Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Alat Dapur Tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alat Dapur Tradisional. Tampilkan semua postingan

Kompor Minyak, Musnah dalam Waktu Cepat

Kompor minyak tanah yang relatif masih mulus, kini tinggal jadi barang kenangan

Kompor minyak tanah termasuk peralatan dapur tradisional masyarakat Jawa yang juga pernah dipakai pada beberapa dekade lalu setidaknya sebelum tahun 2000. Biarpun keberadaannya sekarang telah jauh berkurang jika dibandingkan 10-an tahun lalu, namun pada masanya, kompor minyak menduduki posisi penting sebagai alat dapur, terutama di perkotaan dan sebagian masyarakat pedesaan di Jawa.

Sebelum muncul booming kompor gas, hampir semua penduduk kota menggunakan kompor minyak dengan berbagai tipe. Begitu pula bagi masyarakat pedesaan, terutama dari kalangan mampu, seperti perangkat desa, pedagang, juga banyak menggunakan kompor minyak. Kompor minyak sangat banyak digunakan kala itu, karena harga minyak tanah masih terjangkau, terutama bagi kalangan menengah ke bawah di perkotaan atau kalangan menengah ke atas di pedesaan. Harga minyak tanah kala itu masih mendapat subsidi dari pemerintah.

Namun setelah ada kebijakan konversi minyak tanah ke gas, kompor minyak tanah ditinggalkan. Karena kebijakan itu dibarengi dengan pencabutan subsidi minyak tanah yang otomatis membuat harganya naik bisa 3 kali lipat atau lebih. Apalagi, pada awal penerapan kebijakan konversi, pemerintah menggratiskan kompor, selang, dan tabung gas. Selain itu, harga gas ditetapkan lebih murah daripada harga minyak tanah.

Boleh dikata, nasib kompor minyak lebih tragis dibandingkan tungku tradisional yang lebih kuno lagi, seperti keren, luweng, anglo, dan dhingkel. Kompor itu hampir punah dalam hitungan tahun saja. Namun begitu, tetap masih ada yang menggunakan kompor minyak saat ini, walaupun jumlah penggunanya sudah sangat jarang, salah satunya adalah perajin batik.

Kompor minyak masih digunakan jasanya oleh para perajin batik untuk memasak “malam”

Mereka masih mempertahankan kompor minyak dengan alasan mereka bisa mengatur besaran nyala api yang dipakai untuk memasak “malam”, bahan untuk membatik. Namun begitu kompor minyak yang digunakan adalah kompor minyak berukuran kecil. Walaupun sebenarnya penggunaan kompor minyak tanah menambah pengeluaran mereka - karena harga minyak tanah jauh sudah lebih mahal jika dibandingkan dengan dahulu - tetapi apa boleh pilihan itu harus diambil supaya proses pembuatan kerajinan batik, terutama batik tulis tetap bertahan.

Potensi punah kompor minyak tanah di kalangan perajin batik pun kian terang sekarang ini terutama oleh kehadiran kompor listrik untuk memasak “malam” (semacam lilin) sebagai pengganti kompor minyak. Memang baru sedikit perajin batik yang menggunakan kompor modern ini, tapi bisa jadi akan makin banyak penggunanya jika hitungan ekonominya lebih murah ketimbang kompor minyak.

Kompor minyak digunakan untuk memasak nasi. Kini tinggal kenangan

Kompor minyak sebagai alat dapur yang sudah termasuk tradisional (untuk saat ini) hampir dapat dipastikan sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat Jawa, kecuali untuk kepentingan tertentu saja, seperti untuk keperluan membatik dan menjadi koleksi museum. Walaupun sudah tidak digunakan lagi, namun setidaknya masyarakat perlu tahu bahwa kompor minyak pernah berjaya.

