Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Permainan Tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permainan Tradisional. Tampilkan semua postingan

Permainan Tradisional Kis-kisen (NAD)

Ilustrasi menangkap ikan secara tradisional dengan menggunakan alat tradisional (https://aktifitaskampungku.blogspot.co.id)

Permainan ini disebut kis-kisen, dalam bahasa Aceh Tenggara yang berarti adu menyelam di dalam air. Kis artinya tahan lama di dalam air atau tidak bernafas, dan kisen artinya diadu untuk tidak bernafas selama mungkin di dalam air. Peserta permainan menyelam di dalam air dengan disaksikan oleh para penonton. Salah seorang dari penonton menghitung berapa saat yang dapat diperoleh setiap peserta. Peserta yang terlama di dalam air dinyatakan memenangkan permainan ini.

Sejarah

Permainan ini sudah agak jarang dilaksanakan anak-anak. Permainan ini terdapat di kampung-kampung di luar kota bahkan jauh dari keramaian kota. Permainan ini pada mulanya hanya sebagai bunga dalam permandian, tetapi lama kelamaan dipertandingkan karena ada manfaatnya setelali anak itu besar.

Karena Aceh Tenggara adalah daerah aliran sungai Simpang Kiri, salah satu sungai yang terbesar di Aceh, dan hasil ikannya cukup banyak. Untuk menangkap ikan kadang-kadang harus menyelam, misalnya bila jalanya tersangkut. Karena itu, diperlukan latihan menyelam sejak umur masih muda. Sayang sekali permainan ini tidak ada perkerbangannya sama sekali. Namun demikian, ada juga kebanggaan di hati masyarakat disini, yaitu bahwa permainan ini dipertandingkan adalah hasil inspirasi orang tua mereka dahulu kala.

Pemain

Pemain hanyalah anak laki-laki berumur kira-kira 10-15 tahun dan jumlah peserta tidak tetap, namun yang diutamakan adalah mereka yang telah punya nama. Persyaratan pakaian, alat, dan sebagainya dalam permainan ini tidak ada.

Jalan Permainan

Terlebih dahulu orang tua atau pemuda yang disegani menunjuk beberapa anak untuk ikut bermain. Kemudian setelah terpilih, kepada mereka diingatkan syarat-syarat permainan, seperti jangan curang, jangan mencaci maki raja jin, jangan memegang lawan di dalam air dan yang penting jangan buang air di sana.

Misalkan ada lima anak laki-laki yang terpilih. Kelima anak tersebut berdiri berjejer di tepi sungai untuk memulai permainan, menunggu aba-aba dari orang tua yang bertindak sebagai juri. Bila aba-aba telah diberikan, secara serentak mereka terjun ke dalam air, dan sang juri dengan disaksikan orang lain menghitung mulai dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Hitungan ini sebagai ganti saat yang tepat lamanya seseorang bertahan di dalam air. Bila permainan nomor 1, misalnya muncul ke permukaan air tepat pada hitungan ke-20, maka dia dinyatakan sebagai penyelam dengan kis 20. Peserta nomor 2 dengan kis 30, nomor 4 dengan kis 37, dan nomor 4 dengan kis 50. Bila semua peserta telah muncul di permukaan air, maka peserta kembali berjejer.lagi di tempat semula untuk ronde kedua. Setelah permainan berakhir, maka pemain yang terbesar kisnya dianggap sebagai juara. Contohnya:

Nomer Ronde/Jumlah Kis Kis Tertinggi Juara
Pemain
  I    II    III    IV   V
1 20  30  35  19  25 35 V
2 20  30  35  19  25 30 IV
3 20  30  35  19  25 35 III
4 20  30  35  19  25 41 II
5 20  30  35  19  25 50 I

Peserta nomor 5 adalah juara I karena kisnya yang tertinggi, yaitu 50. Bila keadaan ini berlanjut terus. maka lama kelamaan peserta ini bisa memperoleh julukan pawang kis, artinya orang yang lama tahan menyelam di dalam air.

Permainan Tradisional Kekuriken (NAD)

Ilustrasi bola dari tanah liat (https://intisari-online.com)

Kekuriken adalah bahasa daerah Gayo yang asal katanya kurik, artinya ayam. Kekuriken berarti beradu seperti ayam. Permainan ini mempergunakan bola yang terbuat dari tanah liat. Bola tadi dinamai "kurik" karena akan diadu dengan kurik lainnya di arena peraduan yang dibuat sedemikian rupa sehingga bola digulirkan maka dengan sendirinya akan bertemu dengan bola lainnya, sehingga berbenturan keras. Bola yang pecah atau kurik yang kalah harus menanggung resiko, yaitu si pemiliknya harus menjalankan sanksinya yang telah disepakati bersama sebelumnya.

Sejarah

Menurut orang-orang tua, permainan ini asli berasal dari daerah Gayo ini karena menurut mereka ketika masih kanak-kanak mereka mlaksanakan permainan ini diajarkan orang-orang yang lebih tua, juga keadaan tanah persawahan di daerah ini memungkinkan melaksanakan permainan tersebut. Tanah persawahan yang sempit yang dikerjakan secara terus menerus menyebabkan tanah tersebut tandus dan akhirnya menjadi tanah liat. Bola dari tanah liat ini agak kuat sehingga mengasyikkan bila diadu.

Perkembangan permainan ini dapat dikatakan tidak ada, bahkan kini terlihat gejala-gejala akan punah karena terdesak oleh jenis permainan lainnya yang lebih praktis.

Pemain

Pemain adalah anak-anak yang berumur antara 8-12 tahun dan terdiri dari laki-laki. Permainan boleh dilaksanakan secara perseorangan atau dapat juga beregu. Setiap regu beranggotakan 3-7 orang atau lebih, bergantung pada banyaknya anak yang berkumpul di arena permainan; di satu arena mungkin bermain beberapa regu yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan apa-apa. Tentang persyaratan lainnya tidak ada.

Jalan Permainan

Peraturan permainan hampir tidak ada, kecuali ke dalam bola tidak boleh dimasukkan batu, dan bola yang pecah dianggap kalah.

Permainan Perseorangan. Dua orang anak duduk di ujung pangkal sebuah tempat bermain yang telah dibuat bersama, dengan memegang kurik masing-masing. Secara serentak dengan aba-aba kedua anak tersebut menyentakkan kuriknya dengan maksud agar bergulir cepat ke arah kurik lawan. Di tengah arena, kurik beradu dengan benturan yang kuat. Untuk pertama atau kedua, mungkin belum ada kurik yang pecah, namun setelah beberapa kali tentu salah satu kurik tersebut ada yang pecah. Pemilik kurik yang pecah dinyatakan kalah. Pemilik ini harus menerima hukuman yang telah disepakati sebelumnya, misalnya menggendong pemenang dari suatu tempat ke tempat lain, misalkan yang bermain A dan B, yang menang adalah A, maka B harus menggendong A dari garis a ke garis b sejauh 25 meter, dan lain sebagainya.

Permainan Beregu. Jumlah peserta setiap regu harus ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya, maksudnya agar mudah menentukan pemenang. Kita misalkan jumlah peserta setiap regu 5 orang anak, sebagai berikut :

Regu A 1                      Regu B 6
             2                                   7
             3                                   8
             4                                   9
             5                                 10

Peserta nomor 1 mengadu kuriknya dengan peserta nomor 6, mereka berdua duduk berhadapan di tempat pengaduan pertama, peserta nomor 2 dengan nomor 7 duduk berhadapan di tempat ke dua, dan seterusnya.

