Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

NAMA dan GAMBAR SENJATA TRADISIONAL DAERAH 33 PROVINSI

                
      Indonesia Kaya Raya. 
Siapa yang tidak kenal dengan Nusantara. Sebuah negara yang kaya raya. Kaya dengan Budaya, adat / tradisi, sumberdaya alam hayati maupun non hayati, baik yang berada di darat maupun laut/air. Indonesia
adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Pulau  yang ada di Indonesia kurang lebih hampir 13.000 pulau baik pulau mbesar maupun kecil. Letak Indonesia secara astronomis adalah 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan, dan 95 derajat Bujur Timur hingga 141 derajat bujur Timur. Ini berarti Indonesia
terbentang dari Barat ke Timur dilintasi oleh equator (garis khatulistiwa). Dengan kata lain Indonesia tersebar dari Sabang Sampai Meraoke. Penduknya hampir / lebih dari 350 juta jiwa. Dengan demikian tentu Indonesia kaya dengan berbagai macam suku atau etnis. secara otomatis budaya dan adat mereka juga beraneka macam. termasuk senjata yang mereka pakai secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Nah mari kita coba untu menyimak berbagai gambar dari senjata senjata tradisional mereka :



1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD     
    Senjata Tradisional : Rencong


2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut
    Senjata Tradisional : Piso Surit, Piso Gaja Dompak

3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar
    Senjata Tradisional : Karih, Ruduih, Piarit

4. Provinsi Riau
    Senjata Tradisional : Pedang JenaWi, Badik Tumbuk Lado



5. Provinsi Jambi
    Senjata Tradisional : Badik Tumbuk Lada
 

6. Provinsi Sumatera Selatan / Sumsel
    Senjata Tradisional : Tombak Trisula


7. Provinsi Lampung
    Senjata Tradisional : Terapang, Pehduk Payan

Terapang/Pehduk/Payan Senjata tradisional Lampung
8. Provinsi Bengkulu
    Senjata Tradisional : Kuduk, Badik, Rudus


9. Provinsi DKI Jakarta
    Senjata Tradisional : Badik, Parang, Golok


10. Provinsi Jawa Barat / Jabar
     Senjata Tradisional : Kujang

Kujang
11. Provinsi Jawa Tengah / Jateng
     Senjata Tradisional : Keris


12. Provinsi DI Yogyakarta / Jogja / Jogjakarta
      Senjata Tradisional : Keris Jogja


13. Provinsi Jawa Timur / Jatim
      Senjata Tradisional : Clurit


14. Provinsi Bali
      Senjata Tradisional : Keris


15. Provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB
      Senjata Tradisional : Keris, Sampari, Sondi

Keris, Sampari, Sondi
16. Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT
      Senjata Tradisional : Sundu


17. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar
      Senjata Tradisional : Mandau

Mandau


18. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng
      Senjata Tradisional : Mandau, Lunjuk Sumpit Randu








19. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
      Senjata Tradisional : Keris, Bujak Beliung


20. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim
      Senjata Tradisional : Mandau

Mandau
21. Provinsi Sulawesi Utara / Sulut
      Senjata Tradisional : Keris, Peda, Sabel

Keris, Peda, Sabel
22. Provinsi Sulawesi Tengah / Sulteng
      Senjata Tradisional : Pasatimpo

 

 

23. Provinsi Sulawesi Tenggara / Sultra
      Senjata Tradisional : Keris

Keriss
24. Provinsi Sulawesi Selatan / Sulsel
      Senjata Tradisional : Badik

 Badik
25. Sulawesi Barat



    



  
26. Gorontalo










27. Provinsi Maluku Selatan
      Senjata Tradisional : Parang Salawaki / Salawaku, Kalawai

 


28. Sumatera Utara









29. Maluklu Utara




30. Provinsi  Papua Barat
      Senjata Tradisional : Pisau Belati

 
31. Papua




32. Banten





33. Bangka Belitung



ADU BALAP SAPI DI MADURA ( Bull Race in MADURA)

 
 Indonesia sangat kental sekali dengan kekayaan adat istiadat maupun budayanya di seantero jagat raya ini. Salah satu dari hasil kebudayaan asli Indonesia adalah Karapan Sapi. Bagi Anda yang merupakan warga