Ketika kompor minyak masih berjaya, hampir di setiap warung kelontong atau pasar-pasar tradisional mudah dijumpai kompor minyak. Bahkan mal-mal dan swalayan juga menjual berbagai jenis kompor minyak mulai berharga puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Bahan kompor ada yang terbuat dari “blek” atau sejenis aluminium tipis hingga lempengan besi yang menggunakan tabung kaca.

Kompor-kompor itu didatangkan dari perusahaan kompor berskala rumah tangga hingga keluaran pabrikan. Salah satu merk kompor minyak yang terkenal saat itu adalah “Butterfly”. Entahlah, setelah ada kebijakan konversi minyak ke gas, ke mana keberadaan perajin-perajin kompor tersebut. Mungkin mereka beralih profesi.

Pada umumnya, kompor minyak buatan rumah tangga (buatan sederhana) terdiri beberapa bagian yaitu tabung, sumbu, tempat sumbu, sarangan, tarikan, dan badan kompor. Tabung minyak berada di bagian bawah, tempat menyimpan minyak tanah sebagai sumber energi.

Tabung minyak disambungkan dengan tempat sumbu di bagian atasnya, yang bisa dibuka dan ditutup. Di bagian ini ada lubang kecil tempat menuangkan minyak tanah ke dalam tabung. Tempat sumbu terdiri dari belasan lubang kecil melingkar dan menjulang ke atas setinggi sekitar 10 cm. Tempat sumbu inilah sebagai tempat untuk menempatkan sumbu-sumbu hingga menyentuh minyak tanah yang berada di tabung minyak. Sementara sumbu bagian atas disembulkan sedikit sebagai tempat nyala api. Sumbu-sumbu di bagian atas dikelilingi oleh sarangan, agar nyala api stabil dan tidak kena angin.

Lalu, sarangan terdiri dari 3 buah, di bagian dalam dan tengah, keduanya mengapit sumbu api. Kedua sarangan ini dibuat berlubang-lubang kecil memenuhi semua bidang yang melingkar. Tujuannya untuk sirkulasi api dan agar warna api bisa biru sehingga tidak menimbulkan jelaga pada panci dan sejenisnya. Sarangan bagian luar dibuat tertutup rapat, tidak berlubang dan biasanya lapisan aluminium lebih tebal daripada kedua sarangan yang berlubang. Tarikan berfungsi untuk membesarkan atau mengecilkan api. Jika ditarik ke atas, api akan membesar, jika ditarik ke bawah, api akan mengecil. Tarikan ini dihubungkan dengan lempengan tempat sumbu yang berada di tabung minyak. Badan kompor, biasanya menghubungkan semua bagian itu mulai dari kaki hingga atas tempat menaruh barang untuk memasak (panci, ceret, wajan, atau sejenisnya).

Itulah sekelumit alat dapur tradisional berupa kompor minyak yang pernah menghiasi dapur-dapur warga masyarakat Jawa. Sayangnnya sekarang sudah sangat jarang ditemui di berbagai tempat. Museum, bisa jadi menjadi salah satu tempat untuk mengoleksi alat dapur tradisional ini.

Sumber: Tembi-1 dan Tembi-2

Luweng

Sebuah luweng yang masih dipakai oleh warga rumah tangga di dusun Tembi, Bantul

Alat memasak yang satu ini bentuknya mirip dhingkel, hanya saja lebih panjang. Artinya, lubangnya lebih dari satu, bisa dua atau tiga memanjang ke belakang. Jadi sekali memasak, bisa dipakai untuk dua atau tiga masakan sekaligus. Sementara bara api yang dimasukkan dalam luweng itu hanya melalui satu mulut, yaitu di bagian depan. Itulah sebuah tungku tradisional yang disebut dengan luweng.

Umumnya luweng juga berbentuk U memanjang ke belakang. Bisa dibuat permanen atau sementara. Tungku jenis ini sering digunakan untuk memasak partai besar, baik untuk keperluan hajatan maupun warung, seperti jualan gudeg, sambal goreng, atau lainnya. Dibuat permanen jika digunakan dalam waktu lama.