Setelah beberapa lama, ternyata kurik pemain nomor 6, 2, 8, 4, dan 10 pecah (kalah). Pemain nomor 2 dan 4 adalah dari regu A, sedangkan pemain nomor 6, 8, dan 10 adalah dari regu B. Setelah dihitung maka regu A menang 3 orang (1, 3, dan 5) dan regu B menang 2 orang (7 dan 9). Dengan kata lain, regu A mengalahkan regu B dengan angka 3-2. Jadi, seluruh anggota regu B menjalani hukuman yang telah disepakati sebelumnya, misalnya menggendong sejauh 25 meter atau menggosok badan lawannya yang sedang mandi. Setelah selesai menjalankan hukuman, permainan diulangi lagi sampai akhirnya berhenti untuk hari tersebut.

Permainan Tradisional Pepilo (NAD)

Ilustrasi Kinciran dari daun kelapa (www.youtube.com)

Pepilo adalah bahasa daerah Gayo yang berarti baling-baling dalam bahasa Indonesia. Baling-baling dibuat dari batang kayu dadap yang sudah kering atau dari bambu kering, atau dapat juga kulit buah dadap yang sudah kering. Yang dibuat dari batang dadap untuk anak-anak yang sudah besar, yang dari bambu untuk anak sedang, dan yang dari kulit buah dadap untuk anak kecil. Pepilo model pertama, panjang baling-balingnya kira-kira sedepa, lebarnya 5 jari; model kedua sedikit lebih pendek dari yang pertama, dan yang ketiga sepanjang buah itu sendiri (kira-kira sejengkal). Pembuatan pepilo dari kayu dadap harus orang yang benar-benar ahli, tidak seperti yang dibuat dari bambu; sedangkan yang dari kulit buah tidak begitu sukar.

Bila angin kencang, beberapa anak kita lihat memegang pepilo masing-masing, serta berlarian ke arah datangnya angin. Arena tempat diadakannya permainan ini riuh rendah dengan sorakan anak-anak karena pepilonya berputar dengan kuat.

Sejarah

Menurut penuturan orang-orang tua, permainan ini asli berasal dari daerah Aceh. Diciptakan oleh nenek moyang mereka mengingat keadaan yang memungkinkan, yaitu ada alat untuk dijadikan permainan, waktu, kreasi, dan inspirasi untuk membuatnya. Sejak mereka masih kecil permainan ini telah ada, dan orang tua merekalah yang mengajarkan permainan ini kepada mereka.

Perlu kita ketahui bahwa menurut orang-orang tua, alat-alat, aturan permainan, serta sistem bermain anak-anak sekarang sama saja dengan mereka dahulu, dengan kata lain, hampir tidak berkembang sama sekali, sungguhpun digemari anak-anak.

Pemain

Jumlah peserta tidak tentu dan tidak terbatas, dan anak-anak yang menggemari permainan ini berumur sekitar 5 tahun sampai 15 tahun. Hal ini memungkinkan karena aturan permainan tidak begitu ketat. Asal tidak mengenai anak-anak lain dan atau pepilo lain, sudah dianggap baik. Tentang pakaian dan atribut lainnya juga tidak mengikat.

Jalan Permainan

Terlebih dahulu anak-anak menentukan garis start dan finish sebelum memulai permainan. Anak-anak yang sebaya berdiri pada garis start dengan pepilonya masing-masing. Setelah mendengar aba-aba lari, maka peserta berlari seluruhnya ke garis finish sambil mengangkat pepilonya setinggi bahu. Peserta yang pertama sampai ke garis finish dinyatakan sebagai pemenang. Pemenang ini tidak dicatat karena setelah seluruh peserta sampai ke garis finish, mereka kembali lagi ke garis start untuk bermain lagi. Walaupun dalam permainan ini ada peserta yang menang, namun kemenangan tersebut tidak menjadi tujuan permainan selain dari kegembiraan belaka.

Selain kecepatan mencapai finish, faktor kerasnya suara pepilo sangat diperhatikan. Pepilo yang suaranya besar dan keras, sangat digemari anak-anak dan penonton. Dengan kata lain, dalam permainan ini yang dipentingkan lari peserta harus cepat dan suara pepilo harus nyaring, berdengung bagus.

Kemungkinan dalam satu lapangan ada beberapa regu yang bermain, tetapi setiap regu harus berusia sebaya. Masing-masing regu mempunyai garis start dan finish tersendiri, dan antara setiap regu juga dijaga agar tidak terlalu dekat.

Démikianlah pada setiap sore saat angin sedang bertiup kencang, anak-anak penuh di lapangan permainan dengan pepilo masing-masing. Masing-masing anak berusaha mengatasi lawan bermainnya.

Anak-anak kecil bermain sesama mereka, demikian juga yang besar. Jarang sekali antara anak kecil bercampur baur dengan anak yang lebih besar dari dirinya atau sebaliknya. Permainan akan berhenti bila waktu telah hampir magrib. Permainan berhenti begitu saja tanpa menghitung kemenangan seseorang.

Manfaat

Permainan ini dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dunia anak-anak. Keterlibatan mereka dalam permainan ini tidak ditentukan oleh kedudukan orang tua mereka di dalam masyarakat, tetapi berdasarkan partisipasi untuk memeriahkan permainan. Asal ada kemauan dan tersedia alat bermain, sudah dianggap memenuhi persyaratan bermain.

Permainan Tradisional Makah-Makah (NAD)

Rumah Allah, Ka’bah, di Masjidil Haram, Mekkah Al Mukharomah di tahun 2020 (https://www.kuncitips.com)

Seperti kita ketahui, Mekah adalah sebuah kota suci umat Islam. Setiap umat Islam yang sanggup atau mampu, wajib untuk menunaikan rukun Islam ke-5, yakni pergi ke Mekah, yang dikenal dengan nama Naik Haji. Karena itu, pergi ke Mekah sangat didambakan oleh setiap umat Islam di dunia.Sekarang kita hubungkan mengapa nama permainan ini disebut Makah-makah. Kalau dilihat dari segi nama, permainan ini jelas berasal dari nama Mekah (umumnya orang Aceh menyebutnya dengan nama Makah).

Permainan ini dilakukan secara beregu. Permainan ini bersifat kompetitif karena masing-masing regu betul-betul berusaha untuk dapat keluar sebagai pemenang. Bagi regu yang paling cepat atau terlebih dahulu dapat mencapai tujuan disebut Makah, maka regu itulah yang keluar sebagai pemenang.

Nama ini digunakan seolah-olah sasaran yang dicapai itu betul-betul penting atau sangat didambakan seperti keinginan umat Islam untuk dapat dengan cepat menunaikan ibadah Haji (menunaikan rukun Islam ke-5 ke Mekah). Permainan Makah-makah ini dapat dijumpai di seluruh kelompok etnis yang ada di Nannggroe Aceh Darussalam (kelompok etnis Aceh, kelompok etnis Gayo, kelompok etnis Alas, kelompok etnis Aneuk Jame, kelompok etnis Kluet, dan kelompok etnis Tamiyang).

Sejarah

Bagaimana sejarah perkembangan permainan ini, tim peneliti belum memperoleh data-data yang kongkrit.

