Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Kreasi Batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreasi Batik. Tampilkan semua postingan

Kini Batik Jakarta Tak Hanya Ondel-ondel

KOMPAS/RADITYA HELABUMI 
Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Mufidah Jusuf Kalla (berkacamata) melihat salah satu koleksi kerajinan saat pembukaan Galeri Dekranasda Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota Jakarta, Rabu (5/8). Galeri tersebut merupakan wadah bagi perajin untuk berkreasi dan mengembangkan potensi ekonomi daerah.

Selama ini, kain batik khas Jakarta identik dengan motif ondel-ondel, tugu Monumen Nasional, dan penari betawi. Jika sekarang Anda ingin memiliki batik khas Jakarta, tidak perlu khawatir dengan motif yang itu-itu saja. Flora dan fauna khas Jakarta akan menyemarakkan koleksi batik Anda.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta, Rabu (5/8), meluncurkan motif baru untuk semua bentuk kerajinan, seperti batik, anyaman, kain perca, keramik, logam, dan plastik. Bertajuk Smara Cintya Puspanagari atau kecintaan pada bunga-bunga negeri, ditampilkan batik dan kerajinan bermotif flora dan fauna khas Jakarta, antara lain salak condet, daun sirih kuning, bunga melati gambir, bunga kembang teleng, bunga nona makan sirih, bunga kerak nasi, bunga tapak dara, bunga bungur, bunga flamboyan, elang bondol, bulus, kupu-kupu, dan burung kipasan elang.

Turut memeriahkan acara itu peragaan busana oleh para artis senior, seperti Widyawati, Marini Soerjosoemarno, dan Nungki Kusumastuti. Hadir pula penyanyi Shelomita dan Marcella Zalianty beserta putra-putri mereka.

Para desainer Indonesia pun menampilkan kreasi terbaik dalam mengolah motif baru itu. Wenni Vielga dari Rumah Kebaya menampilkan tema "Menjejak Tapak Dara". Ia menampilkan bunga tapak dara di atas kain cerah dengan nuansa putih dan merah muda. Riana Kusuma dari Batik Riana Kusuma memanfaatkan kesegaran warna daun sirih dalam batik bernuansa hijau dan kuning, dihiasi dedaunan dan sulur-suluran dalam tema "Nona Makan Sirih". Sementara Emma Damayanti dari Rumah Betawi mempersembahkan "The Flower of Jakarta" bernuansa hitam putih dengan hiasan beragam bunga cerah.

Menggali identitas lain

Ketua Dekranasda DKI Jakarta Veronica Tjahaja Purnama mengatakan, Jakarta semacam Indonesia kecil dengan kekayaan flora dan fauna khas. "Jakarta perlu identitas yang lain. Kami coba menggali dan ditemukanlah flora dan fauna meski saya juga belum lulus ujian, belum hafal," tuturnya sambil tertawa.

Dia lalu meminta agar suaminya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, mulai menanam aneka flora khas Jakarta tersebut di sekitar Balai Kota Jakarta. Veronica berharap agar keindahan flora dan fauna Jakarta bisa menginspirasi para perajin untuk lebih kreatif mengembangkan karya mereka.

Acara peluncuran motif baru tersebut sekaligus peresmian Galeri Dekranasda DKI Jakarta oleh Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla. Galeri ini, lanjut Veronica, merupakan solusi dari keprihatinan panjang tentang kurangnya fasilitas dan ruang pamer di tengah melimpahnya hasil kreativitas warga.

Galeri itu menampilkan beragam hasil kerajinan, mulai dari kain batik, sarung bantal, piring hias, dompet, tempat tisu, taplak meja, hingga tas tangan. Harganya beragam mulai dari Rp 25.000 hingga jutaan rupiah.

"Acara semacam ini tidak bisa sekali selesai. Kami ingin memiliki ruang yang berkelanjutan. Di Balai Kota ini banyak pegawai berlalu lalang, kenapa tidak dibuka satu toko khusus," katanya.

Veronica juga ingin agar para ibu rumah tangga yang kini menghuni rumah susun sederhana di sejumlah lokasi bisa diberdayakan untuk menghasilkan aneka kerajinan. Menurut dia, ini adalah langkah awal untuk memperluas sebaran motif kerajinan baru sekaligus menggerakkan roda perekonomian di rusun.

Mufidah mengapresiasi langkah DKI Jakarta menciptakan motif kerajinan baru dan galeri baru. Dia mendorong agar kreativitas semacam ini terus dikembangkan untuk mendukung perekonomian masyarakat. "Kerajinan dapat menjadi lapangan pekerjaan. Saya berharap Dekranasda DKI Jakarta dapat meningkatkan kemampuan perajin dalam teknik produksi, desain produk, dan manajemen produksi, sekaligus mendorong upaya pelestarian bahan baku," ujarnya.

Sumber: Print Kompas

Pelopor Lukisan Teknik Jumputan


Karya seni selalu berkembang jika pelaku seninya kreatif. Moto inilah yang menjadi dasar bagi Suharno Manaf (67) mengembangkan kain jumputan, tak hanya sekadar kain biasa, tetapi dikreasikan menjadi lukisan yang bernilai seni tinggi. Dengan cara ini, ia memperkenalkan kain jumputan kepada masyarakat hingga ke dunia internasional yang jadi impiannya.

Teknik jumputan adalah cara pemberian motif di atas kain yang dilakukan dengan mengisi dan melipat kain dengan cara tertentu, kemudian mencelupkannya pada larutan pewarna. Bagi Suharno, membuat kain dengan teknik jumputan tidaklah sulit, terbukti untuk membuat pola dasar jumputan, ia hanya membutuhkan waktu 10 menit.

Beberapa langkah sederhana ditunjukkan Suharno, Jumat (27/11). Dimulai dengan menyiapkan kain putih, menentukan pola, dan mengikat kain menggunakan tali rafia untuk menutupi bagian tertentu agar tidak terkena pewarna saat dicelupkan. Langkah selanjutnya adalah mencelupkan kain pada air detergen, tujuannya agar pori-pori kain terbuka. Kemudian ditiriskan sampai kadar air berkurang.

Selanjutnya, kain dicelupkan ke larutan naftol netral, yakni larutan campuran bubuk naftol, turkish red oil (pelarut cat batik), dan soda api. Beberapa menit kemudian, kain tersebut dicelupkan ke pewarna sesuai keinginan pembuatnya. Saat pewarnaan selesai, tali rafiayang menjadi penutup kain dibuka, maka akan terdapat bercak putih yang akan menjadi perpaduan motif yang serasi.

Prosesnya memang agak njelimet, jelas Suharno, tetapi jauh lebih mudah dibanding proses membatik biasa.

Lukisan

Kreativitas Suharno tidak berhenti sampai di sana. Dengan proses yang mudah ini, perajin kain jumputan di Sumatera Selatan selama ini hanya menjadikan kain jumputan sebagai pakaian. Padahal, teknik jumputan ini bisa dimanfaatkan untuk membuat lukisan.

Bagi Suharno, garis, warna, dan tekstur merupakan media yang efektif untuk menyampaikan ekspresi pribadi dan menanggapi apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Serta untuk mewujudkan refleksi lingkungan yang ada, apakah itu figuratif, nonfiguratif, ataupun keduanya.