Biasanya luweng yang bersifat permanen ini, dibuat dari batu bata merah yang dipoles atau dilumuri dengan adonan tanah liat atau semen, sehingga lebih kuat. Sementara yang bersifat sementara seringkali dijumpai saat masyarakat mempunyai hajatan. Bentuknya sederhana, hanya terbuat dari batu bata merah yang disusun berbentuk U memanjang ke belakang. Biasanya jika hajatan sudah usai, luweng sementara segera dibongkar.

Seperti tungku dhingkel, tungku luweng juga menggunakan bahan bakar berupa kayu, bambu atau sebangsanya. Namun, perlu diingat, karena luweng dipakai untuk memasak partai besar, maka biasanya apabila bara api telah jadi, maka kayu-kayu yang dipakai adalah kayu yang awet menyala dan membara, seperti kayu asem, kayu mlanding, kayu mahoni, kayu karet, kayu mangga, dan sebagainya.

Lubang paling depan biasanya digunakan untuk menanak nasi atau sayur yang diusahakan segera matang. Lubang bagian kedua, karena api yang mengarah ke belakang kurang besar, maka sering dipakai untuk memasak air atau masakan yang tidak segera dipakai. Bisa juga dipakai untuk “ngangeti” atau memanaskan masakan yang sudah matang (jadi).

Seperti dhingkel, bagian-bagian pada luweng namanya sama, seperti “cangkem luweng” (mulut luweng) berada di depan dan jumlahnya hanya satu, luasnya cukup lebar, sekitar 30x40 cm, atau bisa lebih kecil dan lebih besar. Mulut luweng fungsinya sebagai tempat menaruh kayu bakar yang dipakai untuk memasak.

Lalu ada bolongan ‘lubang’ luweng yang jumlahnya 2, 3, atau 4 buah. Terletak di bagian atas. Fungsinya untuk menaruh alat memasak, seperti kwali, dandang, kenceng, dan sebagainya. Bagian lain bernama lawe, yang berada di kanan kiri setiap lubang luweng, yang berfungsi sebagai landasan alat memasak yang ditaruh di luweng. Bisa juga lawe terbuat dari kreweng atau pecahan tembikar. Fungsi lawe, agar api yang berasal dari mulut luweng bisa masuk ke sela-sela lawe dan alat memasak yang ada di atasnya, sekaligus sebagai sirkulasi udara pada perapian. Bagian lain adalah ganjel kayu yang diletakkan di depan mulut luweng. Dipakai untuk landasan kayu yang akan dibakar, agar ada sirkulasi udara pada api yang membakar kayu.

Biasanya tinggi luweng pada lubang ke satu, ke dua, ke tiga, dan ke empat agar berbeda. Semakin ke belakang semakin tinggi, fungsinya agar api semakin ke belakang semakin naik. Namun ada juga tinggi lubang per luweng dibuat sama.

Sumber: Tembi

Keren

Keren baru yang dijual oleh pedagang

Jenis tungku tradisional lain yang juga sering dipakai oleh masyarakat Jawa dulu hingga sekarang adalah Keren. Wujud tungku jenis ini sepintas mirip dengan anglo, tetapi kalau diperhatikan dengan seksama ternyata ada perbedaan. Bahannya sama terbuat dari tanah liat. Bentuk dan ukuran juga hampir sama. Yang membedakan adalah tanpa adanya sarangan di tungku yang berjenis keren ini.

Boleh jadi, keren ini perpaduan antara dhingkel dan anglo. Tungku jenis keren menggunakan bahan bakar berupa kayu, sabut kelapa, “blarak” (daun kelapa kering), bilah bambu, dan sejenisnya. Bahan bakar seperti ini juga digunakan pada tungku jenis dhingkel. Bedanya, kalau dhingkel terbuat dari susunan batu bata merah yang berbentuk U, keren terbuat dari tanah liat. Keren lebih praktis dipindah dibandingkan dengan dhingkel.