Pemain

Jumlah pemain untuk permainan ini 6 atau 8 orang. Jika 6 peserta setiap regu adalah 3 orang dan jika 8 peserta setiap regu 3 atau 4 orang. Pemain ini adalah anak-anak yang berumur antara 9-13 tahun, dan dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Seperti telah disebutkan di atas, permainan ini dilakukan oleh anak-anak dari segala golongan dan lapisan masyarakat.

Perlengkapan Permainan

Permainan ini tidak memerlukan peralatan yang berarti, yang diperlukan hanya sebiji batu atau benda lainnya yang kecil untuk mudah disembunyikan dalam genggaman tangan yang diletakkan di bagian belakang punggung. Tempat yang diperlukan adalah tanah lapang sekitar 5 meter persegi.

Jalannya Permainan

Untuk permainan ini masing-masing regu 3 atau 4 orang dan seorang bertindak sebagai pimpinan regu. Kedua regu berdiri pada suatu garis secara berurut yang jaraknya antara regu yang satu dengan yang lainnya sekitar 2 meter. Semua regu menghadap ke titik sasaran yang dinamakan dengan sebutan Makah. Jadi, masing-masing regu berlomba untuk dapat terlebih dahulu sampai ke titik sasaran (Makah).

Tugas kepala regu adalah mengawasi atau menempatkan batu pada salah seorang anggota regunya. Untuk ini ia membuat seolah-olah semua anggota diberi batu untuk disembunyikan dalam kedua tangan yang ditempatkan di belakang. Sebenarnya yang diberikan batu adalah salah seorang di antara anggotanya.

Selanjutnya setelah batu disembunyikan, maka tugas dari regu lain, dalam hal ini melalui kepala regu untuk menebak berada pada siapa batu disembunyikan. Kalau regu lawan tidak dapat menerka, maka peserta, tempat batu disembunyikan, maju selangkah ke depan. Demikian seterusnya permainan berlangsung, sehingga salah satu regu di antaranya dapat mencapai titik sasaran (Makah). Bagi regu yang terlebih dahulu sampai, keluar sebagai pemenang.

Waktu Pelaksanaan

Permainan ini dilakukan pada siang hari pada waktu senggang saat anak-anak telah pulang dari sekolah dan menunggu waktu makan siang, atau pada hari-hari libur.Permainan ini juga dilakukan di tanah-tanah lapang atau di halaman-halaman rumah karena permainan ini dilakukan secara beregu.

Manfaat

Serti telah dijelaskan di atas bahwa permainan ini sangat bersifat kompetitif. Dalam permainan ini hendak digambarkan oleh "si pencipta permainan" bahwa betapa pentingnya orang untuk dapat mencapai cita-citanya. Karena itu, orang harus berusaha, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama agar apa yang diinginkannya dapat tercapai. Di sini juga hendak digambarkan bagaimana pentingnya pergi ke Mekah bagi umat Islam.

Permainan Tradisional Kapai-Kapai Inggreh (NAD)

Ilustrasi

Permainan ini dapat dijumpai di Nanggroe Aceh Darussalam, terutama pada kelompok etnis Aceh dan kelompok etnis Aneuk Jame yang berlokasi dibagian Kabupaten Aceh Selatan. Jadi, lokasi/tempat permainan ini dijumpai selain di bagian pesisir Aceh (pesisir Utara dan pesisir Timur) juga di pesisir bagian Barat (termasuk Kabupaten Aceh Selatan sekarang), yang masing-masing didiami sebagian kelompok etnis Aceh dan kelompok etnis Aneuk Jame.

Dilihat dari segi nama, permainan ini menunjukkan keanehannya Kapai-kapai Inggreh dalam Bahasa Indonesia artinya Kapal-kapal Inggris. Adegan yang dimaksud adalah seperangkat tanya jawab antara para pemain. Adapun pertanyaan dan jawaban yang harus dilontarkan dalam permainan tersebut adalah sebagai berikut :

Tanya: Peu kapai nyo? (Kapal apa ini?)
Jawab: Kapai Inggreh. (Kapal Inggris)
Tanya: Pei ji peuding? (Apa muatannya?)
Jawab: Ate tapeh. (Hati Sabut Kelapa.)

Sejarah

Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Seperti telah diketahui, bahwa asal nama permainan ini tim peneliti belum menemukan data-data yang kongkrit, begitu pula dengan sejarah perkembangan permainan ini dari masa ke masa belum dapat dipastikan. Namun, menurut tradisi lisan, permainan ini sudah cukup lama dikenal dan cukup popuier dalam masyarakat Aceh, sehingga para orang tua di kampung-kampung umumnya masih dapat mengucapkan kata-kata tanya jawab dalam adegan permainan tersebut. Karena disebut-sebut nama Inggris, permainan ini dikenal di Aceh sejak rakyat Aceh berkenalan dengan bangsa Inggris. Kontak pertama antara Inggris dengan Aceh terjadi pada permulaan abad XVII dengan datangnya dua buah kapai Inggris ke Kerajaan Aceh pada tahun 1602.

Pemain

Jumlah pemain untuk permainan ini berkisar antara 5 sampai 6 orang, dan umumnya berumur antara 8 sampai 12 tahun. Permainan dapat dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun anak wanita, tetapi jarang terjadi percampuran antara anak-anak laki dengan wanita. Seperti telah disebutkan di atas, umumnya para pemain ini terdiri atas anak-anak petani, tetapi pada bulan puasa (Ramadan) anak-anak dari kelompok sosial lainnya, misal kelompok pedagang, pegawai, dan sebagainya ikut bermain juga. Jadi, dilihat dari segi pelapisan sosial permainan ini tidak hanya dilakukan oleh anak-anak kelompok rakyat biasa saja, tetapi juga dilakukan oleh anak-anak bangsawan, terutama pada bulan puasa (Ramadan).

Perlengkapan Permainan

Satu-satunya alat yang digunakan untuk permainan ini adalah kain sarung atau sejenisnya, yang besarnya dapat menutupi tubuh salah seorang pemain bila berjongkok. Kain ini tidak tipis, tetapi tebal yang tidak tembus bila digunakan untuk melihat. Selain kain, tidak ada alat lainnya yang digunakan dalam permainan ini. Namun, untuk tempat berlangsungnya permainan, masih diperlukan suatu tempat yang agak luas, biasanya berlangsung di depan-depan Meunasah atau di halaman-halaman rumah.

Jalannya Permainan

Seperti telah disebutkan di atas, permainan terdiri atas 5 atau 6 orang. Setelah jumlah peserta (5 atau 6 orang), maka dicari suatu tempat atau tanah yang agak lapang atau berumput (yang sedikit bersih). Setelah semuanya berkumpul dan kain untuk dipakai sebagai penutup telah tersedia (biasanya kain dari salah seorang pemain yang dianggap memenuhi syarat), maka dilakukanlah pemilihan seorang juri di antara mereka untuk menjadi wasit/juri atau sebagai pengamat/pengawas permainan. Selanjutnya melalui suatu undian yang disaksikan oleh juri (undian dengan tangan atau yang dikenal dengan nama ngasut), maka ditetapkan salah seorang diantara pemain untuk menebak siapa orang yang pertama ditutup dengan kain oleh wasit/juri.

