Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Peta Tenun Kalimantan

Peta Kalimantan (https://www.google.co.id)

Sahabat GPS Wisata Indonesia, untuk mempermudah dalam pencarian produksi Tenun di Propinsi Kalimantan, dibuat Site Map berdasarkan Propinsi seperti peta diatas, tinggal anda pilih (klik) yang diinginkan (warna biru).

1. Kalimantan Selatan

2. Kalimantan Timur
    a. Sarung Tenun Samarinda
    b. Kain Tenun Ikat Ulap Doyo

3. Kalimantan Barat
    a. Kain Tenun Sambas
    b. Kain Tenun Ikat Dayak Iban

4. Kalimantan Tengah

Kain Tenun Ikat Doyo, Kain Tradisional Suku Dayak Benuaq Kalimantan Timur

Kain tenun Doyo (https://budaya-indonesia.org)

Tenun doyo adalah kain tradisional hasil tangan kaum perempuan suku Dayak Benuaq di Tanjung Isuy (ibukota Kecamatan Jempang), Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Tenun yang terbuat dari serat tanaman doyo ini biasa dipakai oleh suku Dayak Benuaq dalam upacara-upacara adat dan digunakan sebagai mahar pada upacara perkawinan.

Sejak berabad-abad yang silam, suku Dayak Benuaq dikenal sebagai perajin tenun doyo. Namun, tidak diketahui secara pasti sejak kapan mereka mulai mengembangkan seni kriya ini hingga ke daerah Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai Barat. Beberapa sumber mengatakan bahwa tenun doyo sebelumnya pernah berkembang di dalam suku Ot Danum dari Kalimantan Selatan (Usman Achmad, et al., 1994/1995:12). Menurut Widjono (1998:77), suku Ot Danum termasuk dalam keluarga Barito. Namun, karena tanaman doyo (curculigo latifolia lend) sebagai bahan untuk membuat tenun doyo semakin sukar didapatkan menyebabkan sebagian dari suku Ot Danum pindah ke daerah Kalimantan Tengah (Achmad, et al., 1994/1995:11). Mereka itulah kemudian dikenal dengan suku Lewangan atau suku Luangan.

Kain tenun Doyo atau Ulap Doyo (https://www.indonesiakaya.com)

Suku Lewangan tidak begitu lama menetap di Kalimantan Tengah karena tanaman doyo sukar untuk dikembangkan di daerah tersebut. Suku Lewangan kemudian pindah lagi ke daerah Kalimantan Timur dengan melewati alur-alur sungai dan daerah pegunungan (Dalmasius Madrah T., 2002:4). Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai suku Dayak Benuaq. Suku Dayak Benuaq sebagian besar menempati daerah-daerah yang ada di Kabupaten Kutai Barat, khususnya Kecamatan Jempang. Di kecamatan ini, mereka tersebar lagi ke beberapa desa seperti Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah. Tanjung Isuy yang merupakan ibukota Kecamatan Jempang adalah desa yang paling dikenal sebagai sentral industri rumah tangga tenun doyo di daerah Kalimantan Timur. Sejak akhir 1970-an, desa ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berbelanja kain tenun doyo. Tenunan khas suku Dayak Benuaq ini digemari oleh wisatawan karena motif dan bahannya yang alami.

Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk membuat tenun doyo diambil dari serat daun tanaman doyo. Maka sebab itulah tenun ini dinamakan dengan tenun doyo. Serat daun doyo diperoleh dengan cara memotong daun tanaman doyo sepanjang 1-1,5 meter, lalu direndam ke dalam air sungai hingga daging daun hancur. Setelah itu, daun yang telah hancur dikerik dengan menggunakan sebilah pisau bambu untuk memisahkannya dari tulang tengah daun doyo sehingga yang tersisa hanya seratnya. Serat itulah yang dibuat benang oleh kaum perempuan suku Dayak Benuaq untuk ditenun, dan kemudian diolah menjadi destar (laukng), baju atau kemeja, celana pendek, kopiah, dompet, tas, hiasan dinding, dan lain sebagainya.