Dari filosofi inilah, Suharno menganggap lukisan dapat dituangkan pada media apa saja, termasuk dari kain jumputan. Ide membuat lukisan jumputan dihasilkannya dari peristiwa yang tak terduga. Terbiasa membuat kain dengan teknik jumputan membuatnya jenuh. Pada awal tahun ini, ia menjadikan kain jumputan sebagai media lukis baru.

"Ada keunikan yang tidak terduga dan artistik yang kadang-kadang terjadi di luar pemikiran," ucapnya.

Jika dibandingkan dengan lukisan cat air atau cat minyak, lukisan dengan teknik jumputan jauh lebih sulit. Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti memikirkan gradasi warna yang tepat dan menentukan pola serta motif yang sesuai agar dapat dipadupadankan dengan gambar yang diinginkan. Tak heran, untuk membuat satu lukisan jumputan, Suharno membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima hari, tergantung dari kerumitan pola dan ukuran kain.

Selain itu, untuk membuat kesenian dengan teknik jumputan, dibutuhkan banyak air karena pada setiap warna harus dilakukan dengan air yang tak terkontaminasi warna lain. "Satu titik warna saja bisa sangat berpengaruh pada kain yang dihasilkan," ucapnya.

Untuk membuat lukisan, ia memilih menggunakan kain berbahan katun 100 persen. Kain jenis ini lebih mudah menyerap sehingga perpaduan warna akan lebih optimal.

Tahun ini, Suharno menciptakan 20 lukisan jumputan. Semua lukisan berjenis nonfigur beraliran abstrak. Di antara lukisan itu, ada yang diberi judul "Mentari Berduka", "Celah Hijau", "Fatamorgana", dan "Turso".

Setiap lukisan memiliki cerita tersendiri. Ambil contoh, lukisan bernama "Mentari Berduka", menceritakan musibah kabut asap yang menimpa Sumsel beberapa waktu lalu. Saking pekatnya asap, mentari pun seakan meredup layaknya orang berduka.

"Lukisan dengan cat air, cat minyak, sudah biasa, menggunakan media jumputan mungkin yang pertama kalinya di Indonesia," kata pria yang sudah 10 kali menggelar pameran tunggal ini.

Beragam kreasi jumputan pun dilakukan, misalnya dengan melumuri zat lilin pada lukisannya untuk memberikan kesan timbul. Atau mencoba membuat kaligrafi dengan teknik jumputan. Suharno memang seorang pelukis, yang sudah menghasilkan sejumlah lukisan cat minyak, cat air, lukisan digital, dan lukisan kolase (media tempelan kertas).

Maklum, darah seni dari sang ayah, Abdul Manaf, mengalir di tubuhnya. "Dulu, saya sering diajak ke pameran lukisan oleh bapak. Dari sana saya sudah tertarik melukis," ucapnya.

Kini, melalui lukisan di atas media jumputan, ia ingin memperkenalkan kain jumputan menjadi karya seni ternama layaknya batik.

"Dulu, ada nama Amri Yahya yang melukis di atas media batik. Hasil karyanya mampu memberikan sumbangsih besar bagi ketenaran batik sampai ke kancah internasional. Siapa tahu, jumputan juga bernasib sama," kata pria yang pernah mengecap pendidikan kedokteran di Universitas Sriwijaya ini.

Langkah Suharno memperkenalkan jumputan di antaranya dilakukan dengan memberi pembelajaran pada komunitas, anak sekolah, dan mahasiswa. Sewaktu menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Palembang pun, Suharno juga menyematkan materi jumputan.

Seperti saat Kompas bertemu dengannya. Suharno sedang memberikan materi kepada 21 peserta yang tinggal di kawasan seberang ulu dua, Palembang. Dua jam kemudian, peserta dapat menghasilkan kain jumputan.

"Jika ada yang berminat belajar, saya siap datang," katanya. Dengan cara ini, Suharno berharap dapat meneruskan teknik jumputan kepada generasi selanjutnya dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian anak didiknya.

Direncanakan sebuah pameran tunggal dengan metode jumputan akan dilakukannya pada April tahun depan di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan. Dalam pameran itu, akan ada 60 karya lukisan yang dipamerkan.

Sumber: Print Kompas

Batik, Kecerdasan Kreasi Warga

Seorang mahasiswa Jurusan Teknik Batik Politeknik Pusmanu, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, memperlihatkan cara membatik pada selembar kain, di pameran batik, Rabu (1/4). Selama ini, batik terus berkembang di Kota Pekalongan, hingga menjadi bagian dari pendidikan formal di wilayah tersebut. Dari kreativitas batik yang tumbuh dan berkembang di Kota Pekalongan. UNESCO menobatkan Kota Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia, pada 1 Desember 2014.

Batik dan Kota Pekalongan ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Batik menjadi napas bagi warga kota yang tinggal di pesisir pantai utara Jawa Tengah itu. Di setiap sudut kota hampir bisa ditemui penjual kain atau pakaian batik dengan aneka model.

Sentra penjualan batik tumbuh di wilayah itu, seperti Pasar Grosir Batik Setono, Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Pesindon, dan sentra kain tenun dari olahan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Kelurahan Medono.

Di sudut perkampungan Kota Pekalongan, bahkan di gang sempit sekalipun, bisa ditemui pekerja batik. Bukan hanya orang tua, anak-anak pun larut dalam aktivitas terkait batik.

Anak kecil ikut belajar membatik, seperti pada pameran batik dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-109 Kota Pekalongan, Rabu (1/4) lalu. Mereka tampak asyik menggoreskan canting pada selembar kain putih, berukuran sekitar 20 sentimeter x 20 sentimeter. Mereka juga tak canggung berhadapan dengan asap dari lilin batik atau malam yang dimasak dalam wajan kecil.

"Kami biasa menggunakan canting," kata Eka Salma Aulia (9), siswa kelas IV. Padahal, warga Jalan Indragiri, Kota Pekalongan, itu tidak lahir dari keluarga pembatik. Orangtuanya adalah pedagang makanan. Eka bisa menggunakan canting untuk membatik motif sederhana karena mendapatkan pelajaran membatik di sekolah. Pelajaran membatik menjadi bagian muatan lokal pada kurikulum sekolah di Pekalongan.

Ratusan tahun

Batik berkembang di Kota Pekalongan sejak ratusan tahun silam. Ribuan motif batik tercipta dari tangan pembatik yang setiap saat mengasah kreativitasnya. Motif itu antara lain buketan yang berasal dari pengaruh Belanda dan Eropa, yang menampilkan paduan aneka bunga, pohon, burung, angsa, dan kupu-kupu, serta motif hokokai yang berasal dari pengaruh Jepang dan motif kontemporer yang saat ini terus berkembang.

Sebuah motif yang kini menjadi ikon Kota Pekalongan ialah jlamprang, yang sebenarnya merupakan motif kuno. Motif itu berbentuk diagonal, menyerupai mata angin dan simetris satu sama lain. Jlamprang bisa berbentuk bulat atau kotak. Bentuk itu simbol hubungan yang selaras antara manusia dan alam serta manusia dengan Tuhan.

Selain untuk pakaian, warga Kota Pekalongan juga menghasilkan aneka suvenir dan hiasan berbalut motif batik. Lampu, sepeda, helm, pigura foto, piring, tempat tisu, hingga botol pun dihiasi motif batik. Semua barang bisa dihias dengan batik sehingga memiliki nilai yang lebih tinggi.