Si penebak pertama ini menyingkir dulu, kemudian setelah juri selesai menutup orang yang akan ditebak dengan kain, baru si penebak dipanggil. Orang yang ditebak (yang ditutup dengan kain) sikapnya setengah berjongkok. Si penebak yang ditebak tidak boleh mengajukan pertanyaan dan jawaban yang menyimpang dari yang telah ditetapkan. Pertanyaan tersebut adalah seperti yang telah dikemukakan di atas, yaitu menanyakan kepada orang yang jongkok: peu kapai nyo? Jawab: kapai Inggreh, kemudian dilanjutkan bertanya peu ji peuding? Jawabnya ate tapeh. Adapun jawaban yang diberikan dengan suara yang kecil saja, sehingga susah ditebak siapa yang berada di bawah kain itu. Jika belum dapat ditebak atau belum jelas siapa orang itu dapat dilanjutkan dengan satu pertanyaan lagi, yaitu dengan menyuruh yang ditebak itu bersuara seperti suara ayam. Kata-kata untuk ini, yaitu cuba kuuk sigo? Artinya coba berkokok sekali? Kemudian yang ditebak bersuara seperti suara ayam kekuruyuk. Dan jika belum juga dapat ditebak, makai jolen juri diizinkan memegang tempat-tempat tertentu, yaitu kuping, kepala, dan hidung. Setelah selesai, juri menanyakan siapa orang yang ditutup itu. Jika masih juga tidak diketahui, maka si penebak dianggap kalah. Dan permainan ini dilanjutkan dengan mengulangi undian seperti semula. Akan tetapi, jika tebakannya tepat, yang menebak keluar sebagai pemenang, dan yang kalah mendapat giliran untuk menebak.

Waktu Pelaksanaan

Umumnya permainan ini dilakukan pada malam hari pada saat bulan purnama, antara pukul 9 sampai pukul 10 malam, bahkan pada saat-saat tertentu atau pada malam-malam libur (malam Minggu atau malam hari besar lainnya) dilakukan hingga pukul 11 malam. Bila bulan puasa (Ramadhan) dilakukan tidak hanya pada saat bulan purnama, tetapi setiap malam antara pukul 9 sampai pukul 11 malam. Biasanya jika bulan pumama serta cuaca tidak mendung, para orang tua si anak khususnya orang tua perempuan (Ibu) ke luar rumah untuk menumbuk padi, dilakukan baik di bawah rumah maupun di tempat-tempat lain yang khusus untuk itu di dekat rumah, bersama-sama para tetangga yang juga melakukan pekerjaan serupa. Pada saat inilah anak-anak (setelah mereka pada malam yang sama selesai mengaji di Meunasah atau di rumah-rumah Teungku tempat pengajian) gunakan untuk melakukan permainan ini.

Manfaat

Permainan ini untuk melatih pendengaran para pemainnya. Mereka harus dapat membedakan dan menentukan pelbagai suara termasuk suara orang. Karena itu, permainan ini selain bersifat rekreatif juga bersifat edukatif, yaitu melatih pendengaran. Seperti telah disebutkan bahwa permainan ini dilakukan pada malam hari, pada saat orang tua mereka (Ibu) melakukan pekerjaan menumbuk padi. Hal ini banyak membawa pengaruh bagi anak-anak yang melakukan permainan tersebut, yaitu mereka mengerti akan pekerjaan Ibu-ibu mereka.

Permainan Tradisional Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)

Perangko Permainan Anak Tradisional Edisi Tahun 2001 (https://filatelisindonesia.wordpress.com)

Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mempunyai unsur-unsur kebudayaan yang khas di antaranya permainan tradisional anak-anak. Permainan tradisional yang terdapat di daerah ini merupakan khasanah budaya yang telah mereka terima dari generasi sebelumnya. Hal ini merupakan salah satu sarana sosialisasi dari anggota masyarakat yang menjadi pendukungnya. Karena itu, permainan tradisional anak-anak mempunyai arti dan kebudayaan tersendiri di dalam masyarakat.

Sahabat GWI Indonesia Banget, Alhamdulillah mendapat e-book Permainan Anak-Anak Daerah Istimewa Aceh, penerbitnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jakarta 1985. Tentunya dimungkinkan ada penambahan bilamana menemukan sumber yang kompeten dan pengurangan bilamana mendapatkan kesamaan bentuk permainannya di daerah lain.

Semoga bermanfaat.

  1. Kapai-Kapai Inggreh
  3. Pepilo
  4. Kekuriken  
  5. Kis-kisen
  6. Jangut Ngkurik
  7. Meu Geunteut-Geunteut
  8. Ghieng-Ghieng Asee
  9. Meu Een Aceue
10. Meu Creek
11. Meu Som-som Aneuk
12. PehKayee
13. Meu Som-som Talo
14. Meuen Geuti
15. Mesen-mesen
16. Meupet-pet Nyet
17. Meuen Kom
18. Meu Een Kandang

Sejarah Permainan Gulat Tradisional Benjang


Permainan gulat tradisional bernama Benjang, yang sudah ada sejak abad ke 18 atau sekitar 300 tahun yang lalu. Menurut Andang Segara Ketua Harian Benjang Jawa Barat, bahwa olahraga Benjang ini tercipta akibat keterbatasan masyarakat Bandung, yang tidak diperbolehkan melakukan aktivitas adu kekuatan fisik pada jaman penjajahan Belanda.

Adanya kebijakan tersebut memaksa sejumlah pemuda, untuk bermain dogongan atau saling dorong badan, bergelut dan saling membanting satu sama lainnya hingga terjatuh.

Nama Benjang sendiri diambil dari dua singkatan kata yaitu Silibeunyi dan Genjang. Silibeunyi berarti saling tarik menarik, sedangkan Genjang mencoba menjatuhkan lawan. Dari dua kata itulah maka tercipta nama Benjang, yang berarti kegiatan tarik menarik badan untuk menjatuhkan lawannya.

Alat Berjuang

Di era kemerdekaan benjang jadi alat perjuangan. Benjang jadi sarana terselubung latihan fisik para pejuang. Ujung Berung adalah basis para pahlawan di kota. Tak heran Ujung Berung sebagai kota kelahiran benjang menjadi pusat para pejuang. Saat ini benjang menjadi seni atraksi yang menarik.

Perkembangan Jaman


Seiring dengan perkembangan jaman, maka olahraga gulat tradisional Benjang dipengaruhi sebagian nilai-nilai modernisasi. Salah satunya, teknik bergulat yang berkolaborasi dengan gulat free style. Jika dahulu sistem penilaian Benjang hanyalah ditentukan dengan jatuhnya lawan akibat bantingan dalam posisi terlentang, maka sekarang sudah berubah berdasarkan peraturan gulat nasional. Jika berhasil membanting lawan dalam keadaan terjatuh, maka mendapatkan nilai tiga. Apabila sebelum membanting sempat mengangkat tubuh lawannya, maka memperoleh nilai lima.

Walaupun terjadi perkembangan modernisasi, namun nilai-nilai tradisional gulat tradisional Benjang asal Bandung ini masih terus dilestarikan. Misalkan saat perayaan panen padi, maka gulat Benjang diadakan di atas lumpur. Atau jika ada syukuran salah satu warga, maka diadakan pagelaran Benjang secara tradisional, diiringi alunan musik khas Jawa Barat dengan menggunakan perangkat gendang, kecrekkan, suling, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat Kota Bandung, Benjang adalah warisan nenek moyang yg sampai saat ini terus dilestarikan, dan menjadi kebanggaan mulai tingkat nasional hingga Internasional.