Sama dengan anglo, keren juga ada yang kecil dan besar. Keren kecil sering dipakai untuk memasak sehari-hari, keren besar biasanya hanya untuk keperluan memasak dalam jumlah besar, misalnya saat ada hajatan selamatan, pernikahan, dan lainnya.

Walaupun keberadaan tungku jenis keren mulai terdesak oleh kompor gas, namun sebagian masyarakat Jawa, terutama yang tinggal di desa, masih menggunakan keren sebagai alternatif untuk memasak. Salah satu alasan mereka menggunakan keren karena mereka (para wanita paruh baya yang ada di desa) kalau menggunakan kompor gas takut meledak. Selain itu, peralatannya mahal dan susah merangkainya komponennya.

Lepas dari berbagai alasan di atas, tungku keren ini merupakan salah satu ciptaan masyarakat Jawa di masa lampau yang masih bertahan hidup, meski kain redup.

Seorang ibu di sebuah desa di Bantul memasak dengan keren. Bahan bakar yang digunakan adalah bilah bambu kering dan batok kelapa

Memasak dengan peralatan keren merupakan pilihan sederhana dari masyarakat Jawa, baik yang tinggal di pegunungan maupun dataran rendah, seperti pantai dan lembah. Bagi masyarakat kelas bawah, peralatan memasak seperti ini mudah diperoleh karena banyak dijumpai di pasar tradisional dan warung-warung dekat rumah. Harganya pun murah, hanya Rp 5.000 (untuk ukuran kecil) hingga Rp 10.000 (untuk ukuran besar).

Untuk kebutuhan bahan bakarnya, tidak perlu repot memikirkannya, karena banyak dijumpai di sekitar rumah tanpa harus membeli. Banyak bahan bakar yang bisa digunakan mulai dari “blarak” (daun kelapa kering), sabut kelapa, ranting-ranting bambu, belahan bambu, ranting-ranting pohon, dedaunan kering, serbuk gergajian, “kawul” (kayu bekas pasahan), tempurung kelapa, bonggol bambu, dan lain sebagainya.

Ciri utama bentuk keren adalah seperti anglo tanpa sarangan. Bagian atas berlubang besar untuk tempat api keluar, mulut samping juga besar tempat memasukkan bahan bakar. Di samping kanan kiri mulut keren ada lubang-lubang kecil, masing-masing berjumlah tiga berfungsi untuk sirkulasi udara. Di bibir atas keren ada tiga benjolan kecil berfungsi untuk meletakkan alat memasak yang ditaruh di keren, seperti panci, wajan, kwali, dan lainnya. Dengan demikian, udara selain lewat lubang-lubang kecil, juga bisa lewat sela-sela benjolan tadi.

Cara menyalakan api juga cukup sederhana. Beberapa bahan bakar kering dimasukkan ke keren lewat mulut keren yang ada di samping. Lalu api disulutkan pada sepucuk kertas atau daun kering, kemudian dimasukkan di sela-sela bahan bakar yang sudah ada di dalam keren. Sebentar kemudian api akan menyala dan membakar bahan bakar lain yang ada di keren.

Sebaiknya bahan bakar diselingi dengan bahan bakar yang tidak cepat habis terbakar, contohnya bonggol, “dhongklak” bambu atau bilahan kayu/bambu. Fungsinya agar tidak berulangkali memasukkan bahan bakar ke keren. Jika api sudah stabil, maka alat memasak bisa diletakkan di atas keren, misalkan hendak menanak nasi, maka kwali segera diletakkan di atas keren. Bisa juga untuk memancing nyala api menggunakan sedikit minyak tanah.

Apabila nyala api terlalu besar, maka bahan bakar di dalam keren bisa dikurangi, demikian sebaliknya jika kurang, bahan bakar bisa ditambah. Pengaturan api keren berfungsi untuk menjaga kestabilan api seperti yang diinginkan. Sebab jika tidak stabil, artinya terlalu besar atau kecil, masakan bisa “gosong” atau tidak segera masak.