Begitu hidupnya kreativitas warga Kota Pekalongan untuk mencipta aneka kreasi batik membawa kota ini meraih penghargaan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Pada 1 Desember 2014, Kota Pekalongan ditetapkan sebagai Kota Kreatif Dunia, yang merupakan bagian dari jejaring UNESCO World Creative Cities untuk kategori kerajinan dan kesenian rakyat. Dengan demikian, Kota Pekalongan menjadi satu dari 28 kota kreatif dunia dan menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang mendapat gelar itu.

Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad menyatakan, penghargaan itu diperoleh dari sebuah proses panjang. Batik memenuhi kriteria untuk menjadikan Pekalongan sebagai kota kreatif karena memiliki sejarah masa lalu. Batik juga masih hidup pada masa sekarang dan menjadi penghidupan masyarakat. Ke depan, batik juga memiliki masa depan, seiring dengan kreativitas yang terus ditumbuhkan dalam masyarakat.

Lokomotif kota

Menurut Basyir, sejak tahun 2005, Pemerintah Kota Pekalongan berusaha menemukan lokomotif bagi perekonomian di wilayah itu. "Saya melihat ada dua, yaitu batik dan tekstil serta ikan," ujarnya. Pemerintah pun melengkapi batik dengan ekosistem batik, yaitu melalui pendidikan dan sentra batik. Beberapa tahun terakhir, batik dijadikan sebagai bagian dari kurikulum sekolah, mulai SD hingga SMA. Pelajaran membatik adalah muatan lokal yang wajib diajarkan semua sekolah.

Kota Pekalongan memiliki SMK batik dan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan batik, yaitu Politeknik Pusmanu dan Universitas Pekalongan, yang memiliki Program Studi D-3 Teknologi Batik pada Fakultas Batik.

Kepala Program Studi D-3 Teknologi Batik Fakultas Batik Universitas Pekalongan Mutadin menjelaskan, sejak dibuka tahun 2011 hingga saat ini, jumlah mahasiswa pada program studi itu 52 orang. Saat ini dua mahasiswa asing, dari Jepang dan Korea Selatan, belajar batik di Universitas Pekalongan.

Pada jenjang pendidikan tinggi itu, mahasiswa belajar tentang filsafat batik, desain batik dengan cara manual atau komputer, batik dan malam (lilin batik), kewirausahaan, serta kimia bahan. Pemerintah Kota Pekalongan memberikan dukungan pada perkembangan program studi teknologi batik antara lain melalui beasiswa bagi siswa yang menempuh program studi tersebut. Mereka dibebaskan dari biaya masuk Rp 1,5 juta per orang.

Basyir menambahkan, batik masuk ke sekolah agar masa depan warisan budaya tak benda itu tetap ada. Pendidikan batik juga sebagai upaya mengilmiahkan batik sehingga tidak hanya menjadi warisan turun-temurun yang dikuasai sebagian masyarakat. "Kalau kita mengilmiahkan batik, kita bisa bersaing secara profesional," katanya. Pemkot Pekalongan membuat museum batik sebagai jendela batik masa lalu, masa sekarang, dan masa depan pula. Pada museum itu juga terdapat bengkel batik, yang menjadi pusat pelatihan bagi masyarakat yang menginginkan. Ekosistem batik juga ditumbuhkan melalui kampung batik. Batik pekalongan diperkirakan menguasai 70 persen pasar batik nasional.

Sumber: Print.kompas

Indri, Kembangkan Batik Gendong


Selama ini masyarakat mengenal kain batik gendong sebagai alat bantu untuk mengendong bayi. Namun ternyata kain batik gendong itupun bisa dijadikan busana berupa sackdress, tanktop, blouse, celana serta rok yang cantik dan unik.

Kekhasan batik gendong yakni corak seperti bunga, naga, ikan dan warna yang cerah sehingga menimbulkan kesan ceria. Batik ini semakin unik dengan garis-garis di bagian ujung kain yang elok untuk dijadikan busana.

Berkreasi dengan batik gendong untuk dijadikan baju-baju resmi, kantor maupun casual. Itulah usaha yang ditekuni Hendrati Hapsari (32) atau yang biasa disapa Indri dengan butiknya yang diberi nama butik Candrakanti.

Usaha yang dimulai dari kecintaannya dengan berbagai macam batik ini ternyata berawal dari ketidaksengajaan. Ia sendiri merupakan penggemar batik untuk outfit resmi dan juga casual. "Saya memang penggemar batik dan punya banyak koleksi juga, ibu saya juga penggemar batik. Banyak koleksinya yang diberikan ke saya," ujar dia.

Meski begitu, untuk model baju yang dikenakan ia sangat pilih-pilih. Biasanya ia pun membuat sendiri baju batiknya agar tidak sama dengan yang dikenakan orang lain. Hal itupun kini menjadi salah satu keunggulan butiknya, yakni hanya ada satu model untuk satu baju.

"Kan nggak seru juga kalau pas ke acara pesta ternyata kita pakai baju yang sama dengan tamu lain," kata dia.

Istri dari Imanuel Citra Senjaya (34) ini mengaku awalnya ia membuat kreasi batik gendong untuk dirinya sendiri. Baju itu merupakan hasil penjahit langganannya dengan model sesuai keinginannya.

"Pas saya pakai ada teman yang bilang, kenapa enggak dijual aja, kan belum banyak yang berkreasi dari batik gendong, akhirnya dengan dukungan suami saya niatkan untuk mulai usaha," cerita wanita yang juga seorang karyawan swasta ini.

Ia kemudian mulai merintis butiknya sejak setahun lalu. Usahanya pun berawal dengan modal sedikit untuk membeli kain dan menjadikan beberapa potong baju sebagai contoh. Kini ia sudah bekerjasama dengan sejumlah penjahit. Dan untuk model baju, sebagian bekerjasama dengan designer lepas.

Respons konsumen pun lumayan bagus dan kini terus meningkat. Berawal dari teman-teman dekat kemudian dipasarkan secara online dengan memanfaatkan twitter, instagram dan juga facebook.

Kreasinya bukan hanya untuk kaum hawa, melainkan juga ada yang untuk para lelaki. Kini hasil karya butik Candrakanti sudah dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia. "Paling banyak dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta," ujarnya.

Selain memilih koleksi yang sudah ready, konsumen pun ditawarkan untuk bisa memesan sesuai keinginan. Harga koleksi baju-baju batik gendong tersebut mulai dari Rp150 ribu. "Kalau untuk nama Candrakanti sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta, artinya cantik bagai rembulan. Harapannya, konsumen yang mengenakan produk kami terlihat cantik dan unik," kata dia lagi.

Sumber: Kompas

Pemuda Asal Jawa Tengah Ini Kembangkan Batik Bakau


Siapa sangka, buah bakau yang membusuk dan berjatuhan di bibir pantai ternyata dapat mengubah perekonomian penduduk pesisir di dua desa di Semarang, Jawa Tengah.

Di tangan Cahyadi Adhe Kurniawan, pemuda yang kala itu masih sebagai mahasiswa di Universitas Diponegoro, buah bakau yang membusuk bisa diolah menjadi pewarna batik yang kini dikenal sebagai batik bakau.

"Awalnya saya berpikir banyak sekali sampah mangrove (propagul) yang menutupi saluran air di tambak milik masyarakat. Lalu saya cari tahu dan riset bagaimana cara memanfaatkannya," katanya usai ditemui pada temu media 'Hilo Green Leader' di Jakarta, Kamis (8/10/2015).

Berawal dari coba-coba, Cahyadi melakukan riset selama satu tahun untuk menemukan jenis mangrove yang menghasilkan pewarna alami yang baik untuk batik.