Sumber: Fornasindonesia

Permainan Tradisional Sumpitan

Wanita-wanita perkasa penyumpit dari Kalimantan Timur (https://fornasindonesia.wordpress.com)

Salah satu permainan tradisional Indonesia yang telah menjadi permainan olahraga yang dilestarikan adalah sumpitan atau menyumpit, menyumpit atau sumpit pada jaman dahulu digunakan oleh suku-suku tertentu di pedalaman khususnya kalimantan, sebagai senjata, baik untuk berburu atau mempertahankan diri, biasanya sumpitan ini memiliki mata anak sumpit tajam yang diberi racun untuk melumpuhkan segera binatang buruannya. Berikut peraturan dari permainan tradisional sumpitan ini:

Permainan

Permainan dapat beregu dan dapat pula perorangan, jumlah anggota regu disesuaikan dengan keadaan.

Peralatan

a. Sumpitan

Terbuat dari kayu atau bambu dan panjang 150 - 175 cm.

b. Kaliber

Kaliber sumpit tidak ada standarnya tergantung kepada besar kecilnya besi untuk boor/ besar kecilnya lobang bambu, biasanya sebesar pensil.

c. Pisir


Untuk meluruskan pembidikan, di sisi atas dari ujung batang sumpit dipasang sepotong kawat yang sejajar dengan batang sumpit. Kawat tersebut berfungsi sebagai pisir pada seperti pada senjata api yang meluruskan tembakan peluru. Pisir biasanya diikat dengan menggunakan rotan.

d. Anak sumpitan

Panjang 25 cm terbuat dari bambu atau kalam (lidi enau).

e. Gabus


Pada pangkal anak sumpit dipasang gabus yang dibuat berbentuk kerucut. Besarnya gabus harus dapat masuk pada kaliber sumpit. Gabus ini berfungsi untuk meluruskan jalannya anak sumpit.

Cara penyumpitan

a. Cara memegang sumpit


Karena batang sumpit cukup panjang, maka batang sumpit dipegang dengan kedua tangna pada pangkal sumpitan, kedua tangan menghadap ke atas. Hal ini untuk menjaga agar sumpitan tidak goyang. Ini tentunya disesuai kan dengan kemampuan dan kekuatan masing-masing orang.

b. Memegang sumpitan tidak dibenarkan menggunakan alat bantu.

c. Memasukan anak sumpit. Anak sumpit dimasukan kedalam kaliber sumpit satu persatu. Sebelum dimasukan ke dalam kaliber sumpit, anak sumpit diperhatikan dahulu kalau belum lurus sebaiknya diluruskan dahulu.

d. Cara meniup

Setelah anak sumpit dimasukan ke dalam kaliber sumpit, kemudian sumpit diangkat diarahkan ke sasaran dengan pertolongan pisir. Mulut ditempelkan ke kaliber sumpit, dengan konsentrasi dan menyiapkan udara sebanyak-banyaknya dari rongga dalam mulut dan rongga dada dengan meniupkan ke kaliber sumpit sehingga memungkinkan anak sumpit terlepas dengan kencang meninggalkan sumpitan.

Sasaran


Sasaran adalah sebagaimana sasaran pada memanah. Berbentuk lingkaran dengan penilaian jika mengenai lingkaran paling tengah memperoleh nilai 10, kemudian 9, 8 dan seterusnya pada lingkaran paling luar nilai satu. Lingkaran-lingkaran tersebut dibuat berwarna-warni sehingga menarik dan memudahkan fokus mata pada sasaran yang menjadi target.

Jenis pertandingan

a. Posisi berdiri
b. Posisi jongkok

Jarak

Jarak tembak dengan sasaran disesuaikan dengan keadaan setempat misalnya :

a. Putera

- Jarak 15 meter
- Jarak 25 meter
- Jarak 35 meter

b. Puteri

- Jarak 10 meter
- Jarak 15 meter
- Jarak 25 meter

Banyak anak sumpitan yang digunakan dalam satu seri adalah 5 (lima) buah. Jadi nilai dihitung berdasarkan jumlah poin yang didapat dari 5 (lima) buah anak sumpitan dengan lima kali tembakan pada sasaran.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas tembakan.

a. Kemahiran menyumpit

- Kemampuan meniup
- Kemampuan tangan untuk memegang batang sumpit agar tidak bergerak
- Kemahiran membidik

b. Anak sumpit Kehalusan membuat anak sumpit berikut gabus, sangat berpengaruh terhadap laju tidaknya lari anak sumpit.

c. Pengaruh angin karena anak sumpit yang sudah ada gabusnya tersebut adalah benda yang ringan, maka pengaruh akan angin sangat besar terhadap lurus tidak larinya anak sumpit terutama angin dari samping.

d. Batang sumpit

Yang paling efektif batang sumpit adalah sepanjang sedepa ditambah sejengkal dari masing-masing penyumpit. Ini berarti sumpit yang bukan pegangannya sangat berpengaruh terhadap hasil maksimal tembakan. Besar kecilnya kaliber sumpit akan berpengaruh terhadap besar kecilnya gabus, sehingga bersar kecilnya gabus akan berpengaruh terhadap besar kecilnya tiupan. Sedangkan besar kecilnya batang sumpit akan berpengaruh terhadap berat ringannya sumpit, dimana akan berpengaruh juga pada pembidikan.

e. Halus tidaknya lobang sumpitan

Lobang yang halus buatannya dan baik pemeliharaannya akan melancarkan jalannya anak sumpit. Oleh karena itu mata boor yang digunakan untuk mengebor batang sumpit harus mata boor satu jenis saja agar lobangnya tetap sama dan konsisten ukurannya dari ujung yang satu sampai ujung yang lain.

Wasit dan pembantu wasit

a. Wasit

- Melakukan undian dalam menentukan seri
- Memimpin jalannya pertandingan - menentukan pemenang

b. Pembantu wasit

- Mengawasi penyumpit sesuai dengan jarak yang ditentukan
- Meneliti perkenaan yang sebenarnya
- Melaporkan hasil kepada pencatat nilai

c. Pencatat (Scorer) Mencatat hasil/nilai yang diperoleh penyumpit atas laporan pembantu wasit.

Sumber: Visiuniversal

Permainan Tradisional Ayunan Kayu

Permainan Tradisional Ayunan Kayu (https://fotokita.net)

Desa Wisata Adat Tenganan adalah salah satu desa kuno di Bali penduduknya yang disebut dengan Bali aga atau Bali asli. Jika anda suka dengan wisata tradisi dan budaya nampaknya wisata ke Desa Tenganan ini wajib anda kunjungi jika berlibur ke Bali.

Tradisi yang terkenal disini adalah perang pandan yang sudah sangat dinanti-natikan oleh wisatawan mancanegara (Wisman) maupun Domestik (Wisnus), di sela-sela Perang Pandan juga menampilkan tradisi unik lainya yaitu bermain ayunan tradisional yang menjadi warisan leluhur.

Permainan Tradisional Ayunan Kayu (https://bali.tribunnews.com)

Ayunan dimainkan oleh delapan orang daha (wanita) gadis-gadis ini mengenakan kain rangrang berwarna kuning ke-emasan para gadis kemudian menempati tempat duduk di dalam ayunan yang terpasang di halaman desa.