asli kota Madura mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah “Karapan Sapi”. Karapan Sapi sendiri merupakan salah satu budaya asli khas Madura dimana para hewan atau dalam hal ini hewan sapi, berpacu untuk memenangkan sebuah sebuah perlombaan. Mungkin dari pembaca sekalian ada yang belum mengerti bahkan sama sekali tidak tahu apa itu Karapan Sapi. Walaupun warga asli Indonesia, belum tentu semua warganya mengenal semua budaya yang ada di Indonesia. Untuk itu dalam artikel ini akan saya kenalkan dan jabarkan tentang salah satu budaya khas Indonesia dari Madura, yaitu Karapan Sapi.
Dari berbagai sumber yang menyebutkan, sejarah atau asal-usul Karapan Sapi itu sendiri sudah dikenal warga Madura sejak abad ke-13. Ketika itu Karapan Sapi pertama kali dipopulerkan oleh Pangeran Katandur dari Pulau Sapudi, Sumenep. Gagasan positif beliau tentang pengolahan sawah menggunakan hewan sapi menuai banyak pujian dari rakyatnya. Tanah yang tadinya gersang bisa menjadi subur berkat bantuan sapi. Hasil panenpun berlimpah dan pulau Sapudi menjadi pulau yang sangat subur. Tak berapa lama setelah rakyatnya menikmati hasil panen yang melimpah, Pangeran Katandur membuat sebuah perlombaan berupa balapan sapi yang diadakan di areal sawah hasil panen. Rakyatpun sangat gembira dalam mengikuti perlombaan itu. Dari situlah setiap masa panen tiba, selalu diadakan Karapan Sapi. Nah dari situlah mulai dikenal budaya Karapan Sapi hingga sekarang ini.
Karapan Sapi menggunakan dua ekor sapi dimana bagian pundak dan bahu sapi dipasang sebuah kereta dari kayu sebagai tempat joki untuk berdiri serta untuk mengatur sepasang sapi tersebut dalam hal arah dan kecepatan. Untuk mengawali sebuah perlombaan Karapan Sapi biasanya diiringi oleh Saronen, yaitu musik gamelan khas Pulau Madura. Joki-joki Karapan Sapi pun biasanya menggunakan pakaian adat mereka, yang disebut "Pesa'an". Pesa'an sendiri adalah pakaian yang bewarna hitam, baik baju maupun celana dan di bagian dalam bajunya terdapat kaos yang bewarna belang merah dan putih. Dalam perlombaan Karapan Sapi, dibagi dalam beberapa babak. Babak pertama adalah penyelisihan dari kelompok yang menang dan kalah. Sedangkan babak kedua mempertandingkan kelompok yang kalah. Dan babak ketiga mempertandingkan kelompok yang menang. Kelompok yang menang, akan mendapat Piala Presiden secara bergilir.

Karapan Sapi pun beragam macamnya, yaitu Kerap Keni (Karapan Kecil), Kerap Raja (Karapan Besar), Kerap Onjhangan (Karapan Undangan), Kerap Karesidenan dan Kerap Jhar-Jharan (Karapan Latihan).

1. Kerap Keni (karapan kecil)
Karapan sapi ini hanya diikuti oleh orang satu kecamatan saja. Lintasan balapnya sepanjang 110 meter. Dan lucunya hanya sapi-sapi kecil yang boleh diikutkan. Jika menang dalam karapan sapi jenis ini, maka nantinya akan masuk ke karapan sapi yang lebih tinggi lagi tingkatnya.
2. Kerap Raja (karapan besar)
Karapan sapi ini biasanya diadakan di ibukota kabupaten setiap hari Minggu. Lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara kerap keni.
3. Kerap Onjangan (karapan undangan)
Karapan sapi ini hanya diikuti oleh peserta yang mendapat undangan dari sebuah kabupaten. Karapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu saja.
karapan sapi
4. Kerap Karesidenen (karapan tingkat keresidenan)
Karapan Sapi ini diikuti oleh pemenang dari masing-masing kabupaten di kota Madura. Karapan sapi ini diadakan tiap hari minggu karena merupakan puncak dari musim karapan.
5. Kerap jar-jaran (karapan latihan)
Karapan Sapi yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum mengikuti sebuah perlombaan.

Setelah Anda membaca mengenai macam-macam karapan sapi diatas, tentu Anda bertanya-tanya, pihak-pihak mana saja sih yang terlibat dalam Karapan Sapi tersebut. Berikut merupakan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam perlombaan Karapan Sapi:
  • Tukang tongko yaitu orang yang bertugas mengendalikan sapi pacuan di atas kaleles
  • Tukang tambeng yaitu orang yang bertugas menahan tali kekang sapi sebelum dilepas 
  • Tukang gettak yaitu orang yang bertugas menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba dapat melesat dengan cepat
  • Tukang tonja yaitu orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi
  • Tukang gubra yaitu orang yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapi pacuan
Karapan Sapi selain sebagai tradisi budaya, juga bisa dijadikan sebagai pesta rakyat yang dilaksanakan setelah masa panen tiba. Masyarakat Madura juga sangat diuntungkan sekali dengan adanya Karapan Sapi. Diantaranya, mereka diberikan kesempatan untuk membuka usaha di area perlombaan Karapan Sapi. Mulai dari menjual pernak-pernik khas Madura, makanan khas Madura, pakaian khas Madura, kerajinan khas Madura dan sebagainya. Kita sebagai warga Indonesia harusnya bangga mempunyai budaya seperti Karapan Sapi yang ada di Madura. Perlu kita ketahui bersama, Budaya Karapan Sapi ini sendiri sekarang sudah banyak dikenal bukan hanya oleh warga lokal saja, akan tetapi warga asing yang datang ke Indonesia, khususnya ke Pulau Madura, yang tertarik untuk menonton secara langsung budaya Karapan Sapi tersebut.