Tanaman doyo yang banyak tumbuh di daerah tersebut memiliki beberapa varietas dan ciri-ciri yang berbeda. Suku Dayak Benuaq menggolongkan tanaman doyo ke dalam 6 (enam) varietas. Namun, dua dari keenam variates tersebut tidak dapat dijadikan sebagai bahan tenun karena tidak memiliki serat. Oleh karena itu, variates yang akan disebutkan berikut ini hanya yang memiliki serat untuk dijadikan sebagai bahan tenun, yaitu:

Tanaman Doyo (curculigo latifolia lend) - https://balitbangda.kutaikartanegarakab.go.id/

Doyo temoyo

Merupakan varietas tanaman doyo yang paling baik (nomor 1). Ciri-cirinya adalah bentuk daunnya agak langsing dan melengkung, berwarna hijau muda, dan urat daunnya tidak terlalu keras. Varietas ini terdapat di Desa Mencong dan Desa Perigi, Kecamatan Jempang.

Doyo pentih

Serat doyo pentih hampir sama dengan serat doyo temoyo. Hanya warna daun dan tangkainya yang membedakan kedua varietas tersebut. Daun doyo pentih berwarna hijau kekuningan dan lebih tahan terhadap sinar matahari.

Doyo biang

Ukuran daun dan tangkai daun doyo biang ini lebih panjang dan lebih lebih dari doyo temoyo dan doyo pentih. Panjang daun varietas ini bisa mencapai 150 cm dan lebar 25 cm, sedangkan panjang tangkai daun bisa mencapai 113 cm.

Doyo tulang

Ukuran daun doyo tulang lebih kecil daripada doyo biang dan doyo pentih. Namun, daun varietas ini agak tegak dan lentur karena tulangnya lebih keras. Oleh karena itu, serat daunnya akan pecah-pecah ketika dikerik (Achmad, et al., 1994/1995:15-16).

Selain keempat varietas tanaman doyo tersebut di atas, para perajin di Tanjung Isuy juga menggunakan benang katun, serat nanas, dan bahan-bahan tekstil lainnya sebagai kombinasi kain tenun doyo sehingga proses pembuatannya lebih cepat. Penggunaan bahan-bahan tekstil selain tanaman doyo tersebut tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.

Warna

Pada dasarnya, warna asli serat doyo untuk bahan tenun adalah berwarna putih atau krem. Agar warna kain tenun doyo menjadi bervariasi dengan motif-motif yang indah, maka digunakan berbagai jenis bahan pewarna. Adapun jenis warna dan bahan pewarna yang biasa digunakan dalam tenun doyo adalah sebagai berikut:

Warna Hitam

Warna ini diperoleh dari asap hasil pembakaran damar yang dicampur dengan cairan pekat. Selain itu, bahan pewarna hitam juga dapat diperoleh dari daun pohon kebuau yang sudah tua. Serat daun kebuau tersebut direbus bersama dengan serat daun doyo sehingga serat tersebut menjadi berwarna hitam.

Warna merah

Bahan pewarna merah untuk tenun doyo terdiri dari tiga macam, yaitu:

1. Batu alam atau batu lado.

Batu alam yang diperoleh dari Sungai Lawa Bentian Besar di daerah Tanjung Isuy ini hanya merupakan alat untuk memberi warna merah pada tenun. Caranya adalah batu ini digosokkan pada piring putih dengan sedikit campuran air, kemudian dicoletkan pada benang tenun.

2. Biji buah glinggam (annatto bixa orellana) yang agak tua.

Caranya adalah beberapa biji buah glinggam yang telah dicampur dengan air diremas di dalam mangkuk hingga mengeluarkan cairan berwarna merah kental. Setelah itu, cairan berwarna merah tersebut dioleskan atau dicoletkan pada benang tenun.

3. Kulit batang pohon uar

Kulit pohon ini dikupas dan dipotong-potong, kemudian ditumbuk hingga air getahnya keluar, dan selanjutnya direndam selama satu malam hingga airnya menjadi merah tua. Setelah itu, serat daun doyo direndam dalam air getah kulit uar selama beberapa jam hingga serat tersebut menjadi merah.

Buah Glinggam untuk pewarna merah pada tenun doyo

Warna hijau

Warna ini dapat diperoleh dari daun putri malu (aminosa pudica) dengan cara terlebih dahulu dilumatkan, kemudian direbus hingga berwarna hijau kental, dan selanjutnya dioleskan pada benang tenun.

Warna kuning

Warna ini diambil dari umbi kunyit (curcuma longa) dengan cara diparut dan diberi air sedikit, kemudian diperas hingga mengeluarkan cairan berwarna kuning kental, dan selanjutnya dioleskan pada benang tenun.

Warna coklat

Warna ini diperoleh dari akar kayu oter dengan cara diambil getahnya dan kemudian dioleskan pada benang tenun (Achmad, et al., 1994/1995:22-23).