Apabila api mati, bisa ditiup dengan mulut atau dengan bantuan kipas maupun “semprongan” (bambu berlubang). Itu bisa dilakukan apabila di dalam keren sudah ada “mawa” atau bara api. Jika belum ada, maka penyalaan api atau “cethik geni” bisa dilakukan ulang. Apabila di dalam keren sudah banyak abunya, maka sebaiknya abu dikeluarkan dulu. Abu ini bisa dipakai untuk pupuk tanaman atau digunakan untuk “asah-asah” (mencuci) perabotan memasak yang kotor. Biasanya sekarang sudah diganti dengan deterjen pencuci piring lainnya.

Itulah sekelumit pengertian tentang alat memasak tradisional yang disebut keren. Tentunya alat ini lama-kelamaan akan ditinggalkan dan hanya akan menambah koleksi museum, karena sudah tidak dianggap praktis lagi. Apalagi pendukung pemakainya yaitu si pembuat keren sudah tidak ada, entah mungkin tinggal satu dekade atau satu abad mendatang.

Sumber: Tembi-1 dan Tembi-2

Anglo, Si Kompor Tanah Liat

Anglo untuk memasak berukuran sedang atau besar

Anglo adalah jenis alat memasak lain selain dhingkel. Anglo juga disebut tungku yang terbuat dari tanah liat. Alat memasak ini masih sering digunakan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini, walaupun jumlah penggunanya terus berkurang.

Namun, para pedagang makanan mulai dari warung angkringan, bakmi, soto, hingga gudeg banyak yang masih menggunakan “kompor tanah” itu. Para pedagang yang tetap menggunakan anglo punya alasan yakni untuk mempertahankan cita rasa masakannya yang khas. Mereka khawatir jika menggunakan alat memasak lain akan mempengaruhi rasa masakannya.

Anglo dibuat secara tradisional oleh perajin gerabah, yang hingga saat ini masih banyak dijumpai di sejumlah desa di Jawa, termasuk di sentra-sentra gerabah seperti desa Kasongan dan desa Pundong Bantul. Sebagian perajin perorangan juga masih memproduksi. Mereka memproduksi anglo dan peralatan memasak lain dari gerabah biasanya mewarisinya secara turun-temurun. Anglo dan peralatan memasak tradisional lainnya, hingga kini juga masih dijual di pasar-pasar tradisional.

Bentuk tubuh anglo biasanya berbentuk silinder. Bagian atas berbentuk bundar, dan ada bagian yang menonjol di tiga tempat yang berfungsi sebagai landasan alat memasak (kwali, panci, dsb). Di sela-sela bagian yang menonjol itu berfungsi sebagai ruang bagi aliran udara dan api dari lubang bawah.

Di bagian tengah (tempat bara api) ada lubang-lubang kecil yang disebut sarangan anglo. Fungsi lubang itu untuk aliran udara yang dikipaskan dari lubang bagian bawah. Di bagian samping bawah ada satu lubang besar yang disebut mulut anglo. Apabila lubang ini dikipasi, maka udara akan masuk lewat lubang sarangan, naik ke atas ke tempat bara api sehingga bara api akan menyala dan memanasi barang yang diletakkan di atas bara api.

 Anglo kecil ini untuk mencairkan malam, bahan untuk keperluan membatik

Anglo menggunakan bahan bakar khusus berupa arang, yang bisa dibeli dari perajin arang atau pedagang arang. Arang yang berwarna hitam ini terbuat dari kayu-kayu yang dibakar dan mengalami proses pendinginan. Arang yang baik untuk bahan bakar anglo biasanya terbuat dari kayu-kayu yang keras, seperti kayu asem, kayu mlanding, maoni, dan sebagainya. Dianggap arang baik karena bara apinya bisa bertahan lama, dan tidak mudah menjadi abu.