Setidaknya dengan Anda membaca artikel ini, Anda bisa lebih mengenal tentang budaya khas dari Pulau Madura, yaitu Karapan Sapi. Walaupun belum pernah melihat secara langsung, Anda pun juga bisa melihatnya lewat media-media online, layaknya youtube atapun yang lainnya. Yang jelas kita harus patut bangga menjadi orang Indonesia. Tak perlu minder ataupun malu, Lestarikan Budaya Asli Indonesia!



RIANTUN PARIKAN DAN PANTUN





Java rhymes.
  
Parikan Linkungan lan Kesehatan

    1.    Tuku klambi menyang kuto cepu
        Budhale ayo numpak  montor
            Aku iki bocah sregep nyapu
                  Ben latarku katone ora kotor

2.    Nyetel radio lagune nyenengke ati
      Penyiare  mbak  Dewi lasri

Ayo kanca pada kerja bakti
     Ben lingkungan katon endah lan asri 

3.    Nonton bal - balan menyang  Boyolali
         Sinambi nonton ayo mangan krupuk
                Ayo kanca resik - resik got iki
                       Ben ora dianggo sarang nyamuk


4.    Menyang sawah, nandur pari
      Pari mene, kanggo gawe sego
             Ayo kanca tamane pada ditanduri
                   Ben disawang seneng ning ati lego

5. Udan deres ngiyup kandang wedhus
            Ben ora kebes, kena ciprate banyu
                 Awakku ngono, sregep adus
                        Mulane awakku ora duwe panu 

6.       Lungguh wit gedahan nganggo topi
      Gedhang didol entuk bathi
          Mlaku ngidul nyang warung kopi
              Nyawang Ijone godhong ngadhemke ati

7.       Datuk  menteri  dhahar  kerang
           Kerang  didhahar,  wadhae cawan
                Ayo kanca padha jaga  terumbu  karang
                     Karang  sehat   endah disawang

8.       Pak Mardi nuthuk kenthongan
            Kentongan kayu, digawe sepisan
                       Hormati warga cinta lingkungan
                               Ben kabeh podho seger kuwarasan
          9.Susuh manuk ing dhuwur pelepah
                           Arep tak jupuk akeh ulere
                                 Isuk-isuk wis nyapu ning omah
                                          Ben podho sehat anak dulure

10.       Sapu tangan ing njero peti
                  Petine dicat nganggo sumbo ijo
                         Aku mene melu kerja bakti
                                     Awakku sehat lan anak bojo
              
            11. Tuku jamu jamune wong  jowo
                            Diombe awan enak seger rasane
                                      Aku ngunu seneng urip ing ndeso
                                             Udara resik tur ora bising swarane.
 
              12. Tangi turu ora wani adus
                             Gelem adus yen dicawisi sego bubur
                                      Wiwit  biyen aku ngingu wedhus
                                              Amargo  lingkunganku sukete subur.

            13. Cuwut cuwut kuwi jaran kore
                           Dipakani dhedhek  dening pak lurah
                                       Ibuku resik resik nganti sore
                                              Ben kalis soko demam berdarah 
  
  
Parikan Guyonan

1. Mangan roti ngletus watu
    Untu limo kari telu
    Laraning ati gawe utek buntu
    Nggremete tumo jalari sirah ngelu.

2. Urang karang ilang buntute,
    Sikil cantengen di cucuk pitik.
    Bocah lanang koyo ganteng dhewe,
    Tapi sayang ora duwe duwek.

3.  Kroso sumuk yo kipasan,
     Kipase lembaran koran.
     isih esuk kok wis facebookan.
     facebookan nyambi sarapan.

4.  kiwo tengen akeh wit-witan
     Wit witane godhonge ijo-ijo.
     Aku seneng isih kawitan
     Mbuh mene yen dadi bojo

5.  ono gurem kok pencolotan,
      pencolotan ngemut tetel.
     Howo adem penak kemulan,
     kemulan slimut sing kuandel

6  Gunung Merapi rupane biru
    dicedaki dadi ijo wit-witan cemara
    Menawi kula gadhah keliru
    nyuwun agenging samudra pangapura

7. Ore ore krasa sumuk,
    anak dhemit mangan srabi.
     budhale sore mulihe isuk,
    ngumpulke duwit gawe bandha rabi

8. nek kalibaru numpak sepur...
    mlaku2 golek panganan...
    malem minggu kakehan nglembur..
    jebule tangine lakoq karipan...