Dewasa ini, para perajin sudah banyak yang menggunakan bahan sepuhan kue sebagai bahan pewarna dan cat warna rhodamine (I.C.I.) untuk pencelupan benang tenun. Hanya saja cat warna yang juga biasa digunakan sebagai bahan pewarna makanan ini daya tahannya terhadap air sangat rendah.

Ragam Hias (Motif)

Doyo atau Ulap Doyo juga pas untuk kalangan anak-anak dan remaja

Ragam hias pada kain tenun doyo pada umumnya hampir sama dengan ragam hias yang diterapkan pada kain tenun di daerah lain di Nusantara. Motif-motif yang paling menonjol pada tenun doyo adalah motif dengan gaya swastika, misalnya pada motif timang atau harimau (Achmad, et al., 1994/1995:29). Motif dengan gaya swastika pada tenun doyo diperkirakan mendapat pengaruh dari tenunan Gujarat, India, yang dibawa oleh para pedagang-pedagang Islam yang datang ke Indonesia hingga sampai ke daerah Kalimantan (Achmad, et al., 1994/1995:11). Kini, tenun doyo memiliki puluhan jenis ragam hias atau motif yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas. Ragam hias atau motif-motif tersebut adalah sebagai berikut:
  • Motif naga, yaitu melambangkan keayuan seorang wanita 
  • Motif limar atau perahu, yaitu lambang kerja sama dalam usaha. Perahu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Benuaq merupakan alat transportasi yang di sungai dan di danau 
  • Motif kimas atau ikan, yaitu bermakna sebagai suatu pertanda atau peringatan berupa nasehat dari leluhur kepada generasi penerusnya. 
  • Motif timang atau harimau, yaitu melambangkan keperkasaan seorang pria. 
  • Motif tangga tukar toray atau tangga rebah atau terbalik, yaitu bermakna melindungi usaha dan kerjasama dalam masyarakat. 
  • Motif tipak mening knowala atau gigi graham, yaitu melambangkan peran orangtua dalam suatu kerjasama atau bermasyarakat. 
  • Motif timang nuat atau harimau yang tunduk, yaitu melambangkan suatu harapan agar keperkasaan atau keberanian seseorang tidak boleh lemah atau pudar. 
  • Motif timang sesat sungkar atau tangga harimau, yaitu melambangkan agar kerjasama dan usaha masyarakat harus senantiasa tegar dan berani untuk mencapai cita-cita.
  • Motif tengkulut tongau atau patung, yaitu sebagai lambang kepercayaan masyarakat setempat tentang kehidupan di alam lain setelah manusia mengalami kematian. Oleh karena itu, patung itu memegang peranan penting dalam upacara kwangkai 
  • Motif brabang atau senduk yang bersusun-susun, yaitu melambangkan kemewahan dan kesenangan seseorang. 
  • Motif upak talang atau kulit bambu, yaitu melambangkan kesuburan 
  • Motif wahi nunuk atau akar pohon beringin, yaitu melambangkan keberhasilan suatu pekerjaan yang tergantung pada kerjasama di dalam masyarakat. 
  • Motif tempaku atau pinggiran tenun yang berbentuk tumpal, yaitu melambangkan keberhasilan yang sempurna suatu usaha.
  • Motif tekulut atau katak, yaitu melambangkan akhir dari suatu pekerjaan.
  • Motif tekuran atau titik-titik hujan, yaitu melambangkan kesuburan lingkungan si perajin tenun. 
  • Motif tapus tongan atau kembang anggrek, yaitu melambangkan kesuburan generasi muda untuk mencapai cita-cita. 
  • Motif rakang atau kembang penggerek kelapa, yaitu melambangkan suatu masalah kecil yang lama-kelamaan akan membawa petaka besar.
  • Motif pupu atau kupu-kupu, yaitu melambangkan harapan dan kesuburan.
  • Motif pucuk rebun atau bambu muda, yaitu melambangkan kekuatan dari dalam dan secara abstrak menggambarkan manusia itu sendiri (Achmad, et al., 1994/1995:30-34).
Sumber: Melayuonline

Kain Tenun Ikat Dayak Iban Kalimantan Barat


Suku Iban merupakan salah satu sub Suku Dayak yang hidupnya tersebar di perbatasan Malaysia dan Kalimantan Barat, khususnya di perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu dan Malaysia. Umumnya, Suku Iban yang berdiam di wilayah Indonesia dikenal mempunyai pertalian darah dengan Suku Iban Malaysia.