Sedangkan di sisi kanan dan kiri tiang ayunan dua orang petugas dari pemuda desa telah siap untuk memutar ayunan yang diisi oleh delapan orang daha tersebut. Arah putaran nya pun tidak boleh sembarangan yaitu tiga kali ke arah selatan dan tiga kali ke arah utara, begitulah cara kerja permainan ayunan ini masing-masing minimal harus dilakukan tiga kali putaran.

Sumber: Actiontourbali

Sejarah Permainan Tradisional Cublak-Cublak Suweng

Cublak-cublak Suweng (https://phinemo.com)

Permainan Cublak-cublak suweng, salah satu karya Sunan Giri (1442 M), seorang ulama sekaligus budayawan yang sangat hebat. Dakwahnya tidak memaksa namun justru menjadikan rasa untuk hanyut didalamnya. Metode ini ternyata sangat ampuh untuk menjadikan daya tarik orang-orang jawa awam terhadap Islam. Melalui seni budaya yang berupa gamelan, tembang, ataupun karya sastra lainnya menjadikan Sunan Giri sebagai sosok yang dikagumi hingga kini.

Permainan

Cublak-cublak suweng merupakan permainan yang dimainkan minimal 3 orang, dan akan semakin menarik jika dimainkan oleh 7 hingga 8 orang. Permainan ini dimulai dengan menentukan salah satu dari peserta permainan untuk menjadi Pak Empo, tokoh utama dalam permainan ini. Pak Empo bertugas mencari sebuah kerikil, atau batu kecil (diibaratkan suweng) yang akan disembunyikan peserta lain. Sebelumnya Pak Empo berbaring telungkup di tengah-tengah peserta, kemudian peserta lain menaruh telapak tangannya menghadap ke atas di punggung Pak Empo.

Cara bermain

Hom pimpah gambreng (https://permainantradisional-indonesia.blogspot.co.id)

Pertama kali dimulai dengan Gambreng, yang kalah menjadi Pak Empo. Dia berbaring telungkup di tengah, anak-anak lain duduk melingkar. Buka telapak tangan menghadap ke atas dan letakkan di punggung Pak Empo. Salah satu anak memegang biji kerikil dan dipindah dari telapak tangan satu ke telapak tangan lainnya diiringi lagu Cublak-Cublek Suweng.

"Cublak cublek suweng. Suwenge ting gelenter. Mambu ketundung gudel. Pak empo lirak-lirik. Sapa ngguyu ndhelikake. Sir-sir pong dele gosong. Sir-sir pong dele gosong.", dinyanyikan bersama, biasanya dilakukan 2 atau 3 kali.

Sambil bernyanyi, kerikil atau biji dipindahkan dari tangan satu pemain ke tangan pemain berikutmya, setelah kalimat (bait terakhir) "Sir-sir pong dele gosong" serahkan biji atau kerikil ke tangan seorang anak untuk disembunyikan dalam genggaman. Di akhir lagu, semua anak menggenggam kedua tangan masing-masing, pura-pura menyembunyikan kerikil, sambil menggerak-gerakkan tangan. Pak Empo bangun dan menebak di tangan siapa biji atau kerikil disembunyikan. Bila tebakannya benar, anak yang menggenggam biji atau kerikil gantian menjadi Pak Empo. Bila salah, Pak Empo kembali ke posisi semula dan permainan diulang lagi.

Manfaat

Anak belajar menyanyi, mencocokkan ritme lagu dengan gerakan tangan, mengenal bahasa Jawa, melatih motorik halus, belajar mengikuti aturan, latihan kerja sama dan belajar menyimpan rahasia.

Makna

Lagu dolanan anak-anak di Jawa karya Sunan Giri ini ternyata mengandung makna luhur tentang nilai-nilai keutamaan hidup manusia, makna yang mengajarkan tindak anti korupsi atau anti Keserakahan. Berikut ini Makna lagu dolanan Cublak-Cublak Suweng.

1. Cublak-cublak suweng

Cublak Suweng = tempat Suweng. Suweng adalah anting perhiasan wanita Jawa. Jadi, Cublak-cublak suweng, artinya ada tempat harta berharga, yaitu Suweng (Suwung, Sepi, Sejati) atau Harta Sejati.

2. Suwenge teng gelenter

Suwenge Teng Gelenter = suweng berserakan. Harta Sejati itu berupa kebahagiaan sejati sebenarnya sudah ada berserakan di sekitar manusia.

3. Mambu ketundhung gudel

Mambu (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati itu. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan Gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuannya untuk menemukan kebahagiaan sejati.

4. Pak empo lera-lere

Pak empo (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan Harta Sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahannya sendiri.

5. Sopo ngguyu ndhelikake

Sopo ngguyu (siapa tertawa) Ndhelikake (dia yg menyembunyikan). menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagian sejati. Dia adalah orang yang tersenyum-sumeleh dalam menjalani setiap keadaan hidup, sekalipun berada di tengah-tengah kehidupan orang-orang yang serakah.

6. Sir-sir pong dele kopong

Sir (hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong. Maknanya bahwa untuk sampai kepada Tempat Harta Sejati (Cublak Suweng) atau kebahagiaan sejati, orang harus melepaskan diri dari kecintaan pada harta benda duniawi, mengosongkan diri, rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya atau hati nuraninya.

Kesimpulan

Untuk mencari harta janganlah menuruti hawa nafsu tetapi semuanya kembali ke hati nurani yang bersih. Tidak dipengaruhi hawa nafsu.. Dengan hati nurani akan lebih mudah menemukannya, tidak tersesat jalan hingga lupa akan akhirat.

Permainan Masak-Masakan

Oleh Lara Ahmad

Masak-Masakan (https://www.satujam.com)

Sebagai anak perempuan tulen, tentu di masa kecil aku suka bermain masak-masakkan. Tapi jangan tanya sekarang apakah aku bisa masak atau tidak. Yang namanya masak-masakkan, pasti cuma masak bohong-bohongan maka wajar bila di masa dewasa tetap tidak bisa masak.

Peralatan Memasak

Bermain masak-masakkan tentu membutuhkan peralatan memasak dan bahan masakan yang juga bohongan alias tiruan. Peralatan masak-masakan memang bisa dibeli di toko-toko terdekat. Alat masak-memasak ini dibuat mirip dengan aslinya dalam berbagai warna serta bentuk yang lebih mini. Namun, sebagai anak kampung di suatu dusun di daerah Boyolali, aku dan teman-teman masa kecilku jarang menggunakan peralatan mainan yang dijual di toko. Kami lebih sering menggunakan peralatan bekas seperti berbagai macam botol, batok kelapa, kaleng susu, tutup kaleng roti, atau wadah-wadah lain yang sudah tidak terpakai. Jadi, ternyata sejak kecil kami sudah diajarkan sederhana, hemat, juga mendaur ulang sampah atau barang-barang yang sudah tak terpakai.

Bahan Masakan

Sementara untuk bahan masak-masakannya, kami menggunakan bahan alami yang dengan mudah bisa diperoleh di sekeliling tempat tinggal kami. Kami biasa mencari bahan masakan di kebun, di belakang rumah, di kali, di sawah, atau di dalam rumah. Semuanya alami, tanpa bahan pengawet atau bahan pewarna. Namun, tetap berbahaya bila dimakan sungguhan. Ya iyalah, namanya juga masak-masakkan.