Ukuran anglo bermacam-macam, ada yang besar dan kecil, disesuaikan dengan alat tempat masak. Ada ukuran anglo dengan tinggi badan 21 cm, lingkar tengah 28 cm dan lebar mulut anglo 11 cm. Ada juga yang berukuran lebih kecil dan besar. Untuk memasak malam, yaitu bahan dalam proses membatik, membakar dupa atau lainnya, biasanya memakai anglo ukuran kecil. Untuk memasak dengan memakai kwali, tentu perlu menggunakan anglo ukuran besar.

 
Anglo menjadi andalan penjual angkringan untuk memasak makanan, dan membuat minuman hangat

Anglo jarang dipakai untuk memasak dalam rumah tangga karena bahan bakarnya harus dibeli. Anglonya sendiri juga harus dibeli dan sangat jarang orang bisa membuatnya sendiri. Tidak seperti dhingkel, yang bahan bakarnya tidak harus dibeli, karena bisa didapat di kebun sendiri, terutama bagi warga yang tinggal di pedesaaan dan yang mempunyai pekarangan luas. Maka biasanya anglo hanya hadir pada waktu-waktu tertentu, seperti ketika sedang punya hajatan atau acara selamatan. Namun bagi masyarakat yang mampu membeli bahan bakarnya yaitu arang, terutama para pedagang yang harus menggunakan anglo untuk mempertahankan citarasa masakan, maka kehadiran anglo adalah wajib.

Walaupun anglo jarang digunakan dalam skala rumah tangga, namun sebenarnya penggunaan anglo lebih bersih jika dibandingkan dengan dhingkel atau alat lain yang menggunakan bahan bakar kayu. Anglo tidak menimbulkan asap yang berlebihan, sehingga tidak membuat “buleg”, artinya asap tidak memenuhi ruangan dapur, sehingga tidak mengganggu pernapasan dan mata si pemasak. Selain itu, nyala apinya juga stabil dan tidak begitu membahayakan dinding dapur yang biasanya terbuat dari “gedheg”, atau anyaman bambu. Jika menggunakan dhingkel, api besar yang menyala kadang bisa membakar dinding dapur.

Kelebihan lainnya penggunaan anglo, adalah ketika bara api telah menyala stabil, bisa ditinggal dan “disambi” mengerjakan pekerjaan lain, seperti “memarut” (mengukur kelapa), mengiris bumbu dan lainnya. Baru ketika arang sudah banyak menjadi abu, bisa ditambah lagi dengan arang. Jika masih ada nyala bara api, biasanya tidak perlu dikipasi lagi. Sesaat kemudian, arang sudah akan terbakar sendiri.

Anglo hanya meninggalkan sedikit abu yang berada di dasar anglo. Jika sudah banyak, abu tersebut biasanya diambil dan dibuang di luar dapur atau halaman rumah. Sementara sebelum menjadi abu, arang biasanya dibakar dengan bantuan “blarak” (daun kelapa kering), “sepet” (sabut kelapa) kering, kertas, atau bahkan tetesan minyak tanah. Bahan-bahan tersebut dinyalakan dengan api kemudian membakar arang-arang dalam anglo. Sembari dikipasi, tidak lama kemudian arang akan menyala dan akan menjadi “mawa” (bara api) yang dapat memanaskan barang yang berada di atas anglo.

Tidak semua masyarakat Jawa yang ada di pedesaan memakai anglo untuk memasak setiap hari. Namun, biasanya setiap rumah tangga memiliki walaupun fungsinya untuk cadangan sebagai alat memasak. Sebab, penggunaan anglo kadang juga lebih efektif, misalkan untuk “ngangeti” (memanasi ulang) masakan yang sudah jadi. Agar tetap awet dan tidak basi, serta jika ingin makan dalam suasana hangat, maka masyarakat Jawa dulu, harus memasak ulang makanan yang sudah dingin. Langkah yang efektif, biasanya dengan menyalakan anglo. Selain itu, kelebihan anglo, tidak mudah membuat alat masak lain menjadi kotor. Lain jika menggunakan dhingkel, maka alat memasak lain (wajan, kwali, dsb) akan mudah kotor oleh asap kayu api. Bahkan asap yang menempel di alat memasak itu akhirnya menjadi “angus” (jelaga) yang sulit untuk dibersihkan.