9. golek yuyu ketemu gentong
    oleh gentong dikiro nyolong
    masio ayu betise gondrong
    betise gondrong gegere bolong



Parikan Pitutur
1 .      aku  kesandung, nganti ng gLundungan,
  ngglundung ing dalan, rasane perih tenan,
  sing gelem nabung, ing bank
  dijamin telung wulan, entuk tambahan.

     2.     dolan nyang srengat, mung arepe ngopi,
  ngopi pinggir embong, karo pak supandi,
  saben malem jumat, ayo sing ati ati
  ayo ngaji, kanggo tombo ati

    3.      aku karo sanju, wingi dolanan sekak,
  Maine ping pindo, tapi kabeh remis,
  sing ora setuju, rega bensin mundak,
  Ayo melu demo, mbesuk dina kemis.

44.      ibu nggolek gedang, goleke ing tegalan,
  gedange dituku Jinal, gawe sangu dolan,
  aku saiki begadang, ngenteni bal-balan,
  sing maen arsenal, mungsuhe AC MiLan

     5.      pak salim, lagi nggawa kendang,
  Kendange ora muni, mrga durung ditabuh
  para kanca muslim, adzan wis kumadang
  padha ndang tangi, wayahe sholat subuh.

     6  dolan neng galek, arep golek kupat,
  bmbune kemangi, uga gae duduh,
  sederek sederek, uwes jam papat,
  ayo padha tangi, gek sholat subuh,

     7.      ngombe sa' sloki, sirahku wes mumet,
  Rasane jan aneh, koyok arepe pecah
  yen statusku iki, dijempol wong seket,
  Sampean kabeh, bakalan oleh hadiah

      8.       ndeLok asu, geLut karo Landak,
  asune trus mlayu, mlayu ing tegalan,
  masio enek issu, rega bensin mundak,
  tapi ing daerahku, isih panggah aman.

      9.      Aku eruh setan, setane iku sanga,
  Ambune bacin, koyok telek badak,
  wayah jumatan, ayo padha ndonga,
  Ben rega bensin, ora sido mundak.
P
       Parikan Lingkungan


         Bagi teman-teman yang ingin menambah Parikan. Silakan isikan di kolom komentar. Tak tunggu Ya..