Tempe

Buah Nangka bahan pembuat Tempe, jangan yang masak (tua) nanti di marahi Emak 

Untuk membuat tempe-tempean, kami menggunakan buah nangka yang kecil-kecil. Kira-kira besarnya seukuran ibu jari orang dewasa. Buah nangka ini bisa diperoleh di bawah pohon nangka karena buah akan jatuh tak jauh dari pohonnya. Buah ini selanjutnya dikupas, dipotong kecil-kecil, lalu dibungkus daun pisang dan ditali dengan rafia atau tali yang berasal dari batang pohon pisang yang kering. Beberapa hari kemudian, potongan buah nangka tadi akan berfermentasi mirip seperti tempe yang dibuat dari kedelai.

Minyak Goreng

Daun bunga Sepatu, bahan pembuat minyak goreng

Sementara, untuk pengganti minyak, kami biasanya menumbuk daun bunga sepatu lalu diperas dengan air. Tumbukan daun dibuang, lalu air perasan disaring dan dimasukkan ke dalam botol. Jadilah minyak goreng mainan, yang warna dan kentalnya mirip minyak sungguhan.

Sirup

Daun pohon Jati, bahan pembuat Sirup (https://srigirsang.blogspot.co.id)

Kemudian untuk sirup, kami menumbuk daun jati muda dan juga diperas dengan air lalu air perasan dimasukkan ke botol. Jadilah sirup rasa frambozen atau stroberi. Untuk rasa-rasa lainnya, kami tinggal mencocokkan dengan warnanya. Misalnya, untuk melon, kami akan mencari tumbuhan yang bila ditumbuk akan menghasilkan perasan berwarna hijau, begitu seterusnya. 

Es Batu

Batu Padas, bahan pembuat Es Batu, cari yang kecil aja ya

Sementara untuk es batunya, kami mengakali dengan batu padas. Ketahuilah, setiap batu padas dicemplungkan kedalam air maka akan menimbulkan bunyi mendesis seperti es sungguhan.

Kerupuk

Daun Nangka bahan pembuat Kerupuk (https://9manfaatdaun.blogspot.co.id)

Ada pun untuk pengganti kerupuk adalah daun nangka yang kekuning-kuningan yang dipotong kotak-kotak. Lalu kerupuk-kerupukan itu digoreng dengan minyak goreng mainan tadi.

Ikan

Pelepah Pisang bahan pembuat Ikan (https://www.kaskus.co.id)

Selanjutnya untuk ikan-ikanan, kami menggunakan pelepah daun pisang yang telah diambil daunnya. Lalu pelepah pisang ini dipotong-potong secara miring dan tipis sehingga menghasilkan potongan yang mirip ikan, lebih tepatnya kepala ikan. Kami sering menyebutnya gereh petek (ikan petek) untuk ukuran yang agak besar. Sedang ukuran yang kecil, kami anggap sebagai gereh teri (ikan teri).

Bakso

Biji pohon Jati, mirip ya dengan Bakso? (https://agromart.wordpress.com)

Untuk bola bakso, kami bisa menggunakan biji atau buah dari pohon jati yang bentuknya bulat itu atau dengan batu atau bisa juga dengan tanah lempung yang sudah dibentuk bulat-bulat. 

Mie

Tali Putri, bahan pembuat Mie (https://rynari.wordpress.com)

Sementara untuk mie, Tali Putri semacam tanaman pengganggu yang memiliki bentuk dan warna seperti mie kuning ini tumbuh di antara tanaman tetean.

Gula Merah (Gula Kelapa)

Tumbukan Batu bata, bahan pembuat Gula Merah (https://tavip1708.wordpress.com)

Ada lagi, untuk bahan gula merah kami menggunakan bekas bata merah atau genting yang telah kami tumbuk. Mengapa harus ditumbuk? Tentu saja ditumbuk, karena batu tidak bisa meleleh seperti gula merah sungguhan bila dimasukkan ke air. Sedang untuk gula putihnya, kami menggunakan batu padas yang ditumbuk. Untuk garamnya, kami menggunakan biji bunga “pukul tujuh”. Biji bunga ini berbentuk bundar kecil berwarna hitam seukuran mutiara. Jika dibuka di dalamnya ada semacam tepung putih.

Sayur Mayur

Daun Jambu, bahan Sayur Mayur (https://pondokibu.com)

Lalu untuk sayur mayur, bukan hal yang sulit bagi kami. Banyak sayur sungguhan yang bisa digunakan seperti bayam, singkong, pepaya, atau kangkung yang banyak terdapat di kebun atau sawah. Untuk sayuran lain, kami juga bisa menggunakan daun jambu, belimbing, lamtoro (biasa kami sebut mlanding) dan daun-daun lain.

Surprisenya, sewaktu kecil aku menemui tanaman yang memiliki kemiripan dengan sayuran sungguhan yang biasa digunakan memasak oleh ibu-ibu kita. Seperti tanaman seledri misalnya, sayuran ini memiliki aroma khas, biasa digunakan untuk pelengkap masakan, ternyata ada tumbuhan yang mirip sekali dengan seledri tapi bukan seledri. Di tempatku biasa disebut seledri-seledrian. Akhiran "-an" cukup untuk menekankan bahwa tumbuhan ini hanya mirip seledri saja. Aroma seledri-seledrian pun sangat beda dengan seledri asli.

Selain sayuran, ada pula tanaman yang kami sebut suroh-surohan. Suroh atau dalam bahasa Indonesia disebut sirih biasanya dipakai untuk bahan pengobatan atau jamu tradisonal. Dipakai juga oleh nenek-nenek di kampungku sebagai pelengkap kinangan (bersirih). Suroh-surohan tadi juga cukup mirip dengan sirih namun bentuknya agak kecil.

Nasi

Ampas Kepala sebagai nasi, mirip ya? (https://blogobat.com)

Bagaimana dengan menu utama, yaitu nasi? Nah, ini dia yang aku sendiri tidak puas. Seringnya kami menggunakan tanah atau pasir sebagai pengganti nasi. Padahal kami tahu betul dari warnanya saja beda sekali. Nasi berwarna putih sementara tanah atau pasir hitam. Namun terkadang jika sedang beruntung, kami bisa menggunakan ampas kelapa sebagai pengganti nasi. Dari tekstur dan warnanya, ampas kelapa lebih mirip nasi ketimbang tanah ataupun pasir.

Makanan Penutup

Lidah buaya dikupas dan dicuci, sebagai bahan pembuat makanan penutup

Bagaimana dengan makanan penutup? Untuk pengganti agar-agar, kami bisa menggunakan lidah buaya yang sudah dikupas dan cuci. Teksturnya yang kenyal sangat mirip dengan agar-agar atau jely. Oya, getah lidah buaya yang kental bisa digunakan sebagai minyak goreng mainan tanpa perlu menumbuk daun bunga sepatu.

Mendadak aku tersadar, bahwa Pencipta Dunia ini sangat adil. Anak-anak pun mendapat kasih sayang dan perhatian yang luar biasa dari Sang Pencipta dengan adanya berbagai macam tumbuhan, tanaman, pohon serta lain-lain sebagai sarana bermain anak-anak. 