Masyarakat suku Iban mendiami rumah-rumah panjang (rumah panjai) yang dikepalai oleh seorang "pemilik rumah" (Tuai Rumah). Seorang Tuai Rumah-lah yang mengatur kehidupan masyarakat Suku Iban di dalam Rumah Panjang (Rumah Bentang).

Suku Iban mempunyai kekhasan budaya yang bisa dibedakan sub-suku Dayak lainnya misalnya dalam hal Bahasa, Alat Musik, Tarian, Kerajinan Tangan, terutama tenun ikatnya. Di antara beberapa Sub Suku yang mendiami wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Suku Iban merupakan salah satu dari dua Sub Suku Dayak selain Kantuk, yang masih mempunyai tradisi tenun ikat. Umumnya tenun ikat Suku Iban bermotif dasar naga, bunga, manusia (orang-orangan), ataupun perpaduan ketiga jenis motif dasar tersebut.

Dulu Suku Dayak Iban hanya mengenakan pakaian hasil tenunan atau olahan kulit kayu sendiri dan keterampilan menenun kain ikat ini menjadi syarat layaknya seorang remaja putri untuk memasuki gerbang pernikahan. Semakin melimpahnya kain dan baju jadi di pasar yang mudah dijangkau, mulai melunturkan nilai adat Suku Iban yang dulunya membuat sandang sendiri.

Kini hanya Martha Sambong (46) seorang wanita dari Dusun Ngaung Keruh, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang mampu menenun di lingkungan betang (rumah panjang) itu. Keterampilan ini pun dia pelajari setelah usia 40 tahun.

Dalam hal tenun ikat, di antara masyarakat Suku Iban dikenal empat jenis tenunan dengan tingkat kesulitan/kerumitan yang berbeda, sehingga memerlukan waktu pengerjaan yang berbeda pula.

Ragam Hias (Motif)

Dalam pembuatan kain ikat ini terdapat empat macam warna utama, yaitu merah, hitam, kuning, dan putih. Martha mengandalkan pewarna alami yang tahan lama dengan memanfaatkan alam sekitarnya. Warna merah ia peroleh dari daun mengkudu (Morinda Citrifolia) atau kulit kayu salam. Warna hitam didapatkan dari daun renggat atau lumpur. Warna kuning didapatkan dari kunyit (Curcuma longa) dan temulawak (Curcuma xanthorhiza).

Kain Tenun Ikat dikenal empat jenis tenunan dengan tingkat kesulitan atau kerumitan yang berbeda dalam proses pengerjaannya.

1. Tenun Kebat


Kain ini bermotifkan bunga, manusia, dan naga. Warna dasarnya coklat dengan motif putih. Jenis tenunan ini merupakan jenis tenun paling sederhana. Biasanya seorang wanita Iban bisa menyelesaikan tenunan ini 2 lembar dalam waktu satu bulan. Harga yang biasa dijual kepada tamu asing untuk kain tenun jenis ini biasanya dinilai sebesar Rp 800.000 perlembar dengan ukuran maksimal 2m x 0,5 m.

2. Kain Tenun Sidan


Kain ini bermotif bunga dan orang saja. Warnanya lebih bervariasi tergantung permintaan orang yang memesannya. Pengerjaannya lebih rumit dibandingkan jenis tenunan pertama. Biasanya seorang wanita Iban bisa menyelesaikan jenis tenunan ini 1 lembar dalam sebulan dengan ukuran 2m x 0,5m. Karena lebih rumit dari yang pertama, maka kain jenis tenunan ini dijual dengan harga Rp 1.000.000 perlembar.

3. Kain Tenun Songket


Warna dan motifnya lebih bervariasi dibandingkan jenis tenunan pertama dan kedua, sehingga cara pengerjaannya pun lebih rumit dibandingan kedua jenis tenunan sebelumnya. Motif dasarnya bisa berupa naga, bunga, dan orang-orangan atau perpaduan ketiganya. Seorang wanita Iban bisa menyelesaikan jenis tenunan ini 1 lembar dalam waktu 4-6 bulan dengan ukuran maksimal 2m x 0,5 meter. Karena lebih rumit, kain jenis ini dijual dengan harga Rp 2.000.000 perlembar kepada para wisatawan.

4. Kain Tenun Plin Slam


Jenis kain tenun ini merupakan kain tenun paling tua bagi Suku Iban, sehingga tidak semua wanita Iban generasi muda pandai menenun dengan motif atau corak seperti ini. Hanya ibu-ibu generasi tua yang mampu menenun kain jenis ini. Motifnya jauh lebih rumit dan pengerjaanya jauh lebih lama. Karena langka dan rumit proses penenunannya, maka umumnya dijual dengan harga perlembar Rp 2.500.000. Biasanya seorang wanita tua mengerjakan satu lembar kain ukuran 2m x 0,5 cm dalam waktu 1 tahun.