SENIMAN AFFANDI dan KARYANYA


Affandi
 & Karyanya

Biodata Pelukis Affandi dan beberapa karyanya


Affandi lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1907. Tanggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Ayahnya yang bernama R. Koesoema adalah seorang mantri ukur pada pabrik gula di Ciledug. Affandi menempuh pendidikan terakhir AMS-B di Jakarta. Pada umur 26 tahun, tepatnya pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika.
Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerjasama saling membantu sesama pelukis.
Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai --yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur-- memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.
Sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta, Affandi aktif membuat poster-poster perjuangan untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia terhadap kaum kolonialisme Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan pelukis dan seniman lain yang tergabung dalam Seksi Kebudayaan Poetera, antara lain: S. Soedjojono, Dullah, Trubus, dan Chairil Anwar. Selanjutnya, Affandi memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta dan mendirikan perkumpulan "Seniman Masyarakat" 1945. Perkumpulan ini akhirnya menjadi "Seniman Indonesia Muda" setelah S. Soedjojono juga pindah ke Yogyakarta. Pada tahun 1947, Affandi mendirikan "Pelukis Rakyat" bersama Hendra Gunawan dan Kusnadi, untuk memberikan kesempatan belajar kepada angkatan muda yang haus mendapatkan pendidikan dan praktek seni lukis. Lalu pada tahun 1948, Affandi pindah kembali ke Jakarta dan turut mendirikan perkumpulan "Gabungan Pelukis Indonesia".
Tidak lama setelah itu, yaitu pada tahun 1949, Affandi mendapat Grant dari pemerintah India dan tinggal selama 2 tahun di India. Di sana, Affandi melakukan aktivitas melukisnya dan juga mengadakan pameran di kota-kota besar hingga tahun 1951 di India. Selanjutnya, Affandi mengadakan pameran keliling di negara-negara Eropa, diantaranya London, Amsterdam, Brussel, Paris dan Roma. Affandi juga ditunjuk oleh pemerintah Indonesia untuk mewakili Indonesia dalam pameran Internasional (Biennale Exhibition) tiga kali berturut-turut, yaitu di Brasil (1952), di Venice (Italia - 1954), dan di Sao Paulo (1956). Di Venice, Italia, Affandi berhasil memenangkan hadiah.
Berikut ini adalah perjalanan hidup Affandi secara pribadi ataupun prestasi yang pernah diraih selama Affandi memilih untuk menjadi seorang pelukis:
1957 - 1958
Mendapat beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk mempelajari metoda pendidikan seni, dan tinggal di Amerika Serikat selama 4 bulan.
Selama di Amerika, mengadakan pameran tunggal di World House Galleries, Press Club, New York, dan berpameran di San Fransisco.
1960
Pameran lukisan di Washington DC, USA.
1962
Menjadi Guru Besar Kehormatan (Visiting Professor) dalam mata kuliah ilmu seni lukis di Ohio State University Colombus, Ohio.
1967
Membuat lukisan dinding (Mural) di Jefferson Hall, East West Center Univesity, Hawaii.
1969
  • Menerima Anugrah Seni dan Medali Emas dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diangkat menjadi Anggota Kehormatan untuk seumur hidup pada Akademi di Jakarta.
  • Dipilih selama masa waktu 3 tahun menjadi ketua IAPA (International Art Plastic Association) untuk Indonesia, IAPA adalah badan International dibawah naungan UNESCO
1973
Ditunjuk oleh pemerintah untuk mewakili Indonesia dalam Biennale Exhibition di Sidney, Australia.
1974
Menerima kehormatan gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore.
1977
  • Menerima hadiah perdamaian Internasional tahun 1977, dari yayasan Dag Hammarskjoeld dan menerima gelar Grand Maestro, di gedung San Marzano, Florence, Itali.
  • Diangkat menjadi Anggota Akademi Hak-hak Asasi Manusia dari KOmite Pusat Diplomatic Academy of Peace "Pax Mundi" di Castelo San Marzano, Florence, Itali.
  • Bersama istrinya menunaikan ibadah haji.
1978
Bulan Agustus 1978 menerima penghargaan "Bintang Jasa Utama" dari Presiden Republik Indonesia atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa Indonesia dalam suatu bidang atau peristiwa tertentu.
1979
  • Mengadakan pameran bersama putrinya, Kartika, di kota Victoria, Australia
  • Tahun 1979 - 1985 mengadakan pameran keluarga di Medan, Surabaya, Jakarta, dan Bandung dengan sponsor dari P.T. B.A.T.
1984
Mewakili Indonesia untuk mengadakan pameran tunggal di Houston, Texas dalam rangka festival seni dan kerajinan tangan Indonesia di kota Houston, Texas, AS.
1985
Untuk pertama kalinya mengadakan pameran bersama tiga pelukis besar: S. Soedjojono, Affandi, R. Basuki Abdullah RA; pameran ini bertempat di Galeri Pasar Seni Jaya Ancol Jakarta. Pameran bertiga ini diberi nama "Pameran Besar Tiga Warna Seni Lukis Indonesia."
1986
Diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan pameran bersama di Galeri Pasar Seni Jaya Ancol, Jakarta bersama Kartika, Nashar, S. Sulebar, dan Nunung S.
1987
Dalam rangka ulang tahun ke-80, dilangsungkan Pameran Retrospektif lukisan Affandi di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, yang diselenggarakan oleh Dirjen Depdikbud. Pameran keluarga bersama Maryati dan Kartika di Hotel Panghegar, Bandung.
1988
Pameran Keluaga di Surabaya Post, Surabaya.
1989
  • Pameran keluarga di Museum Denpasar, Bali.
  • Pameran kelaurga di Galery Lama Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Tanggal 23 Mei 1990 pada pukul 16.30 WIB, Affandi menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya sendiri dan dimakamkan di kompleks Museum Affandi, Jalan Solo No. 167 Yogyakarta.