Namun masyarakat juga harus hati-hati menggunakan anglo. Alat memasak yang berada di atas anglo harus disesuikan dengan besarnya anglo. Sebab, jika tidak seimbang, artinya alat memasak yang berada di atas anglo terlalu berat bebannya sehingga akan memudahkan anglo retak. Jika anglo sudah retak, maka tidak bisa direkatkan lagi dan artinya harus membeli baru. Kalau tidak waspada, bisa jadi saat memasak dengan beban terlalu berat dan kondisi anglo retak, alat masak yang ada di atasnya akan terguling.

Yang perlu dicatat, penggunaan anglo tidak ada hubungannya dengan hari-hari tertentu dan tidak ada pantangan-pantangannya. Siapapun boleh menggunakan anglo. Demikian pula mengenai waktunya, tidak harus saat-saat tertentu menggunakan anglo.

Sumber: Tembi-1 dan Tembi-2

Dhingkel


Dhingkel adalah alat dapur yang digunakan untuk membakar kayu untuk mamasak. Dhingkel ini biasanya terbuat dari batu bata merah yang disusun berbentuk U dan memiliki satu lubang atas. Selain batu bata, bisa juga dhingkel terbuat dari susunan batu atau benda lain yang dianggap keras, kuat, dan tahan lama sebagai dasar untuk memasak. Fungsi dhingkel sama dengan kompor atau kompor gas.

Dhingkel termasuk alat dapur yang hingga kini masih dipakai oleh warga masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Sebagian masyarakat kota masih menggunakan alat dhingkel sebagai ganti kompor, khususnya untuk memasak dalam skala besar, seperti saat punya hajatan dan sejenisnya. Digunakan dhingkel bisa karena dianggap lebih irit atau kebetulan masih memiliki stok kayu. Memang alat dapur dhingkel khusus untuk memasak dengan bahan dasar kayu dan sejenisnya.

Dhingkel bisa disebut dhingkel terbuka dan dhingkel berlubang. Dikatakan dhingkel terbuka apabila bagian depan, tempat memasukkan kayu, tidak diberi batu bata merah. Namun jika diberi batu bata merah di bagian atas, disebut dhingkel berlubang. Pada dhingkel terbuka, kayu bisa leluasa dimasukkan ke lubang dhingkel. Hanya saja, kadang kwali atau panci bisa goyang, karena keseimbangan kurang. Pada dhingkel berlubang, tempat memasukkan kayu terbatas, sehingga kayu tidak mudah leluasa masuk. Hanya saja, pada dhingkel berlubang posisi kwali atau panci lebih kuat karena ditahan oleh empat sisi.

Munculnya alat memasak seperti dhingkel ini, didasari di daerah pedesaan masih banyak kayu bakar dan sejenisnya yang digunakan untuk memasak. Kayu-kayu itu bisa dicari sendiri tanpa harus membeli. Kayu-kayu itu biasa dipakai untuk memasak kebutuhan sehari-hari. Tetapi kadang-kadang kayu juga harus dibeli, tetapi harganya masih jauh lebih murah jika harus menggunakan minyak tanah atau gas. Selain itu dhingkel muncul waktu lampau, karena saat itu belum umum menggunakan kompor, kompor gas, atau bahkan kompor listrik.

Ketika memasuki zaman global, ternyata sebagian masyarakat Jawa, mayoritas tinggal di pedesaan hingga saat ini masih mengandalkan dhingkel. Selain praktis juga karena pertimbangan ekonomis, dan bisa dibuat sendiri dengan mudah.

Sumber: Tembi