Di hadapan alat tenun ikat tradisional inilah, para wanita Iban menyalurkan keahlian turun-temurun leluhur mereka di sela-sela kesibukan berladang. Faktor kurangnya minat wisatawan untuk membeli kain tenunan mereka dan permintaan pasar yang tidak menentu menyebabkan para wanita Iban perbatasan tidak dapat mengandalkan tenunan mereka sebagai sumber pendapatan tetap keluarga semakin membuat budaya tenun ikat Dayak Iban ditinggalkan oleh kaum wanitanya. Kini aktivitas menenun hanya dijadikan sebagai hobi yang dikerjakan di sela-sela kesibukan berladang padi yang hasilnya sangat tidak memadai.

Sumber: Erzariani

Kain Tenun Sambas Kalimantan Barat


Kalimantan Barat mempunyai kain tenun yang khas, bernama kain tenun sambas. Apabila anda berpikir bahwa sambas adalah nama sebuah kabupaten di kalimantan barat maka anda benar.

Kain Tenun Sambas yang biasa di sebut ” Kain Lunggi ” atau Kain Benang Emas karena salah satu bahan yangdigunakan adalah benang emas berwarna kuning emas. ”Kain tenun Sambas” memang masih belum banyak dikenal orang.

Tenun ikat Sambas atau yang lebih akrab disebut Tenun Sambas, sebagaimana namanya, merupakan kerajinan tenun yang dihasilkan oleh masyarakat Sambas, Kalimantan Barat. Konon, kain ini telah ada sejak kesultanan Sambas dipimpin Sultan Sulaiman. Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas pada tahun 1675 M dan memerintah selama selama 10 tahun, yaitu sampai tahun 1685, dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin I.


Namun, dengan melihat motif-motif tumbuhan yang sangat dominan pada Tenun Sambas, tenunan ini mungkin telah ada sebelum berdirinya Kesultanan Islam Sambas, yaitu ketika di Sambas masih berdiri kerajaan-kerajaan Hindu. Jika Tenun Sambas telah ada pada masa Sultan Sulaiman memerintah kesultanan Sambas atau bahkan sebelumnya, maka Tenun Sambas hingga saat ini telah berumur lebih dari 300 tahun.

Keberadaan Tenun Sambas yang mampu melewati rentang waktu tiga abad menunjukkan bahwa tenunan ini mempunyai keistimewaan tertentu yang membuatnya senantiasa dilestarikan. Orang-orang Sambas menggunakan kain tenunan ini sebagai pelengkap pelaksanaan ritual adat, salah satunya adalah upacara adat perkawinan. Dalam upacara perkawinan, kain Tenun Sambas digunakan sebagai pelengkap barang antaran atau seserahan dari pihak mempelai lelaki kepada mempelai perempuan, dan kain cual dijadikan balasan barang antaran dari mempelai wanita ke pihak mempelai laki-laki. Dengan digunakannya Tenun Sambas sebagai salah satu pelengkap ritul adat, maka tenunan ini merupakan teman orang-orang Sambas dalam mengarungi hidupnya. Dengan fungsinya tersebut, wajar jika Tenun Sambas terus (baca: harus) dilestarikan oleh masyarakat Sambas.

Motif

Beberapa bentuk motif pucuk rebung

Salah satu ciri khas Tenun Sambas adalah keberadaan pucuk rebung atau orang Sambas biasa menyebutnya suji bilang sebagai motifnya. Kain Tenun Sambas, menurut Suhaeri dengan mengutip Sahidah, selalu ada pucuk rebungnya. Motif pucuk rebung berbentuk segi tiga, memanjang dan lancip. Disebut pucuk rebung karena merupakan stilirisasi dari tunas bambu muda. Penggunaan pucuk rebung sebagai ciri khas Tenun Sambas bukan sebuah kebetulan, tetapi memiliki makna yang luas dan mendalam. Sedikitnya ada tiga makna dari penggunaan motif ini sebagai ciri khas. Pertama, sebagai pengingat agar orang-orang sambas terus berupaya untuk maju. Pucuk rebung adalah bagian dari pohon bambu yang terus tumbuh dan tumbuh. Semangat trus tumbuh inilah yang ingin disampaikan oleh motif ini. Kedua, orang Sambas harus senantiasa berpikiran lurus, sebagaimana tumbuhnya pucuk rebung. Pucuk rebung selalu tumbuh lurus hingga menjulang tinggi. Ketiga, jika mencapai puncak tertinggi, tidak boleh sombong dan arogan, sebagaimana pohon bambu yang selalu merunduk ketika telah tinggi.