Lukisan Karya Affandi

Karya Lukisan sang Maestro Afandi yang berjudul "Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan" merupakan salah satu karya langka dan istimewa dari Afandi, diantara Karya-karya istimewa lainya, namun Lukisan ini memiliki nilai falsafah hidup yang dalam, dimana setiap individu Manusia yang ada di Dunia ini terlahir sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lainya seperti Malaikat, Jin, Hewan, Dll. Dimana kesempurnaan Manusia itu sendiri adalah terwujud karena adanya kelemahan terbesar yang dimiliki Manusia yaitu hawa nafsu yang cenderung berbuat untuk mengingkari kodrat sebagai makhluk yang sempurna, dan seringkali hawa nafsu digoda oleh berbagai bisikan-bisikan setan yang menyesatkan. Disini perwujudan dari bisikan-bisikan setan itu dilukiskan Afandi seperti sesosok Topeng-topeng yang berperan sebagai tokoh kejahatan dalam cerita-cerita Jawa. Dan Topeng itu sendiri cenderung bukan wajah asli dari diri Manusia itu sendiri, dia adalah perwujudan dari bisikan-bisikan jahat yang menutupi hati dari kebenaran, sehingga membentuk karakter dalam tingkah laku dalam kehidupan nyata, kecuali mereka Manusia-manusia yang kuat, sabar, tegar dan selalu mendapat petunjuk dari Tuhan, yang bisa mengendalikan nafsu dengan baik dan benar dari Godaaan bisikan Topeng-topeng kehidupan, sehingga Nafsu menjadi kendaraanya menuju kesempurnaan. Potret diri Afandi yang dikelilingi Topeng-topeng kehidupan merupakan gambaran dari bagian kehidupanya sebagai manusia yang selalu dikelilingi dengan pilihan manis dan pilihan pahit. Lukisan ini pernah menjadi incaran para Kolektor dan para pecinta Lukisan, tapi karena dari Pemiliknya yang pada waktu itu tidak pernah berniat menjual Lukisan ini, maka berapapun harga yang ditawarkan tidak pernah dilepas atau dijual. Namun sekarang Pemilik Lukisan berniat menjualnya, dan merupakan sebuah kesempatan langka bagi anda untuk segera memboyong Koleksi Lukisan Istimewa ini kedalam singgasana anda sebelum terlambat.

Pelukis : Afandi Tahun: 1961 Judul : " Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan " Ukuran : 110cm X 135cm Media : Oil on Canvas
Kemegahan Lukisan berjudul “Barong” terlihat begitu unik dan indah dari ekspresi goresan serta kombinasi warna tingkat tinggi. Kemegahan Lukisan ini menjadi sempurna dengan kombinasi ukuran Lukisan yang dibuat cukup besar oleh sang Pelukis Maestro Afandi.
Kecintaan Afandi pada seni dan Budaya telah menginspirasi Beliau untuk menciptakan karya-karya Lukisan spektakuler bertema Budaya, salah satunya seperi yang tertuang pada Lukisan Barong ini, karena kecintaanya pada Tokoh Barong dalam cerita rakyat Bali, Beliau melukiskanya dalam beberapa Lukisan dengan tema yang sama, dan salah satunya adalah Lukisan Barong berukuran besar ini.
Merupakan sebuah pencapaian kesempurnan tingkat tinggi dalam berkarya seni, yang dicapai oleh seorang Pelukis Maestro Afandi, yang terwujud dalam setiap karya-karyanya yang unik dan mengagumkan. Sehingga menjadikan kepuasan dan kebanggaan yang tak ternilai bagi para pecinta/ Kolektor Lukisan karya para Pelukis Maestro, khususnya Lukisan Afandi.
Pelukis : Afandi Tahun: 1982 Judul : " Barong I " Ukuran : 150cm X 200cm Media : Oil on Canvas Harga
Pelukis: Affandi Tahun: 1965 Judul : " Kwan Khong " Ukuran : 100cm X 150cm Media : Oil on Canvas
Kecintaan Afandi pada nilai-nilai kultural tertuang dalam setiap Karya Lukisan beliau yang mengagumkan, salah satunya adalah Lukisan yang berjudul "Barong dan Leak".
Sebagai seorang Seniman Lukis yang memiliki daya ingat tinggi, beliau melukiskan suasana saat upacara adat Bali yang mengandung nilai kultural dan historis yang tinggi.

Tokoh-tokoh cerita seperti Barong dan Leak menjadi obyek sentral dalam Lukisan ini dengan suasana keramaian tokoh-tokoh pendukung lain. Suasana upacara adat Bali ini telah meginspirasi Afandi untuk membuat sebuah karya Lukisan yang mengagumkan, yang terlihat sempurna dalam setiap goresan, kombinasi warna dan penggambaran suasana yang unik.

