sangen/Ngaju Kuno. ‘Karunya’ berarti tembang. Puisi tradisional atau puisi rakyat yang dikenal di Kalimantan Tengah ini diwariskan oleh nenek moyang mereka dalam bentuk lagu dan syair yang disusun sendiri oleh penciptanya, sepanjang tidak menyimpang dari kaidah yang telah dianggap baku. Di awal perkembangannya, bahasa yang digunakan dalam karungut adalah bahasa Sangen (Ngaju Kuno), tapi kini sangat jarang dipergunakan lagi. Dahulu salah satu fungsi karungut adalah sebagai media pengajaran. Karena seorang balian (guru atau dukun) menyampaikan pengajaran kepada para muridnya dengan mengarungut. Sementara para muridnya menjawab atau melaksanakan perintah dari gurunya dengan mengarungut pula.

Karungut merupakan karya yang dijunjung masyarakat Dayak sebagai sastra besar klasik dan merupakan semacam pantun atau gurindam. Pelantun karungut mengisahkan syair-syair kebajikan dengan meramu bermacam legenda, nasihat, teguran, dan peringatan mengenai kehidupan sehari-hari. Karungut sering dilantunkan pada acara penyambutan tamu yang dihormati. Salah satu ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan diungkapkan dalam bentuk Karungut.

Karungut (https://kerovphie.wordpress.com)

Karungut adalah salah satu kesenian tradisional yang sangat komunikatif, karena pesan-pesan yang disampaikan berbentuk pantun dalam bahasa daerah Dayak dan mudah dimengerti penontonnya. Karungut diiringi alat musik kecapi, bisa pakai band atau organ. Karungut semacam sastra lisan nusantara untuk Kalimantan Tengah sama dengan Madihin jika di Kalimantan Selatan. Sedangkan di Jawa Tengah disebut Macapat. Dengan kata lain karungut dapat dikatakan suatu irama lagu daerah Kalimantan Tengah untuk melagukan syair-syair atau naskah yang bukan berbentuk syair. Karungut dikenal di sepanjang jalur sungai Kahayan, Kapuas, Katingan, Rungan Manuhing dan sebagian jalur sungai Barito.

Asal-usul

Menurut kepercayaan suku Dayak di Kalimantan Tengah, pada zaman dahulu manusia diturunkan dari langit bersamaan palangka bulau (tetek tatum). Pada waktu berada di bumi, palangka bulau adalah alat untuk menurunkan manusia dari langit ke bumi oleh Ranying Hatalla langit atau dewa para petinggi suku Dayak. Maka dari itulah mulai adanya alunan suara atau tembang-tembang dan sejak itulah Karungut muncul. Bahasa yang digunakan dalam Karungut adalah bahasa Sangiang atau sejenis bahasa Ngaju yang sangat tinggi sastranya digunakan dalam upacara adat dan berkomunikasi dengan roh halus. Dalam kehidupan masyarakat Dayak yang melaksanakan upacara, khususnya upacara adat, keagamaan, perkawinan, dan syukuran selalu di warnai dengan kegiatan kesenian seperti tari Manasai Karungut, Karunya, Tandak Mandau, dan Deder.

Sumber: Wikipedia

Mengenal Kesenian Kentrung dari Jawa Timur

Kesenian Kentrung (https://www.museum-mputantular.com)

Kesenian kentrung yang berkembang abad 16 adalah salah satu bentuk kesenian yang amat kental dengan dua dimensi yaitu dimensi estetik dan istetis yang menjadi unsur utama dalam konstrusi utama kesenian itu sendiri. Alat musik ini terdiri dari kendang rebana, kentrung dan jidur. Sebuah grup terdiri dari 3-7 penabuh dan 1 dalang pembaca patokan Jawa yang berkaitan dengan lakon yang dipentaskan.

Saat itu, kentrung adalah media untuk menyindir penjajahan, dimana masyarakat menciptakan kesenian berupa parikan yang pementasannya diiringi oleh beberapa alat musik, seperti timlung (kentheng) serta terbang besar atau biasa disebut rebana.