Keistimewaan kain tenun Sambas lainnya memiliki 2 unsur motif yang berbeda seperti unsur china pada motif mawar dan unsur islam pada motif geometrik.

Beragam Tenun Sambas (https://www.fimela.com)

Konon, Kain Tenun Sambas hingga saat ini telah memiliki ratusan motif. Motif-motif Tenun Sambas yang saat ini cukup dikenal masyarakat, di antaranya Tepuk Pedada, Siku Keluang, Mata Punai, Awan Larat, Pucuk Rebung, Bunga Pecah, Bunga Melur, Biji Periak, Angin Putar, Ragam Banji, Bunga Cengkeh, dan Bunga Cempaka. Salah satu keunikan Tenun Sambas adalah walaupun memiliki banyak motif, motif pucuk rebung senantiasa menjadi tajuk dalam setiap helai Kain Tenun Sambas.

Berikut ini beberapa jenis Kain Tenun Sambas dengan beberapa motif yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat.

1. Kain Telur Bunga Cangkring

Disebut Telur Bunga Cangkring karena kain ini memiliki motif bunga-bunga cangkring yang disusun dalam satu bundaran berbentuk telur warna hitam dengan kombinasi pucuk rebung. Kain ini sangat cocok dipakai pada waktu menghadiri kegiatan-kegiatan yang dilaksananakan pada malam hari. Dengan memakai kain ini, seseorang akan terlihat berwibawa.


Kain Tenun Sambas ini memiliki beberapa motif, antara lain: pucuk rebung,tahi lalat, talok mata ayam, tabur bunga melati kecil, bunga tanjung, bunga malek, bunga cangkring, dan bunga mawar merah.

2. Kain Rantai Mas


Kain Rantai Mas ini memiliki warna dasar hijau. Kain ini biasanya dipakai oleh kaum wanita untuk menghadiri acara-acara penting, seperti menghadiri undangan dari pembesar suatu daerah atau undangan dari raja.

Kain Tenun Sambas ini merupakan perpaduan beberapa motif, seperti: pucuk rebung, tahi lalat (berbentuk titik), bunga telur mata ayam, tujuh tabur bunga melati kecil di tengah- tengah, bunga tanjung,bunga malek, dan bunga cangkring.

3. Kain Mahkota Berawan


Motif yang paling menonjol dan khas pada kain ini adalah dua ekor burung yang bertengger diatas mohkota raja yang selimuti awan. Menandakan kemerdekaan dan kemakmuran.

4. Kain Sabuk Rantai Berbintang


Kain Tenun Sambas ini biasanya dipakai oleh kaum pria untuk melengkapai baju teluk belanga (baju khas Melayu). Kain yang memiliki warna dasar ungu ini memiliki ukuran setengah dari kain biasa, dan biasanya dipakai lewat batas lutut atau setengah saja.

Tenunan Sabuk Rantai Berbintang ini merupakan kombinasi dari beberapa motif, seperti: pucuk rebung, tahi lalat, talok mata ayam, tabur bunga melati kecil, bunga tanjung, bunga malek, bunga cangkring, dan bunga mawar.

5. Kain Sabuk Bintang Timur


Kain ini memiliki warna dasar merah muda dengan motif bintang yang sangat mencolok, sehingga mengandung makna cita-cita yang luhur. Oleh karena itu, kain ini sangat cocok dipakai oleh anak- anak yang menjelang baliqh.

Tenunan ini diperkaya oleh beberapa motif, seperti: pucuk rebung, tahi lalat (berbentuk titik), bunga telur mata ayam, tabur bunga, bunga tanjung, dan bunga cangkring.

Sumber: Melayuonline

Peta Tenun Jawa Barat

Peta Jawa Barat (https://www.google.co.id)

Sahabat GPS Wisata Indonesia, untuk mempermudah dalam pencarian kota atau kabupaten yang memproduksi Tenun di Provinsi Jawa Barat, dibuat Site Map berdasarkan Peta diatas, tinggal anda pilih (klik) kota atau kabupaten yang diinginkan (warna biru).