"Jadi yang saya pakai khusus yang sudah membusuk. Tinggal mungutin aja," imbuhnya.

Pewarna alami yang terbuat dari bakau ini menghasilkan warna dengan gradasi coklat. Oleh karena itu, kain batik bakau masih didominasi dengan warna-warna gelap. Bahkan untuk mendapatkan warna yang diinginkan, batik tersebut harus dicelup 10 sampai 15 kali dalam pewarna bakau.

"Dicelup pun tidak langsung celup. Celup sekali, keringkan. Setelah kering, celup lagi, kemudian dijemur. Celup-jemur, celup-jemur, begitu seterusnya hingga memperoleh warna yang diinginkan," Terang Cahyadi merinci.

Hingga kini, ia sudah membina dua desa di daerah pesisir Semarang dengan total 12 ibu rumah tangga. Bahkan ia kerap diminta beberapa pemerintah daerah yang memiliki kampung pesisir seperti Deli Serdang, Batam, Jambi, Belitung, dan Rembang untuk melatih masyarakat mengolah bakau menjadi pewarna batik dan menghasilkan kain batik.

Salah satu grand finalist Hilo Green Leader ini tak hanya memanfaatkan bakau untuk menghasilkan produk yang siap jual. Ia bersama masyarakat binaannya juga memiliki program penanaman kembali bakau untuk melestarikan ekosistem bakau.

"Ekosistem mangrove hanya sekitar 15 hektar di Semarang. Empat dalam kondisi baik sedangkan 11 hektar lainnya sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dengan melakukan penanaman bakau secara rutin kita bisa menyelamatkan 11 hektar itu," paparnya.

Ke depan, ia berharap bisa membuat kampung batik di Semarang untuk menyatukan desa binaan yang mengembangkan usaha batik bakau.

Sumber: Suara

Bolu Batik yang Lezat dan Unik


Bolu batik tidak jauh berbeda dengan japanes roll cake yang juga mengandalkan kreasi gambar di bagian atasnya. Namun bila Japanes Roll Cake lebih menekankan pada gambar animasi maka Bolu batik lebih menonjolkan berbagai gambar motif batik yang sudah dikenal luas.

Dalam merintis usaha bolu batik sebenarnya tidak membutuhkan modal besar, selain karena peralatan yang digunakan tidak ada yang khusus hanya peralatan membuat kue pada umumnya, bahan baku yang dipakai juga mudah didapat. Seperti saya pada memulai membuat bolu batik, modal yang saya keluarkan tidak lebih dari Rp 1 juta yang digunakan untuk peralatan dan bahan baku.

Yang menjadi modal utama hanyalah keinginan yang kuat dan terus berkreasi untuk membuat produk yang berkualitas. Untuk mendapatkan rasa, bentuk dan tekstur kue yang pas memang tidak muda, paling tidak harus mencoba belasan kali hingga bisa mendapatkan bolu batik sesuai keinginan.

Motif Batik

Bolu Batik (https://bolubatik.com)

Ada dua hal yang menjadi jualan utama bolu batik, yaitu bentuk yang unik dan pastinya rasa. Mengenai bentuk, bolu batik ini menyerupai kain batik yang digulung dengan ukuran panjang sekitar 24 cm dan bisa dipotong menjadi 20 bagian. Untuk motif batiknya sendiri hampir semua motif batik yang ada bisa diaplikasikan pada kue ini seperti motif batik Selendang Gendong, batik Kawung hingga motif batik Sido Mukti.

Selain bermacam motif, bolu batik ini juga memiliki bermacam isian atau filling antara lain cokelat, keju, strowberry, blue berry dan lain sebagainya. Dari berbagai filling yang ada rasa keju yang banyak diminati para konsumen.


Dengan nilai seni yang terkandung di dalamnya, tekstur bolu yang lembut serta butter cream yang seperti es krim dan tidak enek memberikan nilai jual lebih pada produk yang Saya buat. Untuk satu buah bolu batik di jual dalam kisaran Rp 75-100 ribu tergantung motif batik yang dipilih dan fillingnya, karena semakin sulit motif batik yang diinginkan membuat nilai jualnya juga akan semakin tinggi.

Bahan Baku dan Peralatan

Pembuatan bolu batik ini tidak sulit namun diperlukan keberanian untuk mencoba. Bila masih kesulitan untuk memulainya, kursus pembuatan bolu batik yang Saya buka bisa menjadi jalan keluarnya. Kursus pembuatan bolu batik atau Batik Roll Cake dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu dengan biaya untuk satu kali kursus sebesar Rp 400 ribu.

Secara garis besar untuk membuat bolu batik hampir sama dengan membuat bolu gulung. Yang pertama adalah penyiapan peralatan seperti loyang, kukusan, mixer dan lain sebagainya. Sedangkan untuk bahan bakunya hampir sama seperti membuat bolu biasa yaitu telur, gula, tepung terigu hingga pewarna makanan. Untuk pewarna makan, biasanya saya menggunakan pewarna yang sudah besertifikat halal sehingga aman untuk digunakan.

Untuk membuat bolu batik ini tidak memakan waktu lama hanya sekitar 30 menit. Bagi yang tidak bisa melukis batik secara langsung, maka motif batik bisa didapat dari internet lalu di print dan tempel motif batik yang sudah di-print ke atas loyang lalu alasi atasnya dengan menggunakan kertas roti dan motif batik siap di jiplak.

Pemasaran

Memasarkan bolu batik tidak terlalu sulit karena bentuknya yang unik dapat menarik minat masyarakat yang melihat untuk membeli. Pembelian akan berlanjut apabila rasa bolu yang ditawarkan enak dan sesuai dengan lidah para konsumen. Memanfaatkan media sosial dan penawaran langsung kepada teman dan kerabat juga merupakan pemasaran efektif yang bisa dilakukan. Dengan pemasaran tersebut, tidak heran bila bolu batik tidak hanya disukai konsumen dalam negeri, para konsumen luar negeri juga banyak yang tertarik dengan keunikan dan rasa yang menggoda pada bolu batik. Seperti Singapura, Malaysia bahkan hingga India.

Sumber: Fastnewsindonesia

Detergent, Bahaya untuk Kain Batik


Sahabat GPS Wisata Indonesia, jika anda penggemar batik dan kain tradisional lainnya, sudah tahukah bagaimana cara merawat yang benar?. Pasti sebel jika batik yang kita beli beberapa bulan yang lalu dan baru beberapa kali dipakai, warnanya sudah pudar dan kusam. Bisa jadi anda salah dalam perawatannya. Perlakukan kain batik anda secara istimewa, jangan asal-asalan dalam merawatnya, apalagi batik anda tergolong batik yang langka, mahal atau batik yang umurnya cukup tua yang diwariskan turun temurun.

Logikanya, ketika kita memakai batik, kita tidak akan melakukan pekerjaan yang berat, misal kerja di bengkel yang penuh oli ataupun kerja di sawah yang penuh lumpur. Jadi dalam mencucinya pun tak perlu menggunakan bahan kimia yang berat, misal mencuci dengan detergent.

Detergent (https://sabunthenaturalstory.blogspot.com)

Perawatan terpenting pada kain batik adalah bagaimana cara mencucinya, sabun apa yang dipergunakan, dan bagaimana cara pengeringannya pasca dicuci. Untuk kain dan busana batik sangat dianjurkan tidak menggunakan deterjen ketika mencuci. Deterjen tidak cocok untuk kain batik dan kain tradisional lainnya. Proses pencucian yang salah dan penggunaan detergent saat mencuci bisa merusak tekstur kain dan warnanya. Selain menggunakan detergent, banyak orang yang menyarankan mencuci batiknya dengan sabun mandi dan sampoo.