Kentrung juga sering disebut seni teater tanpa gerak dan laku. Biasanya, pementasan kentrung berisi parikan muatan lokal yang sarat dengan canda, sehingga kesenian satu ini dulunya sangat diminati warga sebagai salah satu media alternatif untuk mengusir kejenuhan dari penjajahan.

Kentrung adalah kesenian asli Indonesia dari pantai utara Jawa. Kesenian ini menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara. hingga Tuban. Di Tuban, kesenian ini bernama Kentrung Bate, karena berasal dari Desa Bate, Bangilan, Tuban. Pertama kali dipopulerkan oleh Kiai Basiman di era zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an.

Seni Kentrung diiringi alat musik berupa tabuh timlung (kentheng) dan terbang besar (rebana). Seni Kentrung sendiri syarat muatan ajaran kearifan lokal. Dalam pementasannya. seorang seniman menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan. Joke-joke segar sering diselipkan di tengah-tengah pakem, tetap dengan parikan yang seolah di luar kepala.

Parikan berirama ini dilantunkan dengan iringan dua buah rebana yang ditabuh sendiri. Sedangkan beberapa lakon yang dipentaskan di antaranya Amat Muhammad, Anglingdarma. Joharmanik. Juharsah, Mursodo Maling dan Jalak Mas.

Sumber: Spectradancestudio

Mengenal Tarian Gandrung dari Banyuwangi Jawa Timur


Tarian Gandrung adalah seni pertunjukan tarian yang berasal dari Banyuwangi Jawa Timur. Tarian ini muncul sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Gandrung masih satu genre dengan Ketuk Tilu dari Jawa Barat, Tayub dari Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger dari wilayah Banyumas dan Joged Bumbung dari Bali. Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Saking populernya, telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut. Tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Lihat saja di berbagai sudut wilayah Banyuwangi akan sering banyak patung penari gandrung.

Tarian yang diiringi dengan musik ini dimainkan oleh seorang wanita penari profesional yang menari bersama tamu, terutama pria secara berpasangan. Iringan musik tadi merupakan khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Sementara peralatan musik pengiringnya terdiri dari gong, kluncing, biola, kendhang, dan sepasang kethuk. Kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya, baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh.

Cerita Menyangkut Gandrung

Tarian Gandrung (https://suog.co)

Seperti yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu, gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan pembabatan hutan “Tirtagondo (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang). Pembabatan ini dilakukan atas prakarsa bupati kala itu, yakni Mas Alit. Dia dilantik sebagai bupati pada 2 Februari 1774 di Ulupangpang.

Dari cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana. Mereka memainkan peralatan musik tersebut di hadapan penduduk yang mampu secara ekonomi. Para pemain tersebut menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya.

Setiap hari mereka berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur. Kokon, rakyat yang mengungsi tersebut jumlahnya tinggal sekitar lima ribu jiwa. Imbalan tadi disumbangankan kepada para pengungsi.

Kondisi rakyat tersebut sebagai akibat dari penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi. Peperangan tersebut terus berlanjut hingga berakhirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal pada 11 Oktober 1772.

Kompeni memenangkan perang tersebut

Konon, jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau dibuang oleh Kompeni lebih dari 60 ribu jiwa. Sementara sisanya sekitar lima ribu jiwa hidup terlantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan. Mereka terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan. Mereka terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi memiliki orangtua.

Mereka mau kembali ke kampung halamannya untuk memulai kehidupan baru. Sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang akan dijadikan ibu kota. Lalu mereka menetap di ibu kota yang baru dibangun atas prakarsa Mas Alit. Ibu kota tersebut kemudia diberi nama Banyuwangi. Tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni. Mereka membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni.

Pertama kalinya yang melakukan tarian gandrung adalah para lelaki, yang didandani seperti perempuan. Instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung ini adalah kendang. Saat itu, biola telah digunakan. Gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890-an. Diduga lenyap karena ajaran Islam melarang lelaki berdandan seperti perempuan. Sebenarnya, tari gandrung laki-laki benar-benar lenyap tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun mulai mewajibkan setiap siswa dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi.

Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.

Perkembangan selanjutnya, tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta, Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat.

Sumber: Kebudayaan Indonesia