  1. Bandung
  2. Cimahi
  3. Subang
  4. Purwakarta
  5. Karawang
  6. Bekasi
  7. Depok
  8. Bogor
  9. Sukabumi
10. Cianjur
11. Garut
12. Tasikmalaya
13. Banjar
14. Ciamis
15. Kuningan
16. Cirebon
17. Majalengka
18. Indramayu
19 Sumedang

Semoga bermanfaat.

Kalung Uncal dari Kutai Kartanegara


Menurut sejarah, kalung Uncal yang saat ini menjadi salah satu koleksi di Museum Mulawarman kemungkinan berasal dari India. Dalam bahasa India kalung ini disebut Unchele dan di dunia ini hanya terdapat 2 buah atau satu pasang, yakni sebuah untuk pria dan sebuahnya lagi untuk wanita. Terbuat dari emas 18 karat dengan berat 170 gram dan kalung ini dihiasi dengan relief cerita Ramayana (Baca: Peninggalan Kasultanan Kutai Kartanegara).

Kalung Uncal yang saat ini ada di India hanya sebuah saja. Menurut keterangan salah seorang duta India yang berkunjung ke Tenggarong pada tahun 1954, kalung Uncal yang ada di Kutai ini sama bentuk, rupa dan ukurannya dengan kalung Uncal yang ada di India. Sehingga, ada kemungkinan bahwa Raja Mulawarman Nala Dewa merupakan salah seorang keturunan dari Raja-Raja India di masa silam dan membawa kalung Uncal tersebut ke daerah Kutai ini.

Kalung “Uncal“ yang berada di keluarga Bangsawan Kutai Kartanegara merupakan sebuah benda pusaka turun menurun yang dipergunakan jika hendak melakukan penobatan Raja.

Kalung Uncal tersebut merupakan kelengkapan utama selain Mahkota emas yang bertatah permata tak ternilai. Namun demikian konon cerita kalung Uncal ini jauh usianya lebih tua dari pada Mahkota Raja. Sedang kalung Uncal itu sendiri tadinya bukanlah milik dari kerajaan Kutai tetapi adalah milik dari kerajaan Martadipura - kerajaannya Sang Mulawarman.

Menurut cerita, kalung Uncal ini dibawa langsung oleh pendiri kerajaan Martadipura yaitu sang ratu “Kudungga“. Namun karena kalah berperang dengan pihak kerajaan Kutai maka kalung tersebut jatuh menjadi milik Kerajaan Kutai yang pada waktu itu berkedudukan di Jembayan, dengan rajanya yang bernama Pangeran Sinum Panji Mendapa, yang berdiri pada abat ke-17. Sedang kerajaan Martadipura atau kerajaannya Mulawarman berkedudukan di Muara Kaman yaitu bagian hulu dari kerajaan Kutai.

Peperangan terjadi antara kedua belah pihak, bertolak dari masalah kekayaan hasil bumi dan alam yang dimiliki pihak kerajaan Martadipura. Sedang pihak Kerajaan Kutai hanyalah sebagai kerajaan Bandar atau pusat perdagangan dari hasil bumi pihak Martadipura yang ketika itu dirajai oleh tiga bersaudara yaitu, Darmasetya, Satiayuda,dan Satyaguna.

Awalnya pihak Kutai mengajak agar kedua kerajaan dijadikan satu saja dengan pemerintahan bersama. Sebenarnya kedua raja yang memang bersahabat setuju dengan rencana tersebut. Tetapi banyak bangsawan dari kedua pihak yang tak setuju sehingga terjadi salah paham yang akhirnya terjerumus pada peperangan. Kerajaan Martadipura berdiri jauh sebelum kerajaan Kutai ada. Yaitu sekitar abab ke 4 dengan raja pertama adalah Ratu Kudungga yang kemudian menurunkan Raja Mulawarman, Sri Warman, Maha Wijaya Warman, Gaya Yana Warman, Wijaya Tungga Warman, Nala Singa Warman, Jaya naga Warman, Nala Perana Warman Dewa, Gadingga Warman Dewa, Indra Warman Dewa, Sanga Warman Dewa, Singa Wargala Warman Dewa, Cendra Warman, Prabu Kula Tunggal Dewa,Nala Indra Dewa, Indra Mulia Warman Tungga, Sri Langka Dewa, Guna Prana Tungga, Wijaya Warman, Indra Mulia Warman, dan yang terakhir adalah Darmasetya, Satiayuda, serta Satyaguna. Dengan jumlah seluruhnya sebanyak 21 raja yang memerintah Martadipura.