Pelukis : Afandi Judul : " Barong dan Leak "
Ukuran : 150cm X 200cm Media : Oil on Canvas
" Borobudur Pagi hari " merupakan salah satu karya sang Pelukis maestro Afandi yang terinspirasi oleh kemegahan Candi Borobudur dan lingkungan sekitar pada masa itu, saat Afandi melintas dan memperhatikan Borobudur di pagi hari. Obyek matahari selalu menarik perhatian Afandi di beberapa karya beliau sebagai fokus pendukung utama. Warna-warna dingin dan tenang mendominasi Lukisan ini karena melukiskan suasana pagi hari yang cerah. Di tema Lukisan " Borobudur Pagi Hari " ini Afandi lebih menonjolkan obyek alam sebagai latar belakang (Background ), berbeda dengan tema " Borobudur Sore Hari " yang menggabungkan suasana alam dan aktifitas Masyarakat.
Pelukis: Affandi Tahun: 1983 Judul : " Borobudur Pagi Hari " Ukuran : 150cm X 200cm Media : Oil on Canvas Pelukis: Affandi Tahun: 1977 Judul : " Sapi " Ukuran : 100cm X 120cm Media : Oil on Canvas
Salah satu Lukisan mengagumkan karya Sang Maestro Afandi yang berjudul "Para Pejuang", melukiskan semangat para Pemuda Indonesia dalam memperjuangkan Kemerdekaan, dengan mengorbankan jiwa dan raganya untuk Ibu pertiwi tercinta. Lukisan ini memiliki nilai dan makna historis yang tinggi, dimana karya ini terinspirasi dari semangat baja para Pejuang.
Warna-warna berani yang spontanitas, serta keunikan goresan ekspresi pelototan cat langsung dari tubenya, menjadi satu sebuah kombinasi sempurna dalam karya Lukisan bernilai seni tinggi mengagumkan dari sang Pelukis Maestro Ternama.
Akan menjadi Koleksi kebanggaan tak ternilai bagi siapapun yang mengkoleksi Karya Lukisan hebat ini.
Pelukis : Afandi Tahun: 1972 Judul : " Para Pejuang " Ukuran : 100cm X 135cm Media : Oil on Canvas

Berikut merupakan Lukisan langka dan unik bertema “Orang-orang Sedang Minum minuman Tuak / arak ”, merupakan salah satu karya sang Pelukis Maestro Afandi. Keunikan nampak pada nilai seni tradisional dari sisi tema, dilukiskan oleh Afandi dalam bentuk ekspresi yang menyentuh hati dari setiap penikmat Lukisan yang memandangnya.
Sosok kesederhanaan Tempoe Doeloe dari setiap orang dalam Lukisan ini yang sedang minum nikmatnya air tuak atau arak. Harmoni warna-warna Natural yang indah begitu menyatu dengan tema dan obyek Lukisan.
Setiap Lukisan karya Afandi memiliki keunikan tersendiri dan setiap Lukisan karya Afandi adalah mengagumkan, sehingga tak heran Lukisan Beliau banyak diburu para pecinta Lukisan dalam dan Luar Negeri.
Pelukis : Afandi Tahun: 1977 Judul : " Minum Tuak " Ukuran : 95cm X 135cm Media : Oil on Canvas
Detail Tanda Tangan Pelukis Pelukis: Affandi Tahun: 1977 Judul : " Bunga Matahari " Ukuran : 90cm X 140cm Media : Oil on Canvas
"Ibu dan Anak menampi beras" merupakan tema yang menarik dan unik dari salah satu karya sang Maestro Afandi, yang menggambarkan kehidupan tradisional tempo Doeloe. Ikatan batin dan kasih sayang antara Ibu dan Anak menginspirasi Afandi, dalam nuansa kesederhanaan yang mengandung makna ketulusan dan kedamaian. Aksi spontanitas goresan cat bertekstur langsung dari tube yang spektakuler, tidak bisa ditemukan pada pelukis-pelukis Maestro lain, merupakan ciri khas tertinggi dari kartya-karya Lukisan Anfandi. 
 
Pelukis: Affandi Tahun: 1971 Judul : " Ibu dan Anak Menampi Beras " Ukuran : 90cm X 120cm Media : Oil on Canvas

" Borobudur Sore Hari" merupakan sebuah karya Lukisan yang dibuat sang Pelukis Maestro Afandi, beliau terinspirasi membuat beberapa Lukisan dengan tema Candi Borobudur tapi dengan ekspresi suasana yang berbeda-beda. Di Karya Lukisan ini Afandi mengangkat tema " Borobudur Sore Hari " yang melukiskan Candi Borobudur dengan suasana alam dan aktifitas Manusia saat sore hari. Permainan warna-warna terang, hangat dan gelap, mengilustrasikan suasana alam dan kehidupan yang mulai menuju keheningan malam. Aktifitas Manusia yang menjadi obyek pendukung merupakan penggambaran dari suasana kehidupan masyarakat pada masa itu ( saat Afandi terinspirasi membuat karya Lukisan " Borobudur Sore Hari " ). 
 