Penggunaan sabun dan sampoo untuk membersihkan batik memang lebih baik ketimbang detergent. Sabun terbuat dari lemak nabati atau hewani yang dipanaskan dengan larutan alkali seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida. Kandungan sampoo pada umumnya berupa bahan pembersih yang berupa sistem surfaktan, kadang ditambahkan pula sedikit booster busa untuk mengubah sifat busa yang dihasilkan surfaktan. Bahan surfaktan yang umum digunakan berupa surfaktan anionik, seperti natrium lauril eter sulfat (juga sering disebut natrium lauret sulfat), natrium lauril sulfat, dan senyawa amonium. Sabun dan sampoo biasanya digunakan untuk membersihkan kotoran yang berhubungan langsung dengan kulit manusia. Sedangkan, detergent digunakan untuk membersihkan pakaian yang tidak berhubungan langsung dengan tubuh manusia. Sehingga penggunaan sampoo dan sabun pada kain batik lebih lembut dan aman ketimbang detergent.

Detergent (https://sabunthenaturalstory.blogspot.com)

Detergent merupakan hasil dari kemajuan teknologi, namun dampaknya sangat merusak lingkungan. Detergent adalah campuran zat kimia dari sintetik maupun alam yang memiliki sifat dapat menarik zat pengotor dari kain. Detergent merupakan pembersih yang terdiri dari zat aktif permukaan (surfaktan), fosfat, silikat, pemutih, pewangi, penimbul busa, optical brightener (bahan yang membuat pakaian lebih cemerlang), bahan aktif linear alkil sulfonat (LAS), atau natrium benzena sulfonat (Na-ABS). Detergent memiliki kadar pH yang sangat basa (9,5-12), sehingga bersifat korosif, sifat ini dapat merapuhkan kain batik. Zat pembersih seperti chlorine, zat kimia yang banyak dipakai sebagai pemutih dalam deterjen membutuhkan waktu selama 150 tahun untuk terurai sempurna. Zat chlorine ini bisa memudarkan keindahan warna kain batik. Saat ini ada beberapa produsen detergent yang membuat detergent cair khusus untuk kain batik. Bahannya terdiri dari 13.9% Lauryl Ether Sulfate dan 3% Alkyl Polyglucoside. Kandungan pembersihnya berasal dari bahan alami sehingga warna tidak mudah pudar dan memberikan wangi yang segar dan natural.

Attack Batik Cleaner (Sumber: https://www.ulasan-review.com)

Memang kandungan zat dalam bahan sampoo dan sabun lebih baik dan ramah, tidak terlalu merusak kain dari pada penggunaan detergent dalam membersihkan kain batik. Namun sebaik-baiknya bahan tersebut tetap mengandung bahan kimia yang bisa merusak lingkungan dan juga merusak keindahan kain baik. Pilihalah cara tradisional, walau terkadang agak repot namun lebih ramah dan tidak merusak kain batik.

Jika memamng tak ada pilihan lain dan anda harus menggunakan sampoo, sabun, dan detergent dalam pencucian kain batik. Pilihlah produk yang tepat dan ramah lingkungan. Dari sekian banyak produk yang beredar di pasaran, apakah ada yang benar-benar ramah lingkungan?. Meskipun untuk membuktikan produk yang ramah lingkungan harus melalui uji laboratorium, tetapi kalian juga dapat ikut mencegah pencemaran lingkungan dengan cara meminimalkan pemakaian sabun, sampoo, dan detergen sesuai takaran yang dianjurkan dalam mencuci kain batik. Beberapa orang masih berpedoman bahwa mencuci batik agar tetap cemerlang harus melalui drycleaning. Padahal bahan kimia drycleaning juga bisa merusak warna asli dari batik itu sendiri.


Buah Lerak (https://alchemistviolet.blogspot.com)

Ternyata cara tradisional dalam mencuci batik lebih aman, ramah lingkungan, serta tidak merusak kain batik. Beberapa orang masih menggunakan tambuhan lerak untuk mencuci batiknya. Selain bisa membersihkan kotoran, lerak juga bisa mengawetkan warna kain batik. Kini di pasaran juga tersedia sabun lerak siap pakai. Untuk pembahasan cara perawatan batik yang benar, sebaiknya langsung baca tentang Lerak.

Sangat disayangkan jika kain atau busana batik rusak karena perawatan yang tidak tepat. Dengan cara yang tepat dalam membersihkan, mengeringkan, menyetrika, dan menyimpan kain atau busana batik anda bisa tahan lama dan awet keindahannya. Kini, anda bisa menganggap kain batik sebagai investasi pribadi. Tak ada salahnya, selain melestarikan kekayaan kain Nusantara, kita juga melestarikan lingkungan sekitar dengan meminimalisir penggunaan detergent.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Fitinline

Lerak

Lerak atau Sapindus Rarak DC (https://othervisions.wordpress.com)

Dalam artikel “13 Tip Perawatan Batik”, lerak menjadi bahan yang disarankan untuk mencuci kedua kain tersebut. Tetapi, tak banyak dari kita yang mengetahui apa itu lerak. Dan mengapa lerak?

Tanaman Lerak memiliki nama latin Sapindus Rarak DC. Penyebutannya berbeda-beda di setiap daerah. Orang Sunda menyebutnya Rêrêk, orang Minang menyebutnya Kanikia. Di Jawa, sebutannya adalah Lerak/Werak. Orang Palembang menyebutnya Lamuran, sedangkan di Jambi disebut Kalikea.

Pohon lerak merupakan tanaman liar yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia, terutama Jawa dan Sumatera. Ketinggiannya bisa mencapai 42 meter. Pohon lerak baru akan menghasilkan buah setelah berusia 30 tahun. Untuk memanen tak perlu repot-repot, sebab buah lerak akan jatuh dengan sendirinya.

Pohon Lerak (https://harimurtee.wordpress.com)

Buah dan biji lerak berbentuk bulat. Komposisinya 73% daging buah yang berwarna kuning kecoklatan, dan 27% biji yang berwarna hitam. Daging buah lerak beracun. Dia mengandung saponin, suatu alkaloid beracun. Tetapi bagian inilah yang mengeluarkan busa dan digunakan untuk mencuci.

Lerak sebagai sabun cuci memiliki keunggulan daripada deterjen yang dijual di pasaran. Mencuci batik menggunakan lerak, membuat kualitas kain terjaga, dan lebih awet. Ketika dimasukkan ke dalam air, Saponin membuat air menjadi “lebih basah”. Hal ini membuat Saponin mudah masuk ke dalam serat kain, mengikat kotoran, dan melepaskan kotoran dari air cucian.

Sebagai sabun cuci, lerak tidak menimbulkan efek licin. Dia juga tidak menghasilkan banyak busa seperti deterjen. Hal ini justru membuat kita menghemat air. Sebab, untuk membilas cucian tidak diperlukan banyak air. Selain itu, air bekas cucian menjadi ramah lingkungan. Bisa digunakan untuk menyiram halaman ataupun tanaman.