Namun dari keduapuluh satu raja tersebut yang paling terkenal adalah Maha Raja Mulawarman yang terkenal bijak dan memiliki pengaruh sampai ke negeri Cina dan India. Waktu itu Kerajaan Mulawarman sangat terkenal makmur dan berjaya dengan hasil dagang yang berlimpah ruah sehingga banyak prasasti yang ditinggalkannya hingga kini tentang masa kejayaannya.

Kalung Uncal yang ada pada ratu Kudungga itu sendiri ceritanya berasal dari India milik dari Dewi Sinta isteri dari Sri Rama. Kalung Uncal tersebut tidak hanya satu, tetapi ada sepasang. Kalung Uncal yang lebih besar dipakai oleh Sri Rama yang hingga sekarang masih ada di India. Sedang kalung Uncal yang sedikit lebih kecil itu adalah milik Dewi Sinta isteri Sri Rama raja Dari Ayodhiapala.

Kalung Dewi Sinta terlepas dan jatuh di hutan dan ditemukan oleh seorang Resi yang menurunkan Ratu Kudungga. Lepasnya kalung tersebut ketika Dewi Sinta dilarikan oleh Rahwana si Raja Alengkadirja. Peperangan terjadi antara Sri Rama dan Rahwana yang berakhir dengan tewasnya si Rahwana. Namun demikian, kalung Uncal tersebut walau telah dicari kemana mana tak pernah ditemukan.

Dalam hikayat kalung Uncal tersebut adalah milik dari Batara Wisnu dan isterinya yaitu seorang dewa dari kayangan yang menjadi salah seorang sembahan kepercayaan dalam agama Hindu India. Kalung tersebut diturunkan pada Sri Rama dan isterinya karena suami isteri ini adalah merupakan reinkarnasi dari dewa dewi Wisnu tersebut.

Kalung tersebut diketahui telah menjadi milik Ratu Kudungga yang menjadi raja jauh dari negeri asalnya India. Menurut cerita ,kalau kalung tersebut belum menyatu atau kembali berdampingan, maka selama itu pula India tak pernah tenteram, damai dan makmur. Bencana selalu melanda negeri tersebut. Kelaparan, kemiskinan serta peperangan tak akan berhenti bagaimanapun juga. Demikian menurut kepercayaan kalangan masyarakat India.

Dilain pihak kalung “Uncal“ tersebut adalah merupakan kekayaan dan milik Negara Indonesia. Soal benar tidaknya cerita tentang malapetaka yang melanda India karena kalung tersebut tak bersatu, terserah bagi mereka yang menilai. Namun jika benar kalung tersebut adalah milik Dewi Sinta, sudah tentu harga atau nilainya tak dapat diukur dengan apapun. Tetapi semua itu hanyalah suatu legenda tentang asal usul kalung Uncal yang berkaitan dengan Sri Rama, sebagaimana legenda dunia tentang Ramayana.

Sumber: Budaya Indonesia

Perhiasan Tradisional Peranakan


Perhiasan peranakan adalah perhiasan yang banyak dijumpai di daerah pesisir mulai dari pulau Jawa hingga Malaka sebagai akibat dari akulturasi budaya setempat / lokal dan budaya yang dibawa oleh pedagang dari Cina Selatan pada abad ke -14. Hingga keabad 17, perhiasan ini dipakai sebagai simbol atau cermin dari gaya hidup dan tingkat social pada masa itu.


Beragam perhiasan yang menjadi khas dari perhiasan pernakan adalah bros tiga susun atau yang lazim disebut dengan kerongsang yang digunakan sebagai penutup atau pengunci kebaya. Krongsang ini memiliki beragam bentuk; ada yang terpisah seperti kerongsang ibu dan anak, atau kerongsang tiga susun yang berhubungan dengan rantai dan bentuk yang merupakan stylisasi dari bunga atau daun yang merupakan pengaruh budaya Melayu. Sedangkan rantai yang menghubungkan ketiga bros ini disebut sebagai pengaruh budaya Jawa.

Bentuk perhiasan lain yang cukup popular pada perhiasan adalah Pending – ikat pinggang untuk mengikat kain. Disamping sebagai hiasan, pending ini juga digunakan sebagai alat tukar atau alat pembayaran yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.


Pengaruh budaya Cina, nampak pada bentuk fauna seperti kupu – kupu, burung Hong atau Phoniex, kilin, ikan, penyu naga serta lebah, yang menjadi lambang dari kesuburan, kemakmuran , panjang umur, dan kebahagiaan perkawinan.

Sumber: Manjushanusantara