Sayangnya anak-anak sekarang ini jarang bermain di alam dengan sarana yang telah disediakan oleh alam, mereka lebih sering di depan televisi, di depan komputer atau sibuk dengan tombol-tombol ponsel.

Sumber: Beritasatu

Permainan Tradisional Dagongan


Dagongan adalah permainan olahraga tradisional Jawa Barat, dagong dalam bahasa sunda artinya dorong, yang mempergunakan bambu dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kekuatan untuk saling mendorong antara regu yang satu dengan regu yang lain. Permainan Olahraga tradisional dagongan ini merupakan kebalikan dari permainan tarik tambang. Untuk tarik tambang dalam cara bermain dengan saling manarik, sedangkan untuk permainan dagongan, kedua regu saling mendorong sekuat tenaga untuk mencari kemenangan.

Dagongan dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu sebanyak 7 orang, terdiri dari 5 pemain dan 2 cadangan. Kedua regu diwajibkan memakai kostum seragam dengan nomor dada atau punggung dimulai dari angka 1 s.d 7. Sebagaimana permainan tradisional lainnya, permainan dagongan ini sangat dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan sering dilombakan selain pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus, permainan ini juga sering dilakukan pada peringatan hari jadi Kabupaten atau Kota.

Permainan Tradisional Dagongan dipimpin oleh 1 orang wasit dan 3 juri (https://manteb.com)

Permainan olahraga tradisional dagongan ini dilakukan di arena berumput dan memiliki permukaan yang datar atau rata. Area dagongan merupakan area petak persegi panjang yang mempunyai ukuran 2 meter X 18 meter. Garis tengah dibuat untuk membagi dua lapangan dengan sama panjang. Area serang dibatasi oleh garis pembatas dengan jarak 2,5 meter dari garis tengah. Garis serang ini merupakan garis batas kaki pemain paling depan. Seluruh garis pembatas lapangan sebaiknya dibuat dari kapur saja.

Peserta dinyatakan sebagai pemenang, apabila salah satu regu dapat mengalahkan regu lain dengan score 2 – 0 atau 2 – 1 (kalau terjadi seri). Interval antara dorongan pertama dan kedua adalah 3 menit, dan apabila terjadi draw (seri) diberi waktu 5 menit. Apabila terjadi pelanggaran, 3 orang pemain keluar dari garis samping, secara otomatis regu tersebut dinyatakan kalah.

Permainan tradisional Dagongan oleh wanita (https://www.sportanews.com)

Bambu yang dipergunakan dalam permainan olahraga tradisional ini adalah menggunakan bamboo yang mempunyai ketebalan dan kekuatan yang dipersyaratkan. Tidak diperkenankan menggunakan bamboo dengan diameter yang terlalu kecil dan mudah patah, karena dapat membahayakan seluruh pemain. Bambu yang dipergunakan minimal berdiameter 12 cm – 18 cm dengan ukuran panjang 5 m – 8 m.

Persyaratan Permainan Dagongan

Persyaratan permainan ini dipakai saat pelaksanaan Invitasi Olahraga Tradisional Se Jawa Timur tahun 2012 di Kabupaten Jember :

1. Satu regu terdiri dari 5 orang pemain putri ditambah 2 pemain putri cadangan;
2. Berat badan pemain maksimal 60 kg;
3. Timbang berat badan dilakukan 1 jam sebelum pertandingan dimulai.
4. Jika pemain kelebihan berat badan, diberikan waktu 10 menit untuk menurunkan.
5. Jarak garis kemenangan yaitu 2, 5 m. Team yang berhasil mendorong melampaui garis dinyatakan sebagai pemenang;
6. Pemain dinyatakan sebagai pemenang jika 2 kali memenangkan pertandingan, apabila punya nilai sama (draw) diulang dengan istirahat 5 menit;
7. Penentuan pemain dan tempat ditentukan melalui undian;
8. Team yang keluar dari batas lintasan di diskualifikasi;
9. Team yang memutar bambu di diskualifikasi;
10. Jika kedua team sama – sama keluar dari garis batas, maka pertandingan diulang.

Sumber: Ortrad

Permainan Tradisional Boy-Boyan

Permainan tradisional Boy-boyan (https://www.mysabsku.com)

Boy-boyan merupakan permainan tradisional yang berasal dari provinsi Jawa Barat khususnya di daerah Sunda. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki. Tentu saja bukan dikhususkan untuk anak laki-laki, anak perempuan juga bisa bermain boy-boyan. Sebenarnya, permainan ini memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Misalnya, di daerah Pati, Jawa Tengah, permainan ini dikenal dengan nama Gaprek Kempung. Di daerah Sunda, ada yang menyebutnya boy-boyan, ada juga yang menyebutnya Bebencaran. Dan di beberapa daerah lainnya permainan ini disebut Gebokan, karena katanya suara yang biasa ditimbulkan apabila bola karet yangdigunakan dalam permainan mengenai anggota badan dari pemain akan menimbulkansuara "Gebok”.

Walaupun memiliki sebutan yang berbeda-beda, pada intinya permainan boy- boyan ini adalah sama. Permainan tradisional dari Jawa Barat ini memadukan kerja motorik anak dan juga mengasah kemampuan membuat strategi. Boy-boyan sendiri biasanya terdiri dari lima hingga sepuluh pemain yang dibagi menjadi dua kelompok dan dilakukan di lapangan yang cukup luas.

Alat yang digunakan

Pecahan genteng atau yang lainnya

1. Pecahan genteng atau gerabah, pecahan asbes, potongan kayu, atau pacahan batu bata, atau kaleng susu, dan sebagainya

Bola dari kumpulan kertas dibungkus kantong plastik (kantong kresek) diikat dengan karet (https://sosbud.kompasiana.com)

2. Bola plastik, bola tenis atau buat sendiri bolanya dari kumpulan kertas yang yang dibungkus kantong kresek dan diikat dengan karet.

Tempat Permainan

Dalam permainan boy-boyan ini, biasanya dilakukan di tempat yang luas, misalnya halaman rumah, halaman sekolah atau lapangan.

Umur dan Jumlah Pemain

Permainan boy-boyan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak yang berusia antara 8sampai 15 tahun. Tetapi tidak ada larangan bagi orang dewasa untuk memainkannya.

Aturan Permainan

Pemenang sedang melempar (https://budaya-indonesia.org)

1. Permainan dimulai dengan melakukan HomPimPa, yang kalah akan menyusun pecahan genting, gerabah, atau pecahan asbes, atau potongan kayu, atau pecahan batu bata, atau kaleng susu dan yang menang sebagai pelempar bola dengan jarak 3 meter.

Penjaga (https://www.sacikeas.com)

2. Pelempar harus melempar pecahan genting itu hingga rubuh, dan jika sudah rubuh, maka pihak penjaga (kalah) harus mengejar pihak yang pelempar (menang), kelompok pelempar harus menghindari lemparan tersebut, juga mereka (pemenang) harus menata kembali pecahan genting yang telah mereka robohkan.

3. Permainan selesai jika pelempar berhasil menyusun kembali pecahangenting, gerabah, atau pecahan asbes, atau potongan kayu, atau pacahan batu bata, atau kaleng susu tersebut utuh kembali, dan berhasil menghindari lemparan bola dari penjaga, hingga skor 1-0 untuk pelempar.