Salah satu contoh Lerak dalam kemasan (https://www.kayanabatik.co.id)

Lerak tak hanya bisa digunakan untuk mencuci pakaian. Dia bisa digunakan untuk membersihkan perabot rumah tangga, misalnya piring atau tempat makan plastik. Lemak yang menempel pada peralatan plastik sangat susah dihilangkan. Nah, lerak merupakan salah satu solusinya, sebab lerak sangat mudah melarutkan lemak.

Di Kota Gede, Yogyakarta, lerak biasa digunakan untuk membersihkan perak. Lerak juga bisa digunakan untuk mencuci perabotan kayu dan kaca. Selain itu, kandungan racun pada biji lerak berfungsi untuk pembunuh serangga. Selain untuk mencuci batik, tenun, ataupun pakaian, lerak juga bisa digunakan sebagai sabun wajah untuk mengurangi jerawat. Hmmm...ternyata banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari buah lerak. Mungkin kita belum pernah melihat buah ataupun pohonnya. Mungkin kita juga berpikir apakah harus menanamnya? Kemudian bagaimana mengolahnya? Jangan khawatir, saat ini lerak yang sudah diolah dapat kita temui di toko-toko batik. Kita juga bisa membelinya melalui internet. Selamat mencoba!

Sumber: Fitinline

Teknik Membatik Kain Sutra

Beragam kain batik Sutra (https://www.infofashionterbaru.com)

Selamat hari Jum’at sahabat GPS Wisata Indonesia, semoga hari ini anda lebih bersemangat dalam beraktivitas. Hari Jum’at sudah ditetapkan menjadi hari batik nasional, sudahkan anda memilih busana batik yang akan dikenakan hari ini. Pilihlah busana dengan bahan yang nyaman agar menunjang aktivitas dan penampilan anda. Bahan untuk pembuatan batik beraneka ragam, salah satunya yaitu kain sutra. Dalam proses membatik kain sutra diperlukan teknik yang sedikit berbeda agar kain batik sutra menjadi kain yang semakin istimewa.

Teknik membatik kain sutra sebenarnya tidak berbeda dengan batik-batik jenis lainnya, bedanya hanya pada penggunaan bahan dasar kainnya dan proses pelorodan. Batik sutra menjadi pilihan para pecinta batik karena bahannya berkualitas, lembut, enak dipakai dan tidak licin. Selain itu, kain sutra juga lebih memancarkan warna dari corak batik itu sendiri, sehingga pemakainya pun tampak lebih elok dan menawan.

Batik Sutra

Beragam Kain batik Sutra (https://www.penjahitkebaya.com)

Proses pada batik sutra bisa menggunakan teknik batik tulis, batik cap, batik sablon maupun batik printing. Namun kali ini kita akan membahas mengenai teknik batik tulis pada kain sutra. Prosesnya kurang lebih sama dengan proses pembuatan batik pada kain atau mori katun. Siapkan bahan dan alat untuk membatik yaitu kain sutra, canting (alat pembentuk motif), gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), malam, wajan, kompor dan bahan pewarna.

Tahapan proses membatiknya yaitu pertama membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada. Membuat desain atau motif ini dapat menggunakan pensil. Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam menggunakan canting dengan mengikuti pola tersebut. Tahap selanjutnya, menutupi dengan malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan malam tidak terkena. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu. Setelah dicelupkan, kain tersebut dijemur dan dikeringkan. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua. Proses berikutnya, menghilangkan malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas di atas tungku. Setelah kain bersih dari malam dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan malam (menggunakan alat canting) untuk menahan warna pertama dan kedua. Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan. Proses selanjutnya adalah nglorod, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan malam, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (malam tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.

Proses Membatik

Sedang membatik (https://abduhharis21.wordpress.com)

Pada proses pewarnaan, bisa menggunakan teknik celup tutup ataupun colet tutup. Kain sutra mudah dalam penyerapan warna, sehingga warna bisa maksimal. Prinsipnya semua zat warna batik dapat digunakan untuk mewarnai batik sutra namun karena proses penghilangan malam pada kain sutra yang sedikit bermasalah maka sebaiknya menggunakan zat pewarna yang memiliki ketahanan yang kuat seperti cat indigosol, rapid, dan napthol. Namun penggunaan warna alam pada batik sutra juga akan terlihat maksimal. Warna alam pada batik sutra akan nampak semakin mengkilap semakin bertambah lamanya usia kain. Kain sutra memiliki anyaman tenun cukup padat sehingga benang-benang dalam kain tidak bergeser bila kena tekanan atau tarikan. Karena proses pembuatan batik berhubungan dengan rendaman dalam air (basah), maka sebaiknya twist pada benang sutera jangan terlalu tinggi untuk menghindari mengkerutnya kain pada proses basah. Batik sutera tidak selamanya berupa kain sutera murni, namun dapat dikombinasikan dengan cara ditenun menggunakan benang lain seperti tetron katun atau acetat rayon. Bila terjadi campuran dan tidak diketahui maka akan timbul problema dalam proses pewarnaan.

Untuk proses menghilangkan malam pada batik sutra harus menggunakan teknik khusus. Malam batik memiliki tendensi melekat lebih kuat pada kain sutra dari pada kain katun. Untuk itu ada beberapa cara untuk menghilangkannya, cara pelepasan dengan air panas alkali. Cara ini menggunakan malam batik dengan campuran khusus untuk menghindarkan atau mengurangi bahan pokok malam yang mengakibatkan sukar lepas (seperti malam bekas, mata kucing dan paraffin kasar). Dalam air lorodan ditambahkan soda abu dan air lorodan akan menjadi alkalis (pada pH tidak lebih dari 9,5 atau soda abu tidak lebih dari 0,1%). Cara kedua menggunakan bensin. Lilin yang melekat pada kain akan larut dan kain pun menjadi bersih. Cara ini mudah akan tetapi banyak yang tidak menggunakan karena resiko kebakaran). Cara ketiga yaitu cara kombinasi antara pelepasan dan pelarutan. Kain dimasukan dalam air lorodan yang kemudian dicampur dengan pelarut malam seperti bensin, benzol, minyak tanah dalam bentuk emulsi sehingga dapat bercampur dengan air serta mengurangi resiko kebakaran.

Proses Melorod

Proses Melorod (https://www.pressphoto.co)

Banyak orang memilih kain sutra untuk dikenakan dalam berbagai kesempatan karena pada saat dijahit menjadi baju, kain ini sangat menyesuaikan pola atau bentuk tubuh pemakainya, sehingga akan terlihat lebih indah. Oleh karena keistimewaan kain sutra ini, maka perawatannya pun istimewa. Batik sutra dapat bertahan lama keindahannya bila dirawat dengan baik dan benar.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Fitinline

Macam-Macam Kain untuk Batik


Tahukah kamu jenis kain apa saja yang yang bisa di batik ??

Ternyata tak semua jenis kain bisa dibatik, hanya kain berbahan tertentu yang bisa digunakan agar hasil batikan maksimal. Kain yang digunakan untuk batik harus memenuhi persyaratan teknis antara lain tidak rusak karena pengaruh proses batik, dan dapat diberi warna pada suhu dingin atau suhu kamar karena lilin batik sebagai perintang warna tidak tahan suhu panas. Pada umumnya jenis-jenis kain yang dapat dibuat dari serat alami seperti serat selulosa atau tumbuh-tumbuhan dan serat protein atau binatang dapat memenuhi persyaratan tersebut. Sesuai dengan persyaratan teknis tersebut, kain yang dapat digunakan untuk batik adalah kain kapas dan kain sutra.

Macam-Macam Kain untuk Batik

Kain Kapas

Kain kapas adalah kain yang terbuat dari serat kapas. Sifat umum kain kapas adalah daya serapnya baik, tahan terhadap panas, kelenturannya rendah, penghantar panasnya baik. Beberapa jenis kain kapas yang dapat digunakan sebagai bahan dasar batik yaitu: Kain mori, Kain kapas grey, Kain rayon dan Kain kaos kapas.

Kain Mori

Kain Mori Primissima (https://batiktulisharisa.com)

Kain Mori adalah kain tenun benang kapas hasil olahan pabrik dengan anyaman polos dan diputihkan. Kain mori ada beberapa macam yaitu: mori primissima, mori prima, mori biru, mori voalisima, dan berkolin. Mori Primissima, termasuk jenis kain mori yang paling tinggi kualitasnya dengan spesifikasi halus nomor benangnya, tebal benangnya tinggi, konstruksi anyaman rapat sehingga pegangan kainnya halus dan padat. Namun demikian kemampuan daya serap kurang. Sehingga untuk meningkatkan daya serap, saat ini telah diproduksi mori primissima mercerized maupun sanforized. Di pasaran antara lain dapat ditemukan dengan merek dagang Kereta Kencana, Crown, Bendera. Mori Prima, merupakan mori kualitas sedang dengan spesifikasi nomor benang sedikit lebih kasar, tebal benang lebih rendah. Saat ini juga telah diproduksi mori prima mercerized dengan merek dagang antara lain Bendera, Gong, Kupu, Ayam Mas, Menjangan. Mori Biru, merupakan mori kualitas rendah dengan spesifikasi nomor benang, tebal benang dan pegangan kain lebih kasar. Dipasaran dapat dijumpai antara lain dengan merek dagang Cendrawasih, Nanas, Garuda Dunia. Mori Voalisima, kualitasnya sama dengan mori primissima hanya tebal benangnya lebih rendah. Berkolin, kualitasnya sama dengan mori primissima dan telah diproses mercerized. Di pasaran dapat ditemukan dengan lebar 90 cm dan 115 cm. Biasanya digunakan untuk membuat batik lukis.

Kain Grey

Kain Grey atau Kain Blacu (https://boutiqueofmodernbatik.blogspot.com)

Kain Grey adalah kain tenun benang kapas yang tidak mengalami proses pemutihan, sehingga warnanya masih alami. Kain grey dapat dibedakan menjadi kain blacu, kain tenun ATBM, kain tenun Gedhog. Kain Blacu, yaitu kain tenun kapas olahan pabrik, di pasaran terdapat kain blacu dengan lebar 90 cm, 115 cm, dan 150 cm. Kain tenun ATBM, yaitu kain tenun kapas yang dihasilkan dengan menggunakan alat tenun bukan mesin, diproduksi dengan berbagai variasi ukuran kain dengan desain struktur anyaman yang dibuat dengan doby. Sebagai bahan batik banyak digunakan sebagai busana wanita maupun aksesoris. Kain tenun Gedhog, dibuat dari serat kapas dengan alat tenun tradisional batik. Batik yang menggunakan tenun gedhog merupakan ciri khas batik Tuban yang tidak ditemukan di tempat lain. Tampilan fisiknya yang unik karena mulai dari penanaman kapas, menenun sampai jadi batik dikerjakan di Tuban. Tidak diketahui secara pasti kapan kain tenun gedhog mulai diproduksi. Dari seorang pembatik yang kini telah berusia lebih dari 80 tahun diperoleh keterangan bahwa tenun gedhog telah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu. Disebut tenun gedhog karena bunyi ”dhog-dhog” yang terdengar pada saat proses menenun. Ada 2 jenis kapas sebagai bahan baku kain tenun gedhog yaitu yang berwarna putih dan cokelat. Kapas yang aslinya berwarna cokelat dengan nama kapas ”lawa” (”lowo” dalam bahasa Jawa), akan menghasilkan kain tenun berwarna cokelat, dan apabila digunakan sebagai bahan batik maka batik yang dihasilkan akan berwarna cokelat dan tidak pernah memiliki warna putih. Produk kain tenun gedhog mempunyai warna dan motif yang bermacan-macam. Ada yang polos, bermotif lurik, kotak-kotak dan motif lain, serta dengan satu warna atau lebih.

Kain Rayon

Kain Rayon (https://bahankain.com)

Kain Rayon adalah kain benang rayon yaitu serat hasil regenerasi serat selulosa, sifatnya menyerupai kapas akan tetapi kekuatannya lebih rendah terutama terhadap alkali. Dalam keadaan basah kekuatan kapas akan bertambah sementara rayon akan berkurang. Keunggulan kain rayon lebih berkilau dan mempunyai draping atau sifat menggantung lebih baik. Contoh antara lain kain shantung, kain paris rayon.

Kain Kaos

Kain Kaos (https://boutiqueofmodernbatik.blogspot.com)

Kain Kaos Kapas adalah kain katun hasil rajutan, biasanya dibuat batik dalam bentuk produk kaos oblong atau T-shirt. Biasanya batik Tuban juga menggunakan kaos kapas untuk T-shirt dengan motif khas Tuban.

Kain Sutra

Kain Sutra (https://boutiqueofmodernbatik.blogspot.com)

Kain Sutra, terbuat dari serat protein, yang diperoleh dari sejenis serangga Iepidoptera dan spesies utama yang dipelihara untuk menghasilkan sutra adalah Bombyx mori. Serat sutra berbentuk filamen dihasilkan dari larva ulat sutra pada saat membuat kepompong. Serat sutra mentah terdiri dari lebih kurang 75% fibroin dan 25% serisin yaitu sejenis perekat yang melapisi fibroin, berfungsi untuk melindungi fibroin dari gaya mekanik. Untuk proses pewarnaan lapisan serisin ini harus dihilangkan dengan proses degumming atau boil off, karena akan mengganggu penyerapan warna. Saat ini sutra yang ada di pasaran adalah sutra import, sutra lokal, dan sutra liar. Sutra import, yaitu kain sutra yang ditenun secara masinal yang dikenal dengan sutra super T54, sutra super T56, Abote, Organdi, Sifon, sutra kaca kotak, sutra salur yaitu kombinasi anyaman sutra super dengan organdi, sutra krepe, sutra kembang batu yang anyaman desain struktur dengan doby. Sutra lokal, yaitu kain sutra buatan dalam negeri ditenun dengan ATBM antara lain sutra polos, sutra granitan yang anyaman desain struktur dengan doby, sutra salur. Sutra liar, yaitu sutra yang dibuat dari serat ulat sutra yang dibudidayakan secara liar. Ulat-ulat sutra ini dibiarkan hidup di pohon mahoni, jambu mete, kedondong, sehingga makanannya adalah daun-daun dimana mereka hidup. Jenis serat yang dihasilkan dari ulat yang makanannya jambu mete atau daun kedondong disebut criccula, berwarna kuning keemasan. Sedangkan serat yang dihasilkan dari ulat yang makanannya daun mahoni disebut attacus, berwarna cokelat. Warna-warna tersebut warna alami.

Sahabat GPS Wisata Indonesia, itulah beberapa kain yang biasanya digunakan untuk bahan batik. Pemilihan bahan tergantung untuk apa nanti kain tersebut digunakan. Pilihlah bahan sesuai kebutuhan dan kualitas yang diinginkan.

Semoga Bermanfaat

Sumber: Fitinline

Jenis Batik Indonesia

Motif batik Keraton Parang Kesit Tumaruntun (https://nlyliyani.wordpress.com)

Jenis batik di Indonesia sangatlah bermacam-macam. Berbagai pengaruh dan tradisi klasik sampai yang modern dan abstrak turut menyemarakkan jenis batik Indonesia. Banyaknya jenis batik Indonesia juga disebabkan karena batik telah lama berada di Indonesia, sejak kelahirannya pada masa Kerajaan Majapahit sampai saat ini.

Selain itu, banyaknya jenis batik di Indonesia juga disebabkan oleh interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa asing, baik melalui hubungan persaudaraan, terjadinya pernikahan antar bangsa, perdagangan, hubungan diplomatik, maupun karena penjajahan Barat di Indonesia.

1. Batik Keraton
2. Batik Belanda
3. Batik Saudagaran
4. Batik Rifa'iyah
5. Batik Hokokai
6. Batik Jawa Baru
7. Batik Tiga Negeri
8. Batik Lawasan
9. Batik Petani
10. Batik Tulis
11. Batik Cap
12. Batik Lukis
13. Batik Jumputan
14. Batik Sablon Malam
15. Batik Serat Kayu
16. Batik Seragam
17. Batik Penutup Jenazah

Batik Keraton


Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri di lingkungan kraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan ridho Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya ragam hias wastra batik senantiasa menonjolkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai perlambang yang berkait erat dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, dan penghargaan yang dimilikinya.

Motif batik Keraton Ceplok Nagaraja (https://nlyliyani.wordpress.com)

Motif batik Keraton Tambal Nitik (https://nlyliyani.wordpress.com)

Batik kraton adalah jenis batik yang dikembangkan dan digunakan di lingkungan keraton. Motif dan penggunaannya diatur dengan norma-norma kraton. Karena setiap corak menunjukkan status pemakainya, corak motif batik keraton disebut motif larangan. Hal ini disebabkan pada awalnya motif-motif tertentu dilarang dikenakan oleh masyarakat umum, kecuali oleh kerabat kraton. Dalam masyarakat kraton jawa, membatik dianggap sebagai kegiatan pengabdian kepada raja.

Motif batik Keraton Ceplok Blah Kedaton (https://nlyliyani.wordpress.com)

Motif batik Keraton Kawung (https://nlyliyani.wordpress.com)

Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris.

Motif batik Keraton larangan (https://akucintanusantaraku.blogspot.com)

Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain : Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat lar, Udan liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Motif batik Keraton larangan (https://akucintanusantaraku.blogspot.com)

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta.

Motif batik Keraton Tambal (https://nlyliyani.wordpress.com)

Motif batik Keraton Parang Seling Huk (https://nlyliyani.wordpress.com)

Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan atara pola batik Keraton Kasultanan Yogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya. Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman yakni Pola Candi Baruna yang terkenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal antara lain Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barang Bintang Leider dan sebagainya.

Motif Batik Indonesia

Motif Parang Kusumo (https://budaya-semasa.blogspot.com)

Motif batik di Indonesia sangat beragam. Apalagi di masa modern sekarang ini motif batik ikut dimodernisasi dan dikreasikan sesuai perkembangan zaman. Semuanya semakin memperkaya motif batik Nusantara.

Motif batik adalah suatu dasar atau pokok dari suatu pola gambar yang merupakan pangkal atau pusat suatu rancangan gambar, sehingga makna dari tanda, simbol, atau lambang dibalik motif batik tersebut dapat diungkap. Motif merupakan susunan terkecil dari gambar atau kerangka gambar pada benda.

Motif Sawat (https://budaya-semasa.blogspot.com)

Motif terdiri atas undur bentuk atau objek, skala atau proporsi,dan komposisi. Motif menjadi pangkalan atau pokok dari suatu pola. Motif itu mengalami proses penyusunan dan diterapkan secara berulang-ulang sehingga diperoleh sebuah pola.

Pola itulah yang nantinya akan diterapkan pada benda lain yang nantinya akan menjadi sebuah ornamen. Di balik kesatuan motif, pola, dan ornamen, terdapat pesan dan harapan yang ingin disampaikan oleh pencipta motif batik.

Motif Gurda (Burung Garuda) - (https://budaya-semasa.blogspot.com)

Motif batik adlah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif Batik disebut juga corak batik, kadang digunakan untuk penanaman corak batik atau pola batik itu sendiri. Pada umumnya, motif batik di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Motif sawat
2. Motif ceplok
3. Motif gurda (burung garuda)
4. Motif meru (gunung)
5. Motif truntum
6. Motif udan liris
7. Motif Parang kusuma
8. Motif parang rusak barong
9. Motif slobog
10. Motif tambal
11. Motif ciptoning
12. Motif parikesit
13. Motif sido luhur
14. Motif sido drajad
15. Motif sido mukti
16. Motif cuwiri
17. Motif kawung
18. Motif nitik karawitan
19. Motif burung huk (burung merak)
20. Motif parang dan lereng
21. Motif mega mendung
22. Motif semen rama
23. Motif semen ogeng
24. Motif abstrak

Motif Udan Liris (https://budaya-semasa.blogspot.com)

Selain motif-motif yang populer tersebut, masih ada banyak motif lainnya yang beredar dipasaran batik. Terlebih di masa kini, motif batik sudah demikian modern dan dikerasikan dengan berbagai corak, warna, serta bentuk. Bahkan modifikasi tersebut sering kali tidak sesuai dengan pakem dan nilai-nilai filosofis yang terkandund di dalamnya demi memperoleh nilai estetika yang diharapkan.

Indonesia harus bersyukur karena batik dengan motif berpakem tradisional tersebut masih terus-menerus digunakan di kalangan tertentu, seperti lingkungan keraton.

Motif Ceplok (https://budaya-semasa.blogspot.com)

Para penerus dan keturunan keraton masih banyak menggunakan batik-batik dengan motif tertentu untuk melestarikan nilai-nilai filosofis yang terkandumg di dalamnya. Mereka masih menggunakan batik sesuai dengan pakem dan aturan, terutama pada acara-acara keraton dan upacara-upacara adat yang mengharuskan mereka berbusana sesuai dengan aturan yang ada di lingkungan keraton.

Pengembangan dan modifikasi terhadap motif, corak, dan warna batik harus didukung sepenuhnya agar batik semakin memasyarakat dan dapat lestari. Pengembangan tersebut selalu bertujuan baik, misalnya untuk mendapatkan nilai estetika yang diharapkan, batik dibuat menggunakan bahan yang diinginkan serta menerobos jalur-jalur klasik agar batik lebih dapat diterima di berbagai kalangan dengan beragam kepentingan.

Motif Burung Huk (Burung Merak) - https://batikyahyu.blogspot.com

Untuk itu, sangatlah penting untuk menghargai berbagai usaha yang dilakukan oleh setiap pihak untuk mengembangkan batik. Bagaimana pun juga, batik di Indonesia dapat bertahan dalam waktu yang lama karena masyarakatnya terus-menerus melestarikannya. Tanpa adanya usaha tersebut, lambat laun batik bisa punah. Tentu kita tidak menginginkan hal ini terjadi karena batik adalah kekayaan dan warisan budaya yang sangat bernilai dan harus kita jaga kelestariannya demi identitas dan kejayaan Indonesia.

Sumber bacaan:
Batik Nusantara, makna filosofis, cara pembuatan dan industri batik oleh Ari Wulandari, penerbit Andi Yogyakarta 2011