Pelukis: Affandi Tahun: 1983 Judul : " Borobudur Sore Hari " Ukuran : 98cm X 130cm Media : Oil on Canvas

Tema Lukisan sang Maestro Afandi ini "Kumpulan Ikan" yang mengekspresikan dan mengilustrasikan sebuah kebersamaan atau dalam Bahasa Jawa "Gotong Royong", dimana dengan kebersamaan itu bisa meringankan beban, meringankan kesulitan, bisa saling berbagi dan tolong menolong. Dengan kebersamaan segala kesulitan dalam kehidupan bisa menjadi mudah, dan dengan kebersamaan segala sesuatu menjadi lebih indah. Kombinasi warna yang harmoni dan ekspresi spontanitas goresan cat bertekstur ala Afandi yang khas, Menjadikan setiap Lukisan karya Afandi bernilai seni tinggi dan penuh makna mendalam.
Pelukis: Affandi Tahun: 1965 Judul : " Kumpulan Ikan " Ukuran : 120cm X 180cm Media : Oil on Canvas
Lukisan Rangkaian Bunga Amarilis karya sang Maestro Afandi, yang dilukis dalam bentuk dan karakter yang unik nan sempurna, dan menampilkan nuansa beda dari sebuah karya seni tinggi. Bagi anda yang cinta akan ketenangan, kedamaian dan romansa cinta. Lukisan Sang Maestro ini sangat istimewa untuk anda jadikan Koleksi kebanggaan.

Pelukis: Affandi
Tahun: 1979 Judul : " Bunga Amarilis " Ukuran : 100cm X 150cm Media : Oil on Canvas
Lukisan Karya Sang Maestro Afandi ini merupakan Lukisan Potret Diri saat sedang merokok dengan Pipa rokok ( Cangklong ). Lukisan Potret Diri ini dilukis langsung oleh Afandi sendiri dengan model dirinya sendiri dengan bercermin pada kaca rias (kaca cermin), disini terlihat dari raut wajahnya seolah Afandi sedang mengalami suatu problema yang belum terpecahkan, sehingga Lukisan pada bagian dahinya diekspresikan dengan pengunaan warna cat merah, yang memberkan sinyal bahwa beliau sedang berfikir keras dengan ekspresi wajah serius. Lukisan ini merupakan karya Lukisan langsung Potret Diri sang Maestro Afandi yang sangat langka. Merupakan sebuah Koleksi yang sangat berharga untuk anda yang mengidolakan akan sosok potret diri seorang Pelukis Maestro, yang setiap karya-karya Lukisanya memiliki jiwa dan makna yang dalam, dengan nilai seni yang tinggi.
Detail Tanda Tangan Pelukis
Pelukis: Affandi Tahun: 1975 Judul : " Cangklong " Ukuran : 90cm X 120cm Media : Oil on Canvas

Lukisan Sang Maestro Afandi bertema "Pohon Aren" merupakan salah satu obyek yang dipilih Afandi untuk mewakili ekspresi imajinasi dan rasa dalam jiwanya, dari spontanitas setiap goresan ekspresif, melukiskan obyek pohon Aren yang melambangkan dari jenis pohon yang memiliki banyak manfaat, terutama bisa menghasilkan rasa manis dan bisa bermanfaat bagi kehidupan. Dimana rasa manis sendiri memiliki dua makna, makna secara Logika (Nyata) dan makna secara Harfiah (Jiwa).
Itu sebabnya Lukisan bertema "Pohon Aren" menjadi salah satu obyek favorit bagi sang Maestro Afandi, sehingga Beliau membuat beberapa karya Lukisan dengan obyek Pohon Aren yang memiliki keunikan senidiri-sendiri, salah satunya Lukisan Pohon Aren ini.
Pelukis: Affandi Tahun: 1987 Judul : " Pohon Aren " Ukuran : 90cm X 120cm Media : Oil on Canvas
Lukisan ini merupakan salah satu karya Afandi dengan tema Ayam Petarung berbulu warna Putih yang dijadikan sebagai fokus utama, dengan dikelilingi orang-orang yang tampak pengambilan obyek dari kaki. Ayam ini seolah merupakan Ayam Jantan Petarung ( Jago ) yang menjadi idola dan kebanggaan, dan selalu menjadi juaran disetiap aduan. Tema ini diambil oleh sang Maestro Afandi dari inspirasi kahidupan masyarakat pedesaan Jawa. dimana pada waktu itu adu ayam ( sambung ayam ) merupakan bagian dari hobi dan hiburan. Akan tetapi seiring berjalanya watu, kegiatan ini telah dilarang karena seringkali dijadikan sebagai ajang perjudian. Keunikan dari setiap pelototan cat yang terbentuk langsung dari ekspresi jiwa seorang Pelukis Maestro dengan kombinasi warna yang sempurna, menjadikan karya Lukisan ini istimewa. Dan merupakan sebuah Koleksi berharga dengan niai seni tinggi untuk anda miliki.
Pelukis: Affandi Tahun: 1972 Judul : " Ayam Petarung " Ukuran : 110cm X 130cm Media : Oil on Canvas
Pelukis: Affandi Judul : " Pengemis Berkaki Buntung " Ukuran : 61cm X 103cm Media : Oil